Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 25. Cinta Itu Luka.


__ADS_3

Rajendra menahan tangan Senja yang satunya saat wanita itu akan beranjak. Ia tidak ingin membiarkan Senja pergi bersama Revan saat ini.


Saat ini kedua tangan Senja dipegang oleh kedua Kakak beradik itu, membuat wanita itu semakin tidak nyaman.


"Kenapa Kak?" tanya Revan.


"Aku tidak mengizinkanmu membawa dia pergi," kata Rajendra begitu datar.


"Why?" Revan semakin mengernyit tidak mengerti.


"Dia sendang sakit, apa kau tidak lihat? Dia butuh istirahat, jadi jangan mengajaknya kemana-mana," ucap Rajendra melirik wajah Senja yang lagi itu sangat pucat. Ia harus mencari alasan yang masuk akal agar Revan tidak pergi bersama Senja hari ini.


"Kau sakit?" Revan pun terkejut saat menyadari wajah Senja yang sangat pucat. "Kenapa? Apakah gara-gara semalam kau pulang terlalu larut? Mau ke dokter?" ujar Revan memegang dahi Senja dan menunjukkan perhatiannya.


"Eh!" Senja langsung mundur kebelakang, perlakuan Rajendra semalam masih membekas dalam ingatannya, membuat ia langsung takut saat bersentuhan dengan laki-laki.


"Kenapa? Aku hanya ingin memegang dahimu untuk memastikan kau demam atau tidak," ujar Revan kembali mendekati Senja.


Namun, sebelum ia mendekat Rajendra malah menarik bajunya dengan kasar membuat ia begitu kaget.


"Aku bilang jangan mengganggunya Revan! Dia sedang sakit, sebaiknya kau pergi dari sini," bentak Rajendra memandang tak suka pada Adiknya, ia merasa Revan terlalu dekat dengan Senja.


"Hm, ada apa gerangan? Kenapa Kakak begitu ngotot ingin aku pergi? Lagipula ini sangat aneh, untuk apa Kakak perduli dengan seorang pembantu?" Revan berucap lambat-lambat seraya memandang Kakaknya penuh selidik.


Rajendra mengepalkan tangannya, bingung harus menjawab apa. Tapi ia juga tidak suka jika Revan terus menunjukan perhatiannya pada Senja. Mereka berdua selalu dekat dan bisa jada terjadi something yang bisa membuat percikan cinta diantara keduanya. Dan Rajendra tidak mau hal itu sampai terjadi.


"Karena dia pembantu di rumahku, tentu aku berhak melakukan apapun padanya. Dan sekarang aku memerintahkan dia untuk istirahat, kau tidak boleh mengganggunya. Apa kau mengerti, Revan?" ujar Rajendra menekan kata Revan agar Adiknya tahu kalau saat ini ia sedang sangat serius.


Revan menyipitkan matanya, justru semakin curiga dengan sikap Kakaknya yang sangat aneh. Ia lalu memandang Senja yang sejak tadi menunduk, tidak bisanya wanita itu seperti itu.


"Baiklah, sepertinya kau memang benar-benar sakit. Aku akan membelikanmu vitamin agar kau bisa lebih vit, kau sudah makan belum?"

__ADS_1


Bukannya menurut perkataan Kakaknya, Revan malah semakin menunjukkan perhatiannya, membuat Rajendra semakin terbakar.


"Saya tidak apa-apa Tuan Revan, saya hanya perlu istirahat saja. Terima kasih atas tawarannya," sahut Senja masih tidak mau mengangkat wajahnya, ia benar-benar sangat tidak nyaman berada dalam posisi seperti ini.


"Kau dengar itu, dia hanya perlu istirahat. Sekarang pergilah."


Merasa tidak sabar melihat perhatian Adiknya, Rajendra langsung mendorong Adiknya itu agar pergi dari kamar Senja. Ia tidak perduli pria itu memprotes kesal, ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Jika diteruskan, lama-lama ia bisa membongkar kalau ia dan Senja sudah menikah.


_______


"Kakak ini apa-apaan sih? Lepaskan aku, Kak!" Revan tak henti berteriak kesal karena sikap Kakaknya yang sangat aneh itu. Padahal tadinya ia sengaja datang karena ingin berduaan dengan Senja.


