
Senja membesarkan matanya saat melihat sosok Rajendra yang berdiri dengan wajah dinginnya. Ia kaget kenapa pria itu bisa datang kesana.
Dani memandang tajam pada sosok pria yang menurutnya sangat kurang ajar itu. "Siapa kau! Beraninya kau mengangguku, bang sat!" teriak Dani merangsek maju untuk menghantam pria yang menurutnya sangat tidak sopan itu.
Rajendra yang sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Dani segera memasang ancang-ancang untuk melawan pria itu. Untunglah ia tadi sempat mengikuti Senja, jadi ia bisa menyelamatkan wanita itu sebelum semuanya terlambat.
"Brengsek!" umpat Dani semakin marah karena Rajendra bisa membalasnya.
Dani kembali menyerang Rajendra, dan adu kekuatan pun tak terelakkan. Dani yang tidak begitu pandai bela diri cukup puas dihajar habis-habisan oleh Rajendra. Pria itu selalu kalap jika sudah dikuasai emosi seperti itu.
"Dani!" Khaira berteriak kaget melihat kekasihnya dihajar habis-habisan oleh Rajendra.
"Hei, lepaskan dia!" teriak Khaira seraya mendorong tubuh Rajendra hingga Dani terlepas dari cengkraman pria itu.
"Apa kau gila! Kau melukainya!" Khaira begitu marah melihat kekasihnya dibuat babak belur seperti itu.
"Priamu itu yang sudah gila, dia hampir saja melecehkan wanita lain," sergah Rajendra tak kalah keras suaranya.
Senja segera mendekati Rajendra, mencoba memastikan jika pria itu baik-baik saja. Pasalnya sudah dua kali pria itu menyelamatkannya.
"Kau tidak apa-apa 'kan?" tanya Senja dibalas gelengan pelan olah Rajendra.
Khaira yang menyadari jika semua ini ulah Senja semakin marah, ia menatap nyalang kepada wanita yang menjadi saingannya itu.
"Oh, jadi semua ini gara-gara wanita pembawa sial ini? Pantaslah semua orang yang berada didekatnya menjadi sial," tukas Khaira begitu marahnya.
Senja mengepalkan tangannya begitu erat, ingin sekali marah tapi ia menahannya. Justru Rajendra yang merasa kesal, ia tidak tahu apa masalah wanita itu dengan Senja, tapi Senja hanya diam saja kenapa wanita itu terus menyalahkannya.
"Kau-"
"Tidak perlu mengurusinya, ayo kita pergi." Senja segera menarik tangan Rajendra pergi meninggalkan Khaira dan Dani.
"Hei, jangan pergi kau! Senja, kau harus tanggung jawab!" Khaira berteriak-teriak memanggil Senja tapi tidak digubrisnya sama sekali.
"Sialan! Dia itu memang pembawa sial, awas saja nanti," gerutu Khaira memandang Senja penuh dendam, tapi sesaat kemudian wajah wanita itu berubah menjadi licik.
______
Senja menarik tangan Rajendra meninggalkan kafe itu, tidak ada percakapan apapun diantara keduanya sampai mereka sampai ditempat yang cukup sepi barulah Senja melepaskannya.
"Ck, kenapa kau menolongku lagi," kata Senja dengan wajahnya yang cukup kesal.
__ADS_1
Rajendra mengerutkan dahinya, bingung tentunya kenapa ditolong malah marah?
"Kau ingin aku membiarkanmu dilecehkan oleh pria tadi?" tukas Rajendra.
"Ya tidak juga, tapi dengan begini aku malah semakin berhutang budi padamu, aduh ..." Senja menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus membalas kebaikan Rajendra dengan cara apa.
"Tidak masalah, aku melakukan ini juga karena tidak sengaja. Semua terjadi didepan mataku, tidak mungkin aku hanya diam saja," ujar Rajendra tidak keberatan sama sekali.
"Ck, tetap saja aku berhutang budi padamu," kata Senja mengalihkan pandangannya kearah lainnya. "Malam ini kau harus ikut aku," titah Senja setelah berpikir sejenak.
"Kemana?" Rajendra bertanya seraya mengangkat alisnya.
"Aku akan mentraktir kau makan ramen sebagai ucapan terima kasih, dan kau tidak boleh menolak," kata Senja memutuskan sekenanya.
"Ayo," ajak Senja lagi-lagi langsung menarik tangan Rajendra.
"Memangnya kau punya uang ingin mentraktirku?" ucap Rajendra, terselip nada ejekan dalam ucapannya itu.
"Ya tentu punya, aku 'kan habis bekerja," sahut Senja merasa cukup tersinggung dengan ucapan Rajendra itu.
"Sudahlah, tidak perlu membuang uangmu. Aku tahu kau lebih membutuhkannya," ujar Rajendra ingat jika Senja tengah terlilit hutang.
