Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 34. Rumit.


__ADS_3

Senja terbangun saat matahari menerobos masuk mengenai tepat diwajahnya. Ia sedikit menggeliat untuk merenggangkan otot tubuhnya yang begitu pegal. Sesaat ia mengernyitkan dahinya bingung melihat ruangan asing didepannya. Tapi ia kemudian kaget saat tahu jika ada orang lain yang tidur telungkup hingga menimpa tubuhnya.


"Rajendra!" pekik Senja begitu kaget dan langsung menjauhkan dirinya.


Rajendra hanya menggeliat dan kembali melanjutkan tidurnya, membuat Senja hanya bisa menutup mulutnya. Benar-benar kaget melihat posisinya dan Rajendra sangat intim. Bahkan keduanya tertidur hanya menggunakan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.


Menyadari hal itu, Senja langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Mengingat apa yang terjadi semalam.


Tidak, tidak terjadi apapun antara kita. Dia hanya menciumiku dan kita ...


Senja menghela nafas panjang saat ingatannya melayang pada saat Rajendra menciumnya dengan sangat lembut. Meski ia menolak, tapi perlakuan manis pria itu nyatanya mampu membuat ia luluh lantak dan malah terhipnotis oleh alur yang diciptakan Rajendra.


Senja tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa seluruh tubuhnya bergetar hingga tidak bisa untuk sekedar menarik nafas. Senja masih sangat ingat saat Rajendra menciumi setiap jengkal tubuhnya dengan bibirnya yang basah.


'Arghhhhhhhh, sial! Pria itu pasti merasa menang.'


Senja sangat malu sekali jika ingat ia sempat mengeluarkan suara laknatnya yang membuat ia hampir saja menyerahkan tubuhnya dengan sukarela pada Rajendra. Tapi untung saja sebelum itu semua terjadi, ia sudah tersadar dan meminta Rajendra untuk menghentikan itu semua.


'Aku tidak boleh terlena. Jika aku terus seperti ini, Rajendra pasti akan sangat mudah menindasku. Aku harus terus melawan agar Rajendra tahu kalau aku tidak takut dengan pria itu.'


Senja mengangguk meyakinkan dirinya sendiri. Mencoba berperang dengan hati dan pikirannya hingga beberapa saat kemudian ia memutusakan untuk turun dari ranjang lalu pergi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya sangat lengket sekali karena semalam habis kehujanan.


Saat Senja turun, Rajendra sedikit menggeliat sehingga selimut yang dipakainya melorot, menunjukkan punggung Rajendra. Melihat hal itu Senja segera membuang muka, ia sangat malu meski sudah pernah melihatnya.


________


Setelah membersihkan dirinya, Senja langsung pergi ke dapur. Ia tahu saat ini ia bisa saja kabur, tapi ia tidak melakukannya karena tahu jika Rajendra akan semakin marah padanya dan bisa saja melakukan hal yang lebih dari semalam.


Senja semalam sudah sangat takut jika Rajendra akan mengulangi apa yang pernah pria itu lakukan padanya tapi nyatanya tidak.


Hanya terjadi sesuatu yang mendebarkan antara keduanya. Tapi tidak sejauh itu.

__ADS_1


Senja menggelengkan kepalanya untuk mengusir ingatkan gilanya. Wajahnya kembali berseru merah saat mengingat bagaimana sentuhan itu.


"Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini terus," gumam Senja langsung pergi dimana tujuan awalnya, yaitu dapur.


Namun, saat Senja sampai diruang tengah, langkahnya terhenti tatkala melihat Revan yang datang kesana.


"Senja?" Revan begitu syok melihat Senja ada disana. Ia tidak membuang waktunya lagi, ia langsung menubruk wanita itu tanpa ampun dan memeluknya sangat erat.


"Tuan Revan?" Senja tak kalah kagetnya saat mendapatkan pelukan mengejutkan ini. Tubuhnya hanya bisa mematung tanpa berani membalas pelukan itu.


"Senja, aku sangat merindukanmu," lirih Revan menenggelamkan wajahnya dibahu Senja. "Kau darimana saja? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya seraya melepaskan pelukan itu.


Namun terlambat, Rajendra yang sudah terbangun sudah melihat bagaimana Adiknya memeluk Senja dengan sangat erat. Sehingga membuat emosinya kembali memuncak pagi-pagi buta begini.


