Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 18. Suka-Suka Revan.


__ADS_3

Revan mengajak Senja ke sebuah mall yang terbesar di Ibu kota. Pria itu meminta Senja untuk menemaninya membeli baju dan juga makan.


Senja yang tidak pernah masuk kedalam mall merasa begitu takjub melihat bangunan yang menurutnya sangat megah itu. Tapi disatu sisi ia juga merasa minder saat melihat penampilannya sudah seperti gembel saja.


"Kau ini, kenapa jalan lambat sekali, sudah seperti keong saja, ayo."


Senja tersentak saat Revan tiba-tiba meraih tangannya dan menggandengnya tanpa rasa canggung.


"Aku tidak suka kau jalan sangat lama. Kita tidak punya waktu, ayo ikut denganku," kata Revan langsung menarik Senja menuju salah satu toko pakaian disana.


Revan tahu jika saat ini Senja sedang merasa tidak percaya diri, ia sengaja menggandeng wanita itu agar lebih nyaman. Ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatap Senja dengan tatapan merendahkan. Ia tetap membawa wanita itu masuk kedalam outlet pakaian ternama di mall itu.


"Tuan ingin membeli baju wanita? Untuk siapa?" tanya Senja ingin tahu.


"Ehm, tentu saja untuk kekasihku," sahut Revan setelah berpikir cukup lama.


"Tuan memiliki kekasih?" Senja kembali bertanya dengan wajah kagetnya.


Bukan masalah apa, tapi ia hanya tidak ingin kejadian Khaira dan Dani terulang kembali pada dirinya saat ini. Sudah cukup ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan karena dituduh sebagai perebut pacar orang, sekarang ia tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama.


"Tentu saja punya, kau lihat wajahku ini Senja? Apakah menurutmu ada wanita yang bisa menolaknya?" ucap Revan menaikturunkan alisnya menggoda.


Senja hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Revan itu. Tapi memang benar sih, Revan itu tampan.


"Kau tidak percaya? Percayalah," kata Revan lagi.


"Ya, aku percaya Tuan. Sebaiknya Tuan sekarang membeli apa yang Tuan ingin beli, ini sudah siang," tukas Senja sekenanya saja.


"Eh, kenapa jadi kau yang mengaturku? Aku adalah Bosnya, jadi suka-suka aku mau pulang jam berapa," ketus Revan dengan tingkah menyebalkannya.


"Ah sudahlah, aku akan memilih baju dulu. Nanti kau harus mencobanya," kata Revan lagi.


"Aku?" Lagi-lagi Senja dibuat kebingungan dengan keinginan Revan ini.


"Ya, malam nanti aku ada acara dirumah temanku. Kau harus ikut," ucap Revan seenaknya saja.

__ADS_1


"Acara apa Tuan? Kenapa harus pergi denganku? Bukankah Anda bilang ingin membeli baju untuk kekasih Anda? Tapi kenapa-"


"Bisakah kau diam saja dan menurut? Pokoknya kau harus ikut denganku nanti malam atau aku akan memecatmu," sergah Revan asal saja, enggan memberitahu Senja kenapa ia meminta wanita itu untuk menemaninya.


Lagipula sebenarnya Revan juga hanya membual, ia tidak punya kekasih karena masih belum menemukan wanita yang begitu menarik perhatiannya. Kecuali ...


Revan mengalihkan pandangannya kearah Senja yang terlihat menahan jengkel itu. Ia mengulas senyum tipis lalu segera memilihkan gaun yang cocok untuk wanita itu.


_______


"Tuan, ini sudah baju yang ke sembilan. Jika Tuan memintaku menggantinya lagi, aku akan pulang sekarang!"


Senja berseru sangat kesal karena Revan memintanya bolak-balik mengganti baju dengan berbagai model. Tapi menurut Revan malah semuanya kurang cocok.


Revan tertawa kecil, ia memperhatikan Senja yang kini sedang menggunakan gaun berwarna nude dengan model belahan dada yang rendah. Gaun itu bermodel A-line yang tampak sangat cantik membalut tubuh ramping Senja.


