
Rajendra tidak percaya dengan apa yang didengarnya, ia melihat tangan mungil Senja yang melingkari perutnya. Perlahan ia melepaskan tangan itu lalu memutar tubuhnya agar bisa melihat bagaimana ekspresi Senja.
Senja memandang sendu pada Rajendra, ia sudah memikirkan segalanya, dan merasa apa yang dilakukannya itu cukup keterlaluan. Rajendra sudah benar-benar mencintainya dan tidak ada alasan lagi untuk menolak pria itu.
"Senja, apa yang kamu katakan? Kamu lupa dengan persyaratan itu?" lirih Rajendra, bukannya tidak senang, tapi ia takut akan melanggar persyaratan yang sudah dibuat dan Senja akan pergi meninggalkannya.
"Aku ... mencabut persyaratan itu Rajendra," ucap Senja menahan rasa malu yang sangat luar biasa, ia lalu berjalan mendekati Rajendra lalu merangkul leher pria itu. "Aku sudah mencabut persyaratan itu karena aku sudah yakin dengan cintamu," imbuh Senja masih dengan tatapan yang begitu sendu.
Senja tersenyum melihat wajah Rajendra yang sangat-sangat kaget itu, ia memegang lengan pria itu lalu menggenggam tangannya dengan lembut.
"Miliki aku Rajendra, sentuh aku sekarang ...," lirih Senja dengan suara lembut yang begitu mendayu.
Sumpah demi apapun saat ini tubuh Rajendra bergetar dan jantungnya berdetak tak karuan. Jakunnya sudah naik turun melihat wajah menggoda Senja yang memandangnya sayu itu. Sudah mendapatkan lampu hijau seperti itu, membuat Rajendra tidak memikirkan apapun lagi, ia langsung meraih tengkuk Senja lalu me lu mat bibirnya dengan panas.
Senja cukup terkejut dengan sikap Rajendra yang menurutnya terburu-buru, tapi ia menerima semuanya, mengikhlaskan dirinya dan ikut larut dalam permainan yang tercipta. Ia pun mulai membalas ciuman penuh hasrat itu meski cukup kaku.
Rajendra seperti seorang musafir yang kehausan di padang pasir. Pria itu merangsek maju sampai tubuh Senja terhimpit ke dinding. Ciumannya tak terkendali, menyedot seluruh nafas Senja hingga wanita itu hampir saja tidak bisa bernafas.
"Rajendra ...." lirih Senja dengan nafas terengah-engah.
Hanya sekejap Senja bisa berbicara, Rajendra kembali menciumnya tanpa ampun. Suara de sa hannya mulai terdengar saat Rajendra menciumi lehernya dan menjilatinya dengan penuh gairah.
"Rajendra ...." Senja mencoba untuk tetap waras disela-sela sentuhan Rajendra yang membukakan itu. Kakinya hampir saja goyah kalau saja Rajendra tidak meraih tubuhnya lalu menggendongnya dan meletakkannya perlahan-lahan ke ranjang.
Rajendra menatap lekat-lekat wajah Senja, ia tersenyum lalu mencium kening wanita itu. Lalu berganti meraih tangannya dan membawanya ke bibirnya yang basah.
__ADS_1
"Jika kamu masih belum yakin, aku tidak keberatan untuk menahannya lebih lama. Aku sangat mencintaimu," ucap Rajendra menatap Senja begitu teduh.
Senja tersenyum, ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Rajendra. "Tidak ada alasan yang membuat aku ragu. Aku juga sangat mencintaimu, Rajendra." Ucap Senja terdengar sangat tulus sekali.
Rajendra tersenyum, ia mencium kening Senja kembali sebelum beralih ke mata, hidung dan terakhir bibirnya yang membuatnya sangat candu. Ia tidak ingin terburu-buru meski saat ini perasaannya begitu menggebu. Ia ingin membuat Senja senyaman mungkin menerima dirinya dan membuat pengalaman Senja berbeda.
Senja tidak sedikitpun memejamkan matanya, ia ingin mengingat jelas momen yang sangat berharga itu. Dengan tangan yang saling bertaut dan bibir yang saling Melu mat mesra, menjadi saksi pergumulannya dengan Rajendra untuk pertama kalinya setelah perasaan cinta tumbuh dihati mereka.
