
Rajendra mengangkat alisnya seraya berdecak kesal. Ia menarik tangannya dengan kasar lalu menatap wanita asing yang baru saja ditemuinya itu.
"Kau tidak mengenalku dengan baik, sebaiknya jangan mencoba keberuntunganmu," ucap Rajendra begitu ketus diiringi tatapan tajam menusuknya.
Wanita itu mengerutkan dahinya, bukannya takut mendengar ucapan Rajendra ia malah mengikuti Rajendra lagi.
"Ayolah, aku sudah berhutang budi padamu. Setidaknya biarkan aku membalasnya, jangan sok jual mahal kenapa sih," kata wanita asing itu setengah menggerutu.
Rajendra tidak menggubrisnya, ia terus saja berjalan menuju dimana mobilnya berada. Tapi ia malah kaget melihat wanita asing itu terus mengikutinya.
"Apa yang kau lakukan? Pergilah!" bentak Rajendra mendengus kesal.
"Aku 'kan sudah bilang, tidak akan pergi sebelum mengobati lukamu," kata wanita itu dengan sikap keras kepalanya, ia bahkan terang-terangan menatap Rajendra tanpa rasa takut.
"Kau tidak tuli 'kan? Aku bilang tidak perlu, pergilah darisini, jangan membuang waktuku," sergah Rajendra semakin kesal, apa wanita didepannya itu tidak tahu jika saat ini moodnya benar-benar sangat buruk.
Wanita itu sebenarnya cukup takut mendengar suara berat Rajendra, apalagi kedua alis tebal Rajendra selalu beradu jika berbicara, menambah kesal menyeramkan itu terlihat.
"Dan aku sudah bilang, aku tidak akan pergi sebelum mengobati lukamu. Jika tidak mau membuang waktu, lebih baik kau secepatnya itu ikut aku."
Tanpa menunggu persetujuan dari Rajendra, wanita asing itu malah menarik tangan Rajendra menuju salah satu kafe yang terletak cukup dekat dari tempat itu.
"Hei, kau ini apa-apaan? Lepaskan aku!" bentak Rajendra, ingin sekali mengumpat tapi menahannya karena ingat yang ia hadapi adalah seorang wanita.
"Diamlah Tuan, aku hanya ingin mengobatimu, bukan menghajarmu," celetuk wanita asing itu seraya terus menarik Rajendra.
Rajendra mendengus kesal, baru pertama kali ini ia bertemu dengan wanita yang sifatnya yang tidak tahu sopan santun seperti itu. Biasanya wanita yang berada didekatnya selalu bertutur kata lembah lembut, apalagi Kalea yang berbicara sangat halus.
Eh? Kenapa aku malah membandingkan wanita aneh ini dengan Kalea? Mereka jelas jauh berbeda.
Rajendra terus memperhatikan wanita asing itu, tubuhnya tidak terlalu tinggi, cenderung mungil, tapi keberaniannya cukup bisa diacungi jempol. Jika berdiri seperti ini, wanita itu hanya sebatas dagu Rajendra.
__ADS_1
"Kau diam disini dulu, aku akan mengambilkanmu obat," titah wanita itu menyuruh Rajendra duduk disalah satu kursi kosong.
Rajendra hanya membuang muka, ia juga heran dengan dirinya, kenapa bisa-bisanya mau menurut saja dengan wanita aneh seperti itu.
Wanita itu segera pergi, tak lama kembali lagi dengan membawa satu kotak obat dan juga minuman bersoda.
"Minum dulu, Tuan," ujar wanita itu menyodorkan satu minuman kepada Rajendra.
Rajendra mengambilnya tanpa banyak bicara, perkelahian tadi juga cukup menguras tenaganya, sehingga ia langsung menegak minuman itu hingga habis. Tatapan Rajendra mengarah pada satu titik, hingga ia tiba-tiba dikagetkan saat wanita asing itu menyentuh wajahnya.
"Kau-"
"Ini hanya memar, aku hanya perlu mengompresnya sebentar. Tunggu ya, tidak akan sakit," ujar wanita itu mengambil handuk dan air es untuk mengompres pipi Rajendra yang lebam.
Rajendra mengerutkan dahinya saat rasa dingin itu menyentuh wajahnya, disaat seperti ini kenapa baru terasa sakit?
