
Senja menunggu Rajendra sembari memandang makanan yang ada didepannya. Makanan itu masih utuh karena Senja belum memakannya sama sekali. Niatnya ingin menunggu Rajendra dulu, tapi sampai hampir satu jam lebih disana, Rajendra justru belum kembali dari toilet. Membuat Senja merasa sangat khawatir.
Berulang kali ia melihat ke arah toilet, berharap Rajendra akan muncul. Tapi nyatanya semua itu tidak terjadi, yang ada ia malah semakin khawatir. Ditambah sudah dua kali petugas restoran itu mendatanginya karena ia sudah terlalu lama disana.
"Kemana dia? Kenapa belum kembali juga? Apa aku susul saja?" Senja bergumam rendah, bingung harus bersikap bagaimana karena ia juga masih belum tahu situasi di tempat itu.
Senja menunggu sampai 10 menit berlalu, tapi Rajendra ternyata benar-benar tidak kembali lagi membuat kekhawatiran Senja meningkat. Ia semakin gusar saat seorang pelayan menghampirinya kembali.
"Permisi Nona, maaf jika menganggu waktunya. Apakah sudah ingin membayar? Karena restoran kami sebentar lagi akan tutup," ujar Pelayan masih mencoba bersikap sopan kepada Senja, meski dari raut wajahnya tampak cukup tidak enak dilihat.
"Ehm, apakah bisa menunggu sebentar lagi? Temanku yang tadi belum kembali, aku pasti akan membayarnya kok," ujar Senja mencari alasan untuk mengulur waktu.
"Mohon maaf sekali Nona, waktunya sudah tidak cukup jika harus menunggu. Jika bersedia Nona bisa membayarnya dulu, ini tagihannya," tutur Pelayan dengan sopan memberikan nota pembayaran untuk Senja.
Senja memandang nota pembayaran itu dengan mata yang terbelalak lebar. Kaget saat melihat nominal yang tertera disana begitu banyak. Ia mana mungkin punya uang sebanyak itu. Sekarang saja ia tidak membawa apapun selain ponsel yang diberikan Revan waktu itu. Tapi ia tidak mungkin memberikan ponsel itu.
"Maaf, aku tidak membawa uang cash. Apakah aku bisa membayarnya dengan hal lain?" tanya Senja mencoba mencari peruntungan.
"Nona, kami sudah cukup bersabar dengan Anda sejak tadi. Dan seharusnya Anda tahu kalau restoran kami tidak menerima pelanggan seperti Anda. Jika memang tidak punya uang, sebaiknya Anda jangan datang kesini. Membuat orang repot saja. Bagaimanapun caranya, Nona harus membayarnya sekarang." Pelayan itu langsung saja membentak Senja dengan begitu kesal. Jika ada pelanggan seperti ini, bisa-bisa mereka yang kena marah oleh bos mereka.
"Iya aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak membawa uang. Aku akan membayarnya dengan cuci piring bisa? Ini makanannya belum aku sentuh sama sekali kok," ucap Senja memohon dengan sangat, ia sudah sangat panik karena saat ini menjadi pusat perhatian para pelanggan disana.
"Ck, menyusahkan saja. Ayo ikut aku, kita akan membicarakannya pada bos. Lain kali jangan sok-sokan makan ditempat mahal kalau tidak punya uang," cetus pelayan itu benar-benar dongkol sekali rasanya.
Senja mengulum bibirnya, ia pun tidak pernah ingin makan ditempat seperti itu. Tapi semua ini karena Rajendra yang melakukannya. Dan sekarang pria itu justru seenaknya pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya.
__ADS_1
'Kemana dia? Apa dia sengaja melakukannya?'
________
Senja menyeka keringat yang membasahi pelipisnya yang putih. Wajahnya tampak sangat pucat karena sejak siang tadi belum makan apapun. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring untuk membayar makanan yang tadi dipesan oleh Rajendra. Sekarang ia merasa begitu lelah sekali.
"Ah, kenapa badanku lemas sekali? Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini," keluh Senja mendudukkan dirinya disalah satu kursi yang terletak dipinggir jalan raya.