"Aku mencintaimu."
Untaian kata cinta berbalut desa han juga tak henti mengalir dari mulut Rajendra. Pria itu begitu memuja setiap jengkal tubuh Senja dengan perlakuannya yang manis. Senja pun begitu, merasa begitu disayangi dan dicintai oleh Rajendra, tidak seperti dulu saat pertama kali mereka melakukannya. Kali ini semuanya benar-benar berbeda.
_______
Liburan panjang telah usai, setelah beberapa hari terakhir menghabiskan waktu dengan penuh cinta, Rajendra dan Senja akhirnya kembali ke Jakarta. Ada tugas yang harus dikerjakan dan sudah menjadi tanggung jawabnya selain bulan madu yang tak terlupakan itu.
Senja hanya tertawa, ia mencubit pipi Rajendra dengan gemas. "Nggak boleh gitu, kalau Ayah nyuruh pulang, itu artinya memang ada hal penting. Lagian kamu bilang mau ngajak aku jalan-jalan lagi lain kali," bujuk Senja.
"Iya, tapi aku masih pengen deket sama kamu." Rajendra menggelayuti tubuh istrinya dengan manja.
Setelah Senja menyerahkan dirinya, Rajendra merasa cintanya semakin meluap-luap pada wanita itu. Bukan semata-mata karena layanan ranjang yang diberikan, tapi Rajendra bisa merasakan bagaimana Senja juga mencintainya sangat besar. Dan Rajendra selalu berjanji ia juga harus mencintai Senja lebih besar daripada cintanya Senja padanya.
"Kita 'kan masih satu rumah, Rajendra." Senja semakin tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
"Iya sih. Yaudah kamu sini, aku masih pengen peluk," kata Rajendra mencoba mengerti, ia kembali menarik tangan Senja agar duduk dipangkuan lalu ia memeluknya layaknya boneka.
__ADS_1
"Masih belum puas? Nanti malam kita ketemu lagi loh, ini udah waktunya berangkat kerja," ujar Senja melirik jam yang menunjukkan pukul 8 pagi.
"Aku beneran males sumpah," sahut Rajendra dengan wajah malasnya.
Senja tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia lalu memegang kepala Rajendra dan mencium pipi pria itu.
"Udah, nggak males 'kan?" cibir Senja sudah hafal sekali dengan kebiasaan Rajendra ini.
Rajendra tertawa, ia menarik tengkuk Senja lalu menyesap bibirnya perlahan. "Kamu emang paling ngerti aku. Tapi harusnya kamu tahu, kalau ciuman aja nggak akan cukup," bisik Rajendra mulai nakal membuka kancing kemeja istrinya.
"Apalagi? Ini udah jam 8 loh, aku juga ada janji sama Ibu mau pergi. Ayo berangkat sekarang." Senja buru-buru bangkit, jika dikasih lampu hijau, nanti yang ada Rajendra kebablasan.
"Sebentar saja," bisik Rajendra memasang wajah sayunya yang tak akan bisa ditolak oleh Senja.
Dan seperti biasanya, Senja yang selalu kalah jika Rajendra sudah menunjukkan skillnya yang membuat Senja tidak bisa berkata-kata. Hanya bibirnya yang sesekali bersuara pelan serta tangannya yang mencengkram bahu suaminya begitu manuver memabukkan itu menyerang.
Namun, kata sebentar saja itu sepertinya tidak berpengaruh apapun. Karena Rajendra menyentuh Senja seperti biasa, panas dan menggelora hingga lupa segalanya. Pria yang sebelumnya sudah berpakaian tapi menggunakan jas dan memakai pomade segar itu masih sibuk grusak-grusuk untuk mencari nikmat dunia.
"Rajendra ... Aku capek." Senja sampai tidak bisa bertahan karena perutnya sudah kram. Rajendra benar-benar menguras habis tenaganya.
"Sebentar lagi." Rajendra berbisik dengan suaranya berat, terlihat sekali ia sedang sangat bergairah.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah saling berpelukan serta saling berciuman mesra sebagai tanda akhir dari pergumulan panas tersebut.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.