
Rajendra terbangun saat merasakan tepukan dibahunya, seorang pramugari cantik berdiri didepannya dan mengatakan jika pesawatnya sudah sampai ditempat tujuan. Rajendra mengerutkan dahinya, ia melirik kearah luar yang terlihat sudah terang itu.
"Dimana ini?" tanya Rajendra, lupa jika ia tidak menanyakan kepada Faris kemana pria itu mengirimnya pergi.
"Sekarang Anda berada di kota Nevardan," jelas pramugari itu dengan suaranya yang lugas.
Rajendra hanya mengangguk singkat, ia tidak tahu dimana daerah itu terletak karena namanya cukup aneh. Ia langsung saja mengancingkan mantelnya dan berjalan keluar pesawat.
Udara dingin langsung menembus kulit begitu Rajendra turun dari pesawat, ia menatap sekelilingnya yang masih sangat sepi, mungkin karena hari masih cukup pagi sehingga belum banyak orang yang beraktivitas.
Begitu ia turun, ia langsung disambut beberapa orang yang sudah ditugaskan Faris untuk mengantarkannya sampai ditempat tujuan.
______
Rajendra memandang wilayah yang baru didatanginya itu, terlihat sangat asri dan sejuk. Sangat jarang menjumpai udara yang begitu sejuk seperti ini di kota Jakarta, disana semuanya tampak masih terawat dan segar. Kali ini Rajendra memuji pilihan asistennya yang memilihkan tempat yang bagus untuk melarikan diri.
"Apakah masih jauh tempatnya?" tanya Rajendra.
"Sebentar lagi sampai, Tuan."
"Ada apa saja disini?" tanya Rajendra lagi, ia kembali melihat-lihat sekitarnya yang menurutnya menyejukkan mata.
"Disini semuanya lengkap Tuan, bar, kafe, tempat karaoke, tapi untuk mall tidak ada," jelas supir yang ditanyai oleh Rajendra.
Rajendra mengangguk mengerti, ternyata fasilitas disana juga cukup lengkap, jadi Rajendra bisa melepas kejenuhannya nanti.
Rajendra memperhatikan kembali jalanan yang ada disekitarnya, beberapa saat kemudian mobilnya berhenti mendadak, membuat Rajendra kaget.
"Ada apa?" tanya Rajendra pada supir.
Belum sempat supir itu menjawab, Rajendra malah dikejutkan dengan kemunculan seorang wanita yang entah darimana datangnya langsung masuk kedalam mobilnya. Dari wajahnya wanita itu tampak sangat panik dan ketakutan.
"Hei, siapa kau?" bentak Rajendra kaget bercampur marah, bisa-bisanya ada wanita antah berantah masuk kedalam mobilnya seperti itu.
"Ssshhhh, Tuan, aku hanya menumpang bersembunyi sebentar. Tolong bawa jalan mobilnya agar preman itu tidak tahu aku disini," kata wanita itu memberikan gestur kepada Rajendra untuk diam.
Rajendra mengerutkan dahinya, ia mengangkat wajahnya sehingga bisa melihat preman yang dimaksud oleh wanita itu. Ada sekitar empat preman disana, lalu ia mengalihkan pandangannya kembali pada wanita itu.
"Itu bukan urusanku, cepat pergi darisini!" seru Rajendra tidak begitu peduli, ia tidak mau menambah masalah jika ikut campur urusan wanita itu.
__ADS_1
"Hei, kenapa kau ini kejam sekali. Ayo berikan aku tumpangan sebentar, aku pasti turun kok kalau sudah aman, ayolah," bujuk wanita itu sedikit merengut, pasalnya ia benar-benar butuh bantuan Rajendra sekarang.
Rajendra berdecak kesal, ia paling tidak suka ikut campur urusan orang lain apalagi orang yang tidak dikenal seperti itu.
"Kau yakin ingin meminta bantuan ku?" tanya Rajendra dengan lirikan tajamnya.
Wanita itu mengangguk cepat-cepat seraya tersenyum, ia berpikir jika Rajendra akan benar-benar membantunya.
Namun, ia mengerutkan dahinya saat melihat Rajendra turun dari mobilnya. Wanita itu tentu kebingungan, dan ia terus memperhatikan Rajendra yang kini membuka pintu yang ada disampingnya.
"Turun!" titah Rajendra dingin.
"Kau bilang ingin membantuku, kenapa kau memintaku turun?" kata wanita itu bingung.
"Aku memang akan membantumu, dengan menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Ayo cepat temui mereka," kata Rajendra langsung menarik tangan wanita itu sedikit kasar agar keluar dari mobilnya.
"Hei lepas!" bentak wanita itu seraya berontak. Tapi kekuatannya tentu kalah dengan Rajendra yang besar dan tegap.
