
Warga kota Nevardan dibuat terheran-heran saat ada helikopter yang mendarat di lapangan daerah mereka. Bahkan beberapa warga tampak berbondong-bondong hanya untuk melihat helikopter itu. Penasaran akan siapa yang datang sampai menggunakan helikopter seperti itu.
Rajendra yang mendapatkan kabar dari asistennya segera mengajak Senja untuk pergi meninggalkan rumahnya. Ia mengabaikan tatapan sinis para warga disana. Sindiran dan cemoohan juga tak luput dari mulut tajam para warga itu membuat Rajendra ingin sekali merobek mulutnya.
"Akhirnya si pembawa masalah pergi dari kota ini. Kota kita jadi terbebas dari pengaruh sial," cemooh Khaira melirik Senja dengan begitu sinisnya.
"Wah, kau benar sekali Sayang. Hanya karena satu wanita pembawa sial kota kita bisa ikut sial nantinya. Sebaiknya kau cepat pergi darisini Senja," timpal Dani ikut-ikutan menghina Senja.
Senja mengepalkan tangannya sangat kuat, emosi yang sejak tadi terpendam didalam hatinya seolah menguar ingin sekali dilampiaskan.
"Tutup mulut kalian berdua! Sebenarnya aku ini salah apa pada kalian ha? Kenapa kalian begitu tega melakukan ini padaku? Apakah aku pernah merugikan kalian? Tidak 'kan? Lalu kenapa kalian begitu tega padaku!" jerit Senja tidak tahan lagi.
Semenjak ia hidup, ia tidak pernah merasakan bagaimana itu keadilan. Hidupnya sejak kecil selalu saja ditindas karena ia tidak punya apa-apa.
Tapi, apakah itu salahnya? Jika boleh meminta, Senja pun tidak mau dilahirkan sebagai orang miskin.
"Kenapa kalian diam? Ayo hina aku lagi sepuas kalian. Akan aku ingat baik-baik wajah kalian semua, bagaimana kalian tertawa melihat kesedihanku ini. Akan aku ingat semua!" Senja kembali menjerit melupakan segala emosinya hingga membuat semua orang terdiam.
"Sudahlah, jangan urusi mereka. Sebaiknya kita pergi," ujar Rajendra menarik tangan Senja agar secepatnya pergi dari tempat menjijikan itu.
Rajendra tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini, ia hanya merasa kasihan melihat apa yang dialami Senja. Ia mungkin tidak tahu bagaimana hidup Senja selama ini, tapi mendengar bagaimana Senja berbicara dan apa yang dialami wanita itu beberapa hari ini, membuat Rajendra bersimpati kepadanya.
__ADS_1
"Aku akan pergi, tapi setelah aku mengembalikan apa yang harus dikembalikan," ujar Senja melepaskan tangannya sejenak.
Senja berjalan mendatangi Khaira yang masih menatapnya dengan sinis. Ia menatap wanita itu sangat tajam dan penuh emosi.
"Ada apalagi? Pergilah, suami barumu sudah menunggu. Semoga mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan yang pasti suamimu tidak ikut sial karena hidup denganmu," ucap Khaira begitu pedasnya.
"Tenanglah, aku pasti pergi. Aku hanya ingin mengembangkan apa yang pernah kau berikan padaku," kata Senja dengan raut wajah yang tidak tertebak.
"Apa?"
Khaira bertanya bingung, tapi sedetik kemudian ia sangat kaget saat tiba-tiba saja ia merasakan tamparan yang sangat keras dipipinya. Sangking kagetnya membuat mulut Khaira ternganga.
Plak
Dua kali tamparan keras Khaira dapatkan dari Senja. Wanita itu sudah berada diambang batas kesabarannya.
"Kurang ajar! Senja kau!" Khaira begitu marah, ia mengangkat tangannya untuk membalas apa yang dilakukan Senja.
Namun, Senja sudah lebih dulu sigap mengangkat tangan Khaira dan menggenggamnya dengan kuat.
"Sudah cukup Khaira, sudah cukup selama ini aku diam. Sekarang jika kau berani menghinaku lagi, aku bisa melakukan yang lebih dari ini. Percayalah aku sangat ingin melakukannya," kata Senja begitu ketus dan dingin.
__ADS_1
Senja lalu menghempaskan tangan Khaira dengan kasar hingga wanita itu hampir jatuh. Untung saja Dani segera menangkapnya sehingga Khaira tidak terpental ke tanah.
Senja mengacungkan jari tengahnya sebelum ia berbalik pergi menghampiri Rajendra yang sudah menunggunya. Sejujurnya saat ini Senja masih sangat ragu untuk ikut Rajendra, pria asing yang bahkan belum ia tahu namanya itu. Tapi ia tidak punya pilihan lain, jika ia tidak ikut pergi, kemana lagi ia akan mencari tempat tinggal?
"Kita pergi sekarang?" tanya Senja.
"Ya, disini pun tidak punya tempat tinggal 'kan?" sahut Rajendra seperti biasa datar dan dingin.
"Ehm ..." Senja bergumam pelan, ia menatap helikopter didepannya lalu menatap kota kecilnya lagi. Haruskah ia benar-benar pergi sekarang?
"Ayo, kita tidak punya banyak waktu lagi," tegur Rajendra dengan suara yang cukup keras karena baling-baling helikopter itu sudah menyala dengan suara yang keras.
Senja tersentak, ia memandang Rajendra kembali sebelum menunduk seraya menarik nafas panjang.
Sudah tidak ada jalan mundur lagi.
Setelah meyakinkan hatinya sendiri, Senja akhirnya memberanikan diri untuk menyambut uluran tangan Rajendra. Lalu, keduanya naik ke helikopter itu dan pergi meninggalkan kota Nevardan.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1