"Pergilah dari sini Adik kecil, jangan pernah menganggu Senja lagi," titah Rajendra.


"Siapa yang mengganggunya? Aku justru sedang mengajarkan banyak hal padanya," bantah Revan diiringi dengusan kecil.


"Dia tidak butuh itu semua Revan. Kenapa kau begitu mengurusi hidup Senja? Sebaiknya kau fokus saja pada sekolahmu, jangan bermain-main," sergah Rajendra tak kalah kesalnya.


Revan sudah sangat mengenal Rajendra, pria itu tidak mungkin peduli dengan orang lain jika orang itu memang tidak spesial untuknya. Bahkan Rajendra itu sangat cuek terhadap siapapun, apalagi jika itu wanita.


Kecuali Kalea tentunya.


Tapi, sekarang melihat Kakaknya bersikap seolah begitu peduli pada Senja, membuat Revan bertanya-tanya, apakah dugaannya benar?


"Apa yang kau katakan, apa kau pikir aku akan melakukannya?" bantah Rajendra gelagapan sendiri.


"Kakak hanya perlu menjawab, apakah Kakak menyukai Senja atau tidak?" Revan kembali bertanya untuk memastikan segalanya.


Rajendra terdiam sesaat, pertanyaan itu terdengar sangat mudah, tapi kenapa lidahnya kelu untuk sekedar menjawab. Ia juga bingung bagaimana perasaannya saat ini. Tapi jika ditanya apakah ia menyukai Senja, rasanya belum sejauh itu.


"Tidak." Rajendra menjawab dengan tegas setelah terdiam cukup lama.

__ADS_1


"Apa Kakak yakin?"


"Sudahlah, kau terlalu banyak bertanya. Aku sangat sibuk hari ini, dan aku ingatkan padamu. Jangan pernah lagi menganggu Senja, biarkan dia bekerja," ujar Rajendra seraya berlalu meninggalkan Adiknya. Ia harus mendinginkan otaknya yang terasa ingin meledak saat ini juga.


Revan menarik sudut bibirnya, menjadi seulas senyum sinis mengembang.


"Kau tidak bisa membohongiku Kak. Baiklah, jika memang seperti itu cara mainnya. Kau jual, aku beli, Kak," desis Revan melirik Kakaknya yang berjalan menjauh sebelum ia juga pergi meninggalkan rumah itu.


Namun, tanpa sepengetahuan keduanya, Senja sejak tadi berdiri dibalik tembok ruang tengah dan mendengarkan semua percakapan mereka berdua.


Senja mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Mendengar bagaimana Rajendra menjawab dengan tegas kalau pria itu tidak mencintainya. Hal itu membuat luka Senja yang belum sembuh seperti disiram cuka hingga terasa sangat perih.


Sadarlah Senja, kau itu bukan siapa-siapa. Kau hanya gadis asing yang tidak sengaja dipungut Rajendra karena kesalahpahaman. Kau juga hanya gadis yang tidak berarti apapun untuknya. Dia terlalu tinggi untuk orang sepertimu Senja, kau harus sadar itu.


Senja mengusap air matanya dengan kasar, memang tidak seharusnya ia menaruh harapan apapun pada hubungan yang jelas tidak ada masa depannya. Sekarang ia harus mulai sadar dan kembali melanjutkan hidupnya. Melupakan semuanya dan memulai hidupnya kembali.


Tapi, apakah ia bisa melanjutkan hidupnya seperti semula? Dengan kondisinya yang sudah tidak punya apa-apa, apakah masih ada yang mau menerima dirinya?


________


Rajendra mondar-mandir cemas didepan kamar Senja. Ditangannya terlihat menggenggam obat yang baru saja dibelinya di apotik. Obat itu adalah obat pereda rasa nyeri dan mengobati luka. Rajendra khawatir memikirkan nasib Senja yang semalam telah ia paksa, ia takut jika ia sudah melukai wanita itu.


"Haruskah aku masuk kedalam?" gumam Rajendra begitu bingung, padahal ia tinggal mengetuk pintu kamar itu, tapi ia sangat ragu.


Akhirnya, setelah berpikir cukup lama dan menimbang-nimbang. Rajendra memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Senja dengan sangat pelan. Berharap wanita itu mau membukakan pintu untuk dirinya.


"Senja, ini aku."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2