"Jauhkan tanganmu dari wanitaku, Revan!" teriak Rajendra begitu keras, suaranya menggelegar didalam rumah yang masih sepi itu.


Keduanya begitu terkejut, Senja sendiri langsung menjauhkan dirinya dari Revan. Sedangkan Revan hanya melirik Kakaknya dengan malas. Kalau bukan ingin memastikan jika Senja memang benar-benar pergi atau tidak, Revan enggan sekali datang kerumah Kakaknya.


"Kenapa kau ada disini? Apa kau tidak tahu waktu, jam segini sudah bertamu ke rumah orang?" ujar Rajendra begitu datar.


"Bertamu?" Revan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Apa sekarang kita sudah menjadi orang lain, Kak?" sambungnya lagi, merasa Rajendra benar-benar berubah sekali.


Senja yang ada ditengah-tengah keduanya hanya diam saja. Tapi ia kaget saat menyadari jika wajah Rajendra dan Revan sama-sama lebam seperti habis bertengkar.


Apa yang telah terjadi antara keduanya?


"Aku tidak mau basa-basi, katakan saja keperluanmu apa disini. Jika tidak penting, silahkan pergi, jangan menganggu Senja," titah Rajendra masih tetap bersikap datar.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dari itu?" ucap Revan malah menantang saja.


"Tentu saja ada, lagipula kau tidak begitu mengenalnya. Aku yang lebih dulu mengenal dia dari pada kau!" seru Rajendra ingin menunjukkan siapa yang lebih berhak atas Senja.

__ADS_1


"Kau mungkin yang lebih dulu mengenalnya, tapi aku yang lebih dulu menyukainya," kata Revan tanpa keraguan sama sekali.


Namun, ucapannya itu berhasil membuat Rajendra dan Senja begitu kaget. Terutama Senja yang langsung menatap Revan tak percaya.


"Apa kau bilang?" Rajendra menahan emosi dengan mengepalkan tangannya.


Revan terdiam sesaat, ia melirik Senja yang masih terus menatapnya itu. Lalu ia pun menjawab dengan suara yang lebih tegas dari sebelumnya.


"Aku menyukai Senja."


"Brengsek!" Rajendra langsung merangsek maju ingin memukul Adiknya, tapi Revan sudah lebih dulu menahan tangannya.


"Kau ingin apa Kak? Memukulku? Silahkan saja, tapi itu tidak mengubah perasaanku pada Senja. Aku memang sangat menyukainya bahkan sebelum kau!" kata Revan menghempaskan tangan Rajendra dengan kasar.


Rajendra tersenyum sinis. "Kau yakin akan terus menyukainya jika kau tahu siapa dia? Dia itu ... ." Rajendra ingin mengatakan kalau Senja adalah istrinya dan mereka berdua sudah berhubungan, tapi Revan langsung menyela begitu saja.


"Aku tidak perduli siapa dia ataupun statusnya, yang terpenting aku sangat menyukainya," sergah Revan begitu tegas, kali ini ia menatap Senja dengan tatapan teduhnya.


Revan tahu jika semua ini mungkin terkesan mendadak, tapi ia memang sudah menanyakan kepada hatinya berulang kali. Dan jawabannya memanglah ia sangat menyukai Senja dan tidak ingin kehilangan wanita itu.


Rajendra mengertakkan giginya, ia hampir saja memaki Adiknya itu. Tapi ia menahannya karena semua itu tidak ada gunanya.


"Baiklah, kau sudah mengungkapkan perasaanmu. Sekarang kita suruh Senja memilih, dia mau menerimamu, atau masih tetap ingin bersamaku," ujar Rajendra ikut melirik Senja yang masih diam saja itu.


"Tidak masalah." Revan mengangkat bahunya tidak keberatan sama sekali. "Senja, sekarang keputusan ada di tanganmu. Kau masih ingin bertahan, atau ikut denganku? Percayalah, aku akan memberikanmu kebahagiaan itu," ucap Revan beralih menatap Senja.


Senja terdiam, ia benar-benar kaget dengan situasi yang dihadapinya saat ini. Ia memandang Rajendra dan Revan bergantian. Entahlah, kenapa ia malah terjebak diantara kedua bersaudara ini. Sekarang apa yang harus dilakukannya?


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2