
Rajendra mencari Senja tanpa kenal lelah, berulang kali ia menghubungi anak buahnya untuk menemukan Senja. Tapi sampai malam sudah sangat larut, tidak sedikitpun Rajendra menemukan tanda-tanda keberadaan Senja. Wanita itu bagai lenyap ditelan bumi hingga jejaknya pun tidak ia temui.
"Arghhhhhhhh brengsek! Senja, dimana kau!" Rajendra berteriak sekeras-kerasnya untuk meluapkan kekesalan dan kekalutan dalam hatinya.
Malam itu sangat dingin sekali karena baru saja turun hujan. Tapi Rajendra mengabaikan itu semua dengan berdiri didekat jembatan karena begitu lelah. Rajendra marah karena Senja pergi, tapi hatinya begitu khawatir terhadap wanita itu.
"Senja, dimana kau? Apakah kau sudah makan?" lirih Rajendra dengan perasaan yang begitu kalut, teringat akan kondisi Senja yang masih lemah.
"Kenapa kau harus pergi? Apa seburuk itu aku dimatamu? Senja, kembalilah," ucap Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar.
Disaat seperti ini Rajendra baru sadar, mungkin sikapnya memang sangat keterlaluan hingga Senja memutuskan untuk pergi. Lagipula apa yang sebenarnya ia pikirkan? Bukankah sejak awal semuanya sudah jelas jika ia dan Senja memang dua orang yang tidak bisa bersama. Kenapa sekarang ia seolah tidak rela jika wanita itu pergi?
"Arghhhhhhhh!!!" Rajendra kembali berteriak keras, berharap bisa melegakan hatinya yang sangat kalut itu.
Puas meluapkan sesuatu yang menyesakkan didalam hatinya, Rajendra memutuskan untuk menghubungi Faris lagi, untuk bertanya apakah pria itu sudah menemukan Senja atau belum?
"Bagaimana Faris? Apa kau sudah menemukan Senja?" tanya Rajendra.
"Belum Tuan, anak buah kita juga cukup susah menemukan Nona dikota ini. Apa mungkin Nona pergi dari kota ini?" ujar Faris diseberang sana.
"Tidak, itu tidak mungkin. Aku yakin Senja masih ada disini. Bekerjalah lebih keras, jika malam ini Senja tidak bertemu, jangan coba-coba untuk kembali," perintah Rajendra diiringi ancamannya yang begitu mengerikan.
Rajendra langsung memutuskan panggilan itu setelah menjelaskan semuanya. Ia lalu pergi untuk mencari Senja kembali. Meskipun sejak pagi ia belum makan, ia tidak mempedulikannya. Saat ini diotaknya hanya ada Senja, Senja, dan Senja, sudah itu saja.
Banyak sekali ketakutan didalam otak Rajendra, ia ingat jika dulu Senja pernah dilecehkan oleh Dani saat didesanya. Bagaimana jika sekarang wanita itu akan mengambil hal yang sama.
"Senja, dimana kau ..." lirih Rajendra seraya memandang sisi jalanan dengan tatapan tajamnya, berharap bisa menemukan Senja disana.
Namun, sampai malam berganti pagi, Rajendra nyatanya tidak bisa menemukan wanita itu dimana-mana. Faris dan anak buah yang dikerahkannya tak luput dari amukan Rajendra karena menganggap mereka semua tidak becus.
__ADS_1
"Brengsek! Berapa kali aku katakan? Jangan coba-coba kembali sebelum kalian menemukan Senja! Arghhhhhhhh!" Rajendra mengamuk seraya menendang salah satu anak buahnya membuat yang lainnya semakin ketakutan.
Sangat jarang Rajendra itu marah, tapi sekalinya marah begitu menyeramkan.
"Tuan, kami sudah mencari Nona diseluruh kota ini. Tapi kami benar-benar tidak menemukannya," ujar salah satu anak buah Rajendra.
"Kau pikir aku perduli ha?" Rajendra justru semakin marah, ia merangsek maju dan langsung mencekal kerah baju pria itu. "Kau mendengarku tidak? Aku tidak mau tahu, apapun caranya, kalian harus menemukan Senja atau kalian akan tahu rasanya mati dengan cara menyakitkan, cepat pergi darisini!" hardik Rajendra sudah terlalu murka, ia memukul anak buahnya itu hingga terhuyung kebelakang.
"Rajendra, oh shitt! Kau ingin menghabisi anak buah kita?" Faris memekik kaget karena sikap sembrono Rajendra itu.