"Uangku masih cukup jika hanya untuk mentraktir kau makan malam ini, ayo jangan menolak rejeki, itu tidak bagus."
Mereka berjalan di pesisir pantai yang sejuk, tidak terlalu lama, mereka lalu sampai disebuah kafe yang tidak terlalu besar. Rajendra mengambil duduk diluar karena masih ingin menikmati pemandangan, sedangkan Senja masuk untuk memesankan makanan.
"Hm, tunggu lima belas menit lagi. Kau tidak cukup kelaparan 'kan?" Seloroh Senja kembali menghampiri Rajendra, ia mendudukkan dirinya disamping pria itu.
"Tidak juga," sahut Rajendra singkat, terkesan dingin.
"Ngomong-ngomong aku baru melihatmu disini, kau pendatang baru?" tanya Senja mengisi keheningan untuk sekedar basa-basi.
"Ya." Lagi-lagi Rajendra menyahut singkat membuat Senja menekuk wajahnya, merasa Rajendra itu terlalu cuek.
"Kau sedang ada masalah?" tanya Senja cukup penasaran.
Melihat wajah Rajendra yang selalu dingin dan tidak bersemangat itu membuat ia merasa kalau pria yang menjadi malaikat penolong dadakan itu memiliki masalah yang cukup serius.
"Bukankah biasa kalau hidup memiliki masalah?" sahut Rajendra masih sama cueknya.
"Ya, kau benar. Tapi sepertinya masalahmu sangat serius, apakah tentang cinta?" tebak Senja tidak meleset sama sekali.
__ADS_1
Rajendra terdiam sesaat, ia melirik Senja yang kini tengah memandang kearahnya itu. "Pernahkah kau jatuh cinta?"
"Berbohong kalau aku mengatakan tidak pernah jatuh cinta. Kau sendiri kenapa? Diputuskan oleh kekasihmu?" tanya Senja lagi.
Rajendra menggeleng lemah, wajahnya malah berubah sendu mengingat apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Dia mencintaimu?" tanya Senja lagi.
"Kami berdua saling mencintai," sahut Rajendra seadanya.
"Kau mencintainya dan dia mencintaimu, kalian saling mencintai, lalu masalahnya dimana?" Senja mengerutkan dahinya, bingung dengan maksud Rajendra ini.
"Dia itu sepupuku," kata Rajendra.
"Apa? Astaga, dari sekian banyak wanita didunia ini, kenapa kau jatuh cinta pada sepupumu sendiri?" Senja menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Kalau kita bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, aku tentu tidak akan melakukannya," cetus Rajendra cukup kesal, ia juga tidak bisa memilih 'kan akan jatuh cinta dengan siapa.
"Iya sih, kau benar. Lalu apa masalahnya? Bukankah hubungan antar sepupu sudah biasa?" ujar Senja mengangguk mengerti.
"Situasi dalam keluarga kita sangat rumit, intinya kedua orang tua kita tidak setuju kalau kita bersatu," kata Rajendra entah kenapa malah berbicara terang-terangan kepada wanita asing itu.
"Oh, cinta terhalang restu ya? Tapi jika boleh aku sarankan, sebaiknya kau pikirkan baik-baik keputusanmu. Jika kau memang ingin mempertahkan maka perjuangkalah dia, tapi jika kau ingin mengakhirinya, makan tinggalkanlah dia. Jangan berdiri ditengah-tengah, hal itu hanya akan menyakitimu dan menyakiti dirinya," ujar Senja begitu bijak.
Setelah itu makanan mereka datang membuat Senja berbinar cerah matanya. Ia langsung saja melahap makanannya tanpa menunggu Rajendra yang diam mencerna apa yang dikatakan oleh Senja.
Senja benar, jika aku memang ingin mengakhiri ini semua, aku benar-benar harus melupakan, Kalea.
Rajendra mengambil ponselnya yang seharian ini ia matikan. Tapi ia urungkan karena tidak sengaja melihat Senja yang makan dengan gaya serampangan, tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
"Ada apa? Makanlah ramen milikmu, nanti dingin tidak enak," kata Senja dengan mulut penuh mengunyah makanan.
"Habiskan kau saja, sepertinya kau sangat lapar," ujar Rajendra malah tidak berselera makan, apalagi makanan pinggir jalan seperti itu bukan kelasnya.
"Kenapa? Takut sakit perut? Dasar orang kaya," celetuk Senja memutar bola matanya malas, sudah tahu jika mungkin saja Rajendra jijik dengan makanan murahan seperti itu.
Rajendra hanya diam saja, ia kembali menatap pemandangan didepannya. Bersamaan dengan itu ada seorang wanita yang berlari terburu-buru mendekat kearah mereka.
"Senja! Senja! Cepatlah pulang, Rumahmu ..."
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.