Rajendra membawa wanita itu menemui semua preman tadi, ia benar-benar tidak mau ikut campur masalah siapapun, jadi ia sengaja melakukannya agar wanita itu menghadapi masalahnya sendiri.
"Sial! Kau ingin aku mati?" bentak wanita itu begitu geram tapi tidak digubris oleh Rajendra.
"Itu dia, wanita sialan, kemari kau!" Salah satu preman itu segera mendekati Rajendra dan bersiap untuk mengambil wanitanya, tapi dengan cepat Rajendra menyembunyikan wanita itu dibelakangnya.
"Siapa kau ini? Berikan wanita itu padaku," titah preman yang berbadan paling besar.
"Tentu, aku akan memberikannya padamu. Tapi apa yang akan aku dapatkan?" kata Rajendra dengan wajahnya yang sulit tertebak.
Preman itu tertawa seraya memandang teman-temannya seolah meremehkan Rajendra.
"Sebaiknya kau pergi saja anak muda, umurmu masih terlalu muda untuk tahu yang namanya alam baka. Cepat lepaskan wanita ini, dia punya hutang dengan bos kami dan harus segera membayarnya," kata Preman mengulas senyum mengejeknya.
Rajendra mengerutkan dahinya, cukup terusik dengan apa yang dikatakan oleh preman itu.
"Oh, jadi masalahnya hanya uang? Berapa yang dia bawa?" kata Rajendra balas mengulas senyum sombongnya.
"Kau mau apa? Tidak perlu memberikannya," kata wanita itu menarik lengan Rajendra.
Lagi-lagi Rajendra tidak menggubrisnya, ia menantang para preman yang berwajah sangar itu.
__ADS_1
"Apa kalian tuli? Katakan berapa uang yang dibawa wanita ini?" tanya Rajendra.
"Kau ini sangat sombong sekali, kau pikir hutang wanita ini sedikit? Sangat banyak, bahkan dia menjual tubuhnya saja tidak akan mampu membayarnya," kata preman itu malah menghina wanita yang bersama Rajendra.
"Hei jelek, tutup mulutmu itu ya, aku hanya berhutang 5 juta kepada bosmu yang bau tanah itu," sergah wanita itu sangat geram.
"Kau lupa dengan bunganya Nona? Satu bulan bunganya 10 juta dan kau telat membayarnya selama berbulan-bulan. Jadi sebaiknya kau ikut kami saja, Tuan besar sudah tidak sabar ingin memiliki istri muda lagi," kata Preman kembali tertawa mengejek membuat wanita itu semakin geram.
"Sudahlah tidak perlu banyak bicara Han, ayo kita bawa saja dia." Preman yang satunya lagi merasa tidak sabar menanggapi ocehan wanita itu, ia segera memerintah kedua temannya untuk menangkap wanita itu.
Wanita itu kaget, ia beringsut bersembunyi dibelakang Rajendra tapi kedua preman itu terus memaksa dan menarik tangan wanita itu dengan kasar.
Rajendra yang tadinya tidak ingin peduli merasa geram dengan tingkah mereka, segera saja ia melesatkan tendangan keras hingga mengenai salah satu dari mereka.
"Brengsek! Beraninya kau!"
Tindakan Rajendra itu memancing amarah para preman, mereka berempat akhirnya segera menyerang Rajendra bersama-sama. Tapi tentu saja Rajendra tidak semudah itu dikalahkan, ia pemegang sabuk tertinggi ditingkat karatenya, dengan mudah bisa membalas mereka.
Namun, karena Rajendra kalau jumlah, ia juga cukup kewalahan dan mendapatkan luka memar diwajahnya. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk memberikan pelajaran pada preman itu, malah Rajendra merasa sangat puas karena bisa melampiaskan amarah yang mengendap dalam dirinya.
"Mati kau bang sat! Kau pasti kesakitan 'kan? Sekarang kau tahu rasanya sakit itu seperti apa!" Rajendra mengamuk memukuli salah satu preman dengan membabi buta.
"Hei sudah, kau bisa membunuhnya nanti!"
Wanita yang ditolong Rajendra itu langsung menarik lengan Rajendra agar berhenti, sekilas ia melihat preman itu sudah babak belur parah, membuat ia bergidik ngeri. Ternyata jika marah pria yang baru ditemuinya itu mengerikan juga.
Rajendra menarik lengannya dengan kasar, ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kau terluka, aku akan mengobatimu," kata wanita itu kembali memegang lengan Rajendra.
Rajendra meliriknya dengan tajam, membuat wanita itu segera menarik tangannya.
"Pergilah, kau sudah aman sekarang," kata Rajendra seraya berbalik pergi.
Namun, ternyata wanita itu tidak menyerah dan kembali menahan lengan Rajendra meski ia harus mendapatkan lirikan yang tajam.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum aku mengobati lukamu."
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.