"Kau punya banyak hutang?" tanya Rajendra, tapi sedetik kemudian ia menyesal karena sudah bertanya.
Hening
Keduanya sama-sama diam saja dengan pikirannya masing-masing. Wanita itu juga sibuk mengompres wajah Rajendra , ia tidak terlalu memperhatikan wajah Rajendra yang sangat tampan itu, entahlah sepertinya ia memang tidak begitu tertarik dengan seorang pria.
Saat keduanya sama-sama terdiam, tiba-tiba terdengar suara cempreng wanita yang begitu mengejutkan.
"Senja! Disini kau rupanya, dasar wanita murahan!"
Entah kerasukan setan atau kenapa, tiba-tiba saja wanita yang baru datang itu langsung menampar pipi Senja dengan sangat keras hingga kapas yang tadi digunakan untuk mengobati luka Rajendra jatuh seketika.
Rajendra tentu kaget dengan apa yang terjadi, ia memandang wanita asing yang kini ia tahu bernama Senja itu. Tapi ia hanya diam saja, tidak ingin ikut campur karena merasa itu bukan urusannya.
"Khaira? Apa-apaan kau ini?" Senja bertanya bingung, ia mengabaikan rasa pedas dipipinya itu.
__ADS_1
"Kau yang apa-apaan!" bentak Khaira mendorong tubuh Senja dengan kasar. "Apa maksudmu kemarin jalan dengan Dani? Kau tahu dia itu kekasihku," lanjut Khaira begitu marah.
Senja mengerutkan dahinya, sesaat ia mengulas senyum tipis yang tidak terlihat. "Oh masalahnya hanya seorang pria? Kenapa kau harus mendatangiku? Asal kau tahu, priamu itu yang datang padaku dulu, tentu tidak boleh disia-siakan bukan?" kata Senja dengan sangat santai.
"Kurang ajar! Kau memang ja la ng Senja! Sadarlah dirimu yang miskin itu, apa kau pikir kau pantas bersanding dengan Dani? Tidak akan pernah, Senja. Bahkan kedua orang tuamu yang miskin itu saja tidak mau mengakuimu sebagai anak, karena kau itu anak pembawa sial!" Khaira berteriak begitu marah, ia bahkan tanpa ragu langsung mendorong Senja hingga hampir saja terjengkang lalu melayangkan tamparannya lagi.
Namun, kali ini tangannya tidak sempat mengenai pipi mulus Senja, karena Senja sudah lebih dulu menahannya membuat Khaira mengertakkan giginya sangat kuat.
"Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku brengsek!" teriak Khaira.
"Ya, aku memang miskin Khaira. Lalu apakah hal itu merugikanmu?" kata Senja.
"Jelas kau merugikanku, berapa kali aku bilang, jauhi Dani. Ingatlah Senja, kau itu hanya orang miskin, jangan pernah bermimpi untuk menggapai bulan. Bukankah terlalu timpang seorang orang miskin sepertimu ingin bersanding dengan Dani yang punya segalanya?" tukas Khaira dengan begitu pedasnya, pun lirikannya yang menghina Senja.
Senja tersenyum kecut, merasa miris dengan hidupnya sendiri, sejak kecil dia selalu saja seperti ini, dipandang sebelah mata oleh semua orang karena kondisinya yang serba kekurangan.
"Ya aku tahu Khaira, aku memanglah orang miskin yang tidak punya apa-apa. Terima kasih untuk tamparannya, sedikit menyadarkanku jika aku yang miskin ini ternyata begitu menganggumu," kata Senja mengulas senyumnya yang tipis, tapi bagi Khaira senyuman itu malah seperti sebuah ejekan baginya.
Senja segera pergi darisana setelah mengatakan hal itu, ia tidak sempat untuk melihat Rajendra karena ia sibuk mengusap air matanya yang sudah tidak terbendung lagi.
Rajendra yang melihat sikap Senja itu hanya bisa diam. Kagum, ya dia begitu kagum dengan sikap Senja yang begitu tenang menghadapi seorang yang begitu dominan seperti Khaira. Ia tadinya berpikir Senja akan menangis dan merengek, tapi ternyata dia salah.
"Senja ..."
Happy Reading.
TBC.
Visual Senja_
__ADS_1