Hari sudah berganti malam, lampu-lampu indah tampak menghiasi kota dengan gemerlapnya yang cantik. Kendaraan pun berlalu lalang silih berganti, membuat suasana malam itu begitu ramai.
Senja menatap pemandangan itu dengan perasaan tak menentu. Tempat ini sangat asing baginya, suasana pun jauh berbeda dengan kota kecilnya dulu. Sekarang ia hanya sendirian di kota ini, tanpa ada sanak saudara ataupun orang yang ia kenali. Benar-benar sangat asing sekali.
"Kemana aku harus pergi? Kenapa dia benar-benar tidak kembali? Apakah dia sengaja meninggalkanku disini?" gumam Senja menerka-nerka kemana pergi Rajendra tanpa berpamitan seperti itu.
Senja benar-benar bingung sekali harus pergi kemana. Ia tidak tahu jalan kemana akan pulang ke rumah Rajendra. Dan ia pun tidak tahu sama sekali tentang daerah itu.
Namun, Senja tidak pernah berpikir jika saat ini ia sedang berada di kota besar. Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ada orang yang merengkuh pinggangnya dari belakang. Senja tentu kaget akan hal itu, dan ia semakin kaget saat melihat pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya yang telah melakukan itu semua.
"Siapa kau? Lepaskan aku!" seru Senja langsung saja berontak.
"Namaku Boby, malam ini aku akan mengajakmu berjalan-jalan cantik. Kau tidak keberatan 'kan?" sahut pria yang bernama Boby itu dengan kurang ajarnya malah menarik pinggang Senja lebih dekat.
"Aku tidak mengenalmu, lepaskan aku!" bentak Senja benar-benar panik dan takut, ia bahkan langsung mendorong pria itu dengan kasar agar pelukannya terlepas.
"Oh shittt, mau sok jual mahal ternyata? Kau salah tempat Nona, kau ada dikawasan kami," cetus Boby mendesis pelan.
__ADS_1
Senja sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Bobi. Ia menatap sekelilingnya yang ternyata menjadi tempat tongkrongan banyak sekali ajak remaja laki-laki disana. Bahkan mereka semua sedang menatapnya saat ini, membuat Senja semakin takut.
"Aku tidak tahu, aku harus pergi," kata Senja buru-buru melangkah menjauh.
Akan tetapi, tiba-tiba saja punggungnya ditendang dengan keras hingga ia jatuh tersungkur dan lututnya menghantam paving blok dibawahnya.
"Akhhhhh!" pekik Senja meringis kesakitan, tidak menyangka jika Bobi anak menendangnya seperti itu.
Boby tersenyum sinis seraya meludah ke arah samping. "Itu akibat yang pantas kau dapatkan karena berani menolak. Ayo bangun, aku hanya ingin kau menemaniku minum," ujar Boby seraya mengulurkan tangannya.
Senja beringsut menjauh, matanya sudah berkaca-kaca karena rasa takut yang luar biasa. Ia tahu jika pria itu sangat berbahaya, membuat ia harus secepatnya pergi dari tempat itu.
"Tidak, aku tidak mau," kata Senja mencoba bangkit dan ingin segera pergi.
"Oh shitttt, jangan mengujiku wanita!" teriak Boby tanpa ragu malah mengangkat tangannya untuk memukul Senja.
"Akhhhhhhh!" Senja berteriak kesakitan, pukulan itu sangat kuat sekali hingga hidungnya langsung mengeluarkan darah.
Sepertinya Boby adalah pria yang tidak pernah perduli akan lawannya. Mau itu laki-laki atau perempuan, ia memperlakukannya sama saja selagi membuat dirinya kesal.
"Sakit 'kan? Makanya menurutlah," tukas Boby kembali mendekati Senja, ia duduk untuk menyentuh dagu wanita itu.
Namun, sebelum ia sempat menyentuh Senja, kepalanya ditendang sangat keras oleh seseorang yang datang entah darimana datangnya.
"Jauhkan tanganmu darinya kalau kau masih ingin memiliki keduanya."
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.