"Aku tidak perduli. Kau juga sebaiknya enyah dari hadapanku Faris," kata Rajendra dengan segala emosinya.
"Aku akan pergi, tapi kau harus mendengarkan aku dulu," kata Faris mencoba memberitahu Rajendra tentang Ayahnya.
"Pergi," titah Rajendra dengan aura dingin yang mengancam.
"Rajendra, ini tentang-"
Rajendra yang sudah begitu marah menghardik dengan suaranya yang sangat keras. Ia bahkan tidak segan melemparkan sebuah pajangan kepada Faris. Untung saja pria itu segera menghindar, kalau tidak dia pasti bisa tamat. Rajendra jika marah benar-benar menyeramkan.
Semua anak buah Rajendra langsung lari terbirit-birit setelah mendapatkan hadiah kejutan dari Tuannya. Kini hanya tinggal Rajendra yang berdiri dengan tangan yang mengepal erat.
"Kita lihat, sejauh mana kau bisa pergi dariku, Senja." Rajendra mendesis pelan saat mengingat wajah polos Senja.
Satu-satunya wanita yang terang-terangan melawannya dan dengan berani menolak dirinya. Apa yang ia tidak punya? Bahkan Kalea saja masih begitu mengharapkannya. Tapi Senja?
"Wanita itu benar-benar keterlaluan, apa dia pikir aku akan menyesal setelah dia pergi? Jangan harap itu terjadi, cih." Rajendra berdecak kesal.
Rajendra lalu mengambil rokoknya, menyulutnya seraya mencoba untuk melupakan Senja dan tidak memikirkan wanita itu lagi. Lagipula sebenarnya ini lebih bagus, ia tidak perlu repot mengurus wanita itu dan memikirkan tanggung jawab.
__ADS_1
Seharusnya memang seperti itu. Tapi sialnya baru saja ia menikmati rokoknya, ia langsung menggerusnya ke asbak lalu berdiri dengan gerakan kasar.
"Sial!" umpat Rajendra kesal sendiri, nyatanya terlalu tidak bisa untuk tidak memikirkan wanita dengan senyuman manis itu.
_______
Baiklah, ini adalah hari ke tujuh Senja pergi tanpa kabar apapun. Rajendra sudah mencari wanita itu kemana-mana, bahkan ia mengerahkan anak buahnya untuk pergi ke kota Nevardan, tapi Senja pun tidak ada disana.
Rasa khawatir Rajendra berubah menjadi amarah yang ingin sekali ia lampiaskan. Semua orang yang ada didekatnya tidak luput dari sasaran amukan Rajendra. Bahkan ia tidak segan memecat karyawan kantornya yang membuat kesalahan meski itu ketidaksengajaan. Semuanya benar-benar kacau sekali.
"Orang-orang itu memang tidak berguna. Mencari satu orang wanita saja tidak becus, apa yang sebenarnya kalian lakukan!" Rajendra membanting apa saja yang ada dihadapannya setelah mendapatkan laporan dan Faris jika belum ada titik terang sedikitpun.
"Maaf Tuan, kami sudah-"
"Tutup mulutmu Faris, jika kau memang tidak sanggup, lebih baik kau kemasi saja barang-barangmu dan enyah dari hadapanku sekarang juga!" bentak Rajendra menatap nyalang pada asisten sekaligus sahabatnya itu.
Faris menghela nafas panjang, mungkin kalau Rajendra itu bukan teman sekaligus atasannya, ia akan mengumpat kata kasar didepan pria itu. Semua yang dilakukannya memang serba salah sepertinya.
"Hah, tidak ada gunanya memang berbicara denganmu. Aku hanya ingin memberitahu, nanti siang Ayahmu meminta kau pulang," kata Faris mengabaikan Rajendra yang bersungut-sungut kesal itu. Ia harus mengatakan hal penting pada Rajendra sekarang juga.
"Untuk apalagi? Bilang saja pada Ayah kalau aku sibuk," titah Rajendra malas untuk memikirkan hal yang menurutnya tidak penting.
Lagipula mana mungkin ia bisa memikirkan hal lain jika saat ini otaknya dipenuhi dengan bayangan Senja?
"Tapi Ayahmu bilang kau harus kesana hari ini. Jika kau tidak mau, dia sendiri yang akan datang," jelas Faris langsung saja.
Rajendra berdecak kesal, belum tuntas masalah satunya, sekarang bertambah lagi ia harus bertemu Ayahnya. Jika bukan ada hal yang serius, Ayahnya pasti tidak akan menyuruhnya pulang. Tapi hal serius apa?
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.