Revan seperti terhipnotis melihat bagaimana Senja yang terlihat sangat cantik menggunakan gaun sederhana itu. Sesuai dugaannya, Senja itu memang sangat cantik, hanya saja masih terlalu murni dan perlu sedikit sentuhan untuk menjadi sempurna.


"Yah bagaimana, semua baju yang kau pakai itu sangat tidak cocok. Tapi yang ini lumayan, yang ini saja," kata Revan berpura-pura mengejek, padahal aslinya ia sangat puas dengan penampilan Senja.


"Eitss, kau berani berbicara begitu padaku? Kau mau-"


"Mau apa? Tuan pecat? Silahkan saja, aku tidak peduli, mungkin itu lebih baik," ketus Senja langsung pergi meninggalkan Revan karena sangking dongkolnya.


Melihat tingkah Senja itu, Revan bukannya kesal justru sangat senang sekali. Akhirnya Senja bisa mengekspresikan dirinya, tidak lagi kaku jika bersama dengannya.


Setelah dari toko pakaian, Revan mengajak Senja untuk makan, wanita itu masih terlihat kesal karena sejak tadi hanya diam saja. Tapi Revan tentu tidak kehilangan akal untuk membuat Senja bicara, ia membeli dua es krim lalu menyerahkannya pada Senja.


Semarah apapun wanita, pasti tidak akan menolak jika diberi es krim.


"Tuan yakin memberikan ini padaku?"


Benar saja, wajah Senja sudah berubah sumringah saat Revan menyodorkan es krim coklat padanya.


"Ya, aku membelinya kelebihan. Daripada aku buang, lebih baik untukmu saja. Ambil ini," kata Revan harus tetap stay cool agar Senja tidak kepedean.

__ADS_1


"Terima kasih." Senja menerima es krim itu dengan penuh syukur, ia mungkin kesal, tapi jika itu makanan, Senja tidak akan menolaknya. Karena bagi Senja tidak boleh menyia-nyiakan makanan.


Revan tersenyum puas karena sudah berhasil membujuk Senja.


"Baiklah, ini sudah cukup sore. Ayo kita pulang sekarang, tunggu aku didepan ya, aku akan membayar dulu," ujar Revan memerintahkan.


Senja hanya mengangguk-angguk seraya menikmati es krimnya, wajahnya yang polos itu semakin terlihat menggemaskan.


"Kau ini memang sangat menggemaskan," ujar Revan mencubit pipi Senja lalu pergi begitu saja, membuat Senja begitu kaget dengan sikap impulsifnya itu.


Senja memegang pipinya sendiri lalu menggelengkan kepalanya. Cepat-cepat menghabiskan eskrimnya lalu pergi keluar dari restoran itu.


_______


Rajendra benar-benar dibuat sibuk dengan banyaknya pekerjaan di kantor. Ayahnya tidak main-main saat menyerahkan segala tampuk perusahaan pada Rajendra, sehingga sekarang hari-hari Rajendra hanya dihabiskan untuk kerja. Memegang ponsel pun jarang selain menerima telepon penting dari kliennya.


"Tuan, apakah kita jadi melakukan inspeksi di Mall utama?" Faris bertanya ketika ia dan Rajendra baru menyelesaikan meeting diluar.


"Jam berapa sekarang?" Rajendra bertanya seraya memijit kepalanya yang sangat pusing, jam tidurnya akhir-akhir ini sangat kacau sekali.


"Jam tiga sore, Tuan."


"Baiklah, kita kesana sekarang." Rajendra mengangguk menyetujui saja.


Faris mengiyakan, ia membawa mobilnya menuju mall utama dimana pemilik mall itu sendiri adalah keluarga Prakasa. Setiap bulan memang selalu dilakukan pengecekan apakah ada barang yang membahayakan atau tidak.


Sesampainya disana, satpam langsung menyambut kedatangan Rajendra, tapi pria itu memberikan gestur untuk tidak melakukan hal itu, ia ingin biasa saja tanpa menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.


Rajendra langsung masuk kedalam layaknya pengunjung biasa. Ia sekaligus ingin mengawasi bagaimana kinerja karyawannya disana.


Namun, Rajendra justru dikejutkan dengan kehadiran Senja yang sama sekali tidak disangkanya. Tatapan matanya yang tadi serius langsung berubah tajam.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2