Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Doom


__ADS_3

***


Harapan dimas untuk bisa melihat maira lagi belum terlaksana.


Tiga sabtu malam dimas lewati, dengan harapan, dia bisa melihat maira di depannya lagi, tapi maira tak kunjung menunjukkan wajahnya di depan dimas.


Hanya bayangan maira yang menemani dimas setiap harinya.


Benaknya, menghibur dimas kalau maira bukanlah gadis yang bisa ia pacari, tapi hatinya, tak berhenti menyiksa dimas dengan memaksa dimas, untuk merindukan maira.


"Nggak ke studio dim pagi-pagi gini", tanya roni, mahasiswa yang sudah seharusnya lulus, tapi masih gentayangan di kampus.


Dimas lebih memilih mendatangi basecamp mapala di kampusnya, dan absen dari studio.


Roni yang merupakan ketua mapala, dia menjadi penghuni tetap basecamp, bahkan tak jarang, dia menginap di basecamp mapala.


"Lagi nggak semangat aku", jawab dimas.


"Kamu bisa gantiin aku nemuin krisna sama bagas nggak di kampus mereka, aku ada bimbingan skripsi soalnya, kalau tahun depan nggak lulus, aku bisa kena drop out", ujar roni dengan khawatir.


"Makanya buruan lulus, betah amat sih di kampus", ujar dimas.


"Bisa nggak dim", tanya roni lagi.


"Jam berapa", tanya dimas.


"Jam sembilan", jawab roni.


"Kampus bagas sama krisna dimana sih, atma bukan ya", tanya dimas.


"Bukanlah, mereka anak pancasila", jawab roni.


Mata dimas langsung terbuka lebar, dan menyanggupi keinginan roni untuk menggantikannya.


"Apa aja yang mau di bahas", tanya dimas antusias.


"Cuma soal bakti sosial libur semester nanti, paling bentaran doang", ujar roni meyakinkan dimas.


"Oke deh", jawab dimas dengan senang.


Dimas melihat jam di tangannya, dan waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi.


Dimas masih punya waktu dua jam lagi untuk pergi ke universitas pancasila.


Dimas kemudian keluar dari basecamp mapala, dan berjalan ke studio tematik yang ada di lantai tiga.


Dimas sadar kalau kesempatannya untuk bisa bertemu maira tidak sampai lima puluh persen, tapi dimas akan gunakan waktu yang sebaik-baiknya, untuk nongkrong selama mungkin dengan krisna dan bagas di kampus mereka.


Sampai di studio, dimas menulis daftar hadir, dan langsung duduk, lalu membuka laptopnya, untuk mulai mempelajari materi konstruksi lanjut.


Berulangkali dimas melihat jam di tangannya, sampai akhirnya waktu menujukkan pukul 08.45 pagi.


Dimas bergegas keluar dari studio, dan langsung turun ke parkiran.


Sampai di kampus pancasila, krisna dan bagas memberi dimas pesan, kalau mereka menunggu dimas di samping perpustakaan.


"Kenapa nggak di kantin aja sih", gumam dimas dalam hati.


Dimas kemudian bertanya pada salah satu mahasiswa yang dimas temui di parkiran.

__ADS_1


"Perpustakaan sebelah mana ya", tanya dimas pada mahasiswa tersebut.


Dia kemudian memberi tahu dimas arah menuju perpustakaan.


"Makasih ya", ujar dimas pada mahasiwa tersebut.


Dimas kemudian berjalan ke arah perpustakaan, dan melihat krisna, bagas serta dua mahasiswa lainnya, sedang duduk, di taman tematik, sambil tertawa, di samping kanan perpustakaan.


Dimas kemudian menyalami ketiganya, begitu dimas di dekat mereka.


Baru saja dimas akan duduk, matanya menangkap wajah imut dan cantik yang sedang duduk di dalam perpustakaan.


Wajah yang sudah menghantui dimas selama sebulan terakhir.


Perpustakaan di universitas pancasila, separuh design bangunanya, terbuat dari kacang bening, yang bisa terlihat dengan mudah dari luar.


Mata dimas langsung berbinar melihat maira, dan lagu sempura dari andra & the backbone mulai mengalun di benak dimas, saat dimas memandang wajah polos maira.


Bibir maira yang terlihat alami, serta rambut panjangnya yang diikat menyerupai ekor kuda, mengukir senyum di wajah dimas.


Belum lagi saat maira yang terlihat begitu serius menulis dengan tangan kecilnya, membuat bayangan seksi maira di benak dimas, tergantikan dengan pesona alami yang maira miliki.


Maira menghapus semua yang ada di benak dimas, dan menggantikan seluruhnya dengan siluetnya.


Hati dimas juga langsung berdebar kencang.


Dimas selesai, segalanya terhapus, hatinya sudah sepenuhnya di curi oleh maira, dan benaknya di ambil alih oleh pesona maira.


"Dim", panggil krisna yang melihat dimas hanya terdiam.


"Oh ya, gimana-gimana", tanya dimas.


Dimas hanya menganggukkan kepalanya, seolah-olah dia menyimak penjelasan bagas, tapi perhatian dimas sepenuhnya di ambil oleh maira.


Tiga puluh menit percakapan dimas dan anak mapala dari pancasila, hanya dimas simak selama dua menit, sisanya dimas gunakan untuk mencuri pandang ke arah maira.


"Jadi sepakat ya, nanti kita bahas lagi di pertemuan selanjutnya", ujar krisna.


"Oke", jawab dimas singkat.


"Dim mau ikut kita sarapan ke kantin nggak", ajak bagas pada dimas.


"Udah makan aku, santai aja kalau kalian mau makan dulu", ujar dimas.


"Yaudah ngopi di kantin gimana", ajak krisna.


"Perpustakaan kalian buku soal arsiteknya lengkap nggak", tanya dimas tanpa menjawab ajakan krisna.


"Lengkap kok", jawab bagas, yang juga merupakan mahasiswa arsitektur.


"Aku mampir perpustakaan aja dulu, mau ngecek materi untuk tugas dari dosen semester ini", jawab dimas.


"Oke deh, kita duluan yang dim", ujar bagas.


Dimas memberikan jempolnya untuk bagas, krisna, dan yang lainnya.


dimas langsung berjalan menuju pintu masuk perpustakaan, sementara bagas dan yang lainnya menuju kantin.


Sampai di dalam perpustakaan, dimas berpura-pura mencari buku soal arsitek, tapi ternyata lorong rak buku yang menyimpan materi-materi arsitektur, sangat jauh dari tempat maira duduk.

__ADS_1


Dimas kemudian mengambil salah satu buku, dan membacanya di lorong, yang tidak jauh dari tempat maira duduk.


Maira yang entah sedang mengerjakan tugas, atau sedang mencatat materi kuliah, tidak merasa kalau dimas memandanginya dari celah-celah rak buku di perpustakaan.


Dimas hanya punya kesempatan dua puluh menit, karena tak lama, maira membereskan buku-bukunya dan keluar dari perpustakaan.


Dimas kemudian mengejar maira, menyapanya, dan mengajaknya jalan.


Maira menolak dimas tanpa berpikir panjang, dan dimas tidak bisa menerima perlakuan maira.


Dimas mengejar maira dan berusaha mengajaknya jalan lagi.


Dimas enggan di tolak, dan maira akhirnya menyetujui untuk pergi dengannya.


Rasa kesal, rasa senang, rasa puas, menyelimuti dimas yang berjalan menuju motornya.


Sampai di kampusnya kembali, dimas langsung menuju studio, dan sudah ada duo partnernya di kampus, rizal juga rumi.


"Punya kesulitan hidup apa kalian", tanya dimas dengan angkuhnya pada rizal.


"Kesambet apa kamu", tanya rