
Senja berlari sekuat tenaga meninggalkan kafe tempatnya makan tadi bersama Rajendra setelah mendengar apa yang dikatakan tetangganya jika rumahnya sedang dihancurkan oleh anak buah orang yang meminjamkan uangnya pada Senja.
Senja sangat takut karena rumah itu satu-satunya harta benda yang ia miliki saat ini.
Tuhan, aku mohon selamatkan rumahku ...
Senja berdoa dalam hatinya kalau ia tidak terlambat datang kesana. Akan tetapi, sesampainya dirumah ia malah bingung tatkala melihat keadaan rumahnya baik-baik saja. Masih jelek seperti biasa tanpa berubah sedikitpun.
"Kenapa berhenti?" tanya Rajendra dengan dahi berkerut, entahlah kenapa ia malah mengikuti Senja kerumahnya, padahal itu sama sekali bukan urusannya.
"Eh?" Senja tersentak saat mendengar suara berat Rajendra, ia tidak menyangka jika pria itu akan mengikutinya kesana.
"Kenapa kau berhenti? Kata temanmu tadi rumahmu sedang dihancurkan, ayo kita kesana," kata Rajendra seadanya.
"Ini rumahku," sahut Senja menunjuk bangun semi permanen yang ada didepannya itu.
"Rumahmu? Lalu, apa maksud ucapan orang tadi?" Rajendra menekuk wajahnya sehingga kedua alisnya bersatu, pertanda pria itu mulai kesal.
"Aku juga tidak tahu, sepertinya dia sedang mengerjaiku saja, sungguh mengesalkan," cetus Senja tak kalah geramnya, ia sudah ketar-ketir tahunya malah di prank.
"Jadi dia berbohong?" Tatapan Rajendra berubah tajam seketika, ia pun kesal tentunya karena dibohongi seperti ini.
"Sepertinya iya, memang kurang ajar sekali dia. Awas saja nanti, aku akan membalasnya," gerutu Senja benar-benar geram, ia ingin sekali menghampiri tetangganya itu dan membuat perhitungan.
"Mau kemana kau?" Rajendra menahan tangan Senja saat wanita itu akan pergi.
"Kemana lagi? Aku harus mencari orang kurang ajar itu," sembur Senja dengan wajah cukup emosional.
Senja segera berbalik pergi ingin segera menemui tetangganya tadi. Akan tetapi tiba-tiba saja muncul beberapa orang preman yang langsung menghadang langkah Senja.
"Selamat malam Nona manis, kita bertemu lagi," ujar preman itu menyeringai licik.
Senja tentu sangat kaget, ia melirik Rajendra yang juga kaget tapi hanya diam saja. Ternyata mereka hanya dijebak oleh para preman itu.
"Untuk apalagi kalian kesini? Pergilah, aku akan menemui bos kalian besok," kata Senja.
"Hahaha, sayangnya kami sudah tidak punya cukup waktu untuk menunggu besok," ujar preman itu seraya memberikan gestur kepada anak buahnya untuk menangkap Senja.
__ADS_1
Dua orang langsung menghampiri Senja dan menangkap wanita itu dengan mudah. Rajendra yang melihat hal itu tentu segera bertindak.
Namun, sebelum ia bergerak tiba-tiba saja tengkuknya dipukul dengan sangat keras dari belakang oleh seseorang yang membuatnya tumbang seketika.
"Hei, kau apakan dia?!" Senja berteriak kaget melihat Rajendra yang kehilangan kesadarannya itu, ketakutan seketika langsung menyergap dirinya.
"Kau terlalu banyak bicara, tutup mulutnya!" titah ketua preman itu.
"Jangan coba-coba!" teriak Senja mencoba berontak.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan? Dasar wanita sombong!" Para preman itu langsung menyuntikkan sesuatu ketubuh Senja hingga wanita itu perlahan kehilangan kesadarannya.
"Hahaha, akhirnya wanita itu diam juga. Berikan juga pada pria itu, setelah itu cepat bawa mereka masuk kedalam rumah, aku akan menghubungi bos dulu."
Ketua dari geng preman itu tersenyum puas karena berhasil melumpuhkan Senja dan Rajendra, sekarang ia tinggal menghubungi bosnya untuk menjalankan rencana selanjutnya.
______
Senja terbangun saat mersakan sinar matahari begitu menyilaukan, ia memegang kepalanya yang sangat pusing sekali. Ia lalu membuka matanya yang terasa begitu lengket. Dengan pandangan yang masih buram, Senja mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Dikamar?
Saat Senja sibuk berpikir ia baru menyadari jika saat ini ada sebuah tangan besar yang melingkari tubuhnya dengan begitu posesif. Senja tentu sangat terkejut, ia segera menoleh dan semakin terkejut saat melihat wajah Rajendra.
"Akhhhhhhh!" Senja reflek berteriak keras melihat hal itu, ia segera menjauhkan dirinya dari Rajendra.
Bersamaan dengan itu, selimut yang menyelimuti tubuhnya melorot hingga ia tubuhnya yang polos seperti bayi terpampang.
"Akhhhhhhh!" Untuk kedua kalinya Senja berteriak keras karena sangat terkejut melihat apa yang terjadi.
What happened? What Happened?
Senja mencoba merangkai kejadian semalam, dan ia baru ingat jika semalam ia didatangi oleh preman penagih hutang itu, lalu ia sudah tidak ingat apapun lagi.
"Tidak mungkin 'kan kalau kita ..." Senja menekuk dirinya sendiri, merasa bingung bercampur takut.
"Arghhhhhhhh ..." Rajendra pun ikut terbangun saat mendengar suara teriakan Senja. Ia membuka matanya dan kepalanya pun terasa sangat pusing.
__ADS_1
Sama halnya dengan Senja, pria itu juga sangat kaget saat sadar dengan kondisi mereka yang sama-sama tidak menggunakan sehelai benang pun.
"Kenapa kau ada disini? Apa yang terjadi?" bentak Rajendra begitu marah, ia menatap nyalang pada sosok Senja yang tampak linglung.
"Aku tidak tahu, saat aku bangun, aku-"
Senja belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi tiba-tiba terdengar suara yang begitu gaduh dari depan rumahnya.
"Senja! Senja! Keluar kau!"
DAK DAK DAK DAK
Senja dan Rajendra saling pandang, mereka tentu kaget mendengar suara itu, apalagi saat ini kondisi keduanya sedang tidak menguntungkan, siapapun yang melihat mereka seperti itu pasti akan salah paham.
"Sial! Siapa mereka?" umpat Rajendra menggaruk kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sangat pusing.
"Aku tidak tahu." Senja menggeleng lemah, ia sungguh takut sekali mendengar suara teriakan dari luar rumahnya itu.
"Senja! Cepat keluar, jangan berbuat mesum disini!"
DAK DAK DAK DAK
Suara teriakan-teriakan itu kian terdengar disusul suara gedoran pintu yang begitu tak sabar. Rajendra buru-buru turun dari ranjang untuk memakai bajunya yang tergeletak entah kemana saja, ia sangat yakin ada yang sengaja menjebak mereka.
"Cepat pakai bajumu brengsek! Kau ingin warga itu melihat kita seperti ini?"
Karena sangking panik dan emosinya, Rajendra sampai membentak Senja dengan keras karena wanita itu hanya diam saja.
Senja tersentak, ia baru sadar dari lamunannya dan mengikuti apa yang dilakukan Rajendra. Ia membuang pandangannya saat tidak sengaja melihat Rajendra bertelanjang dada, hanya menggunakan boxer hitamnya.
Dengan memegangi selimut yang membalut tubuh polosnya, Senja mencoba memakai bajunya kembali.
Namun, semua warga itu ternyata sudah lebih dulu masuk kedalam rumah dan mendobrak kamar Senja.
"Nah, ini nih yang tukang berbuat mesum. Mau kemana kalian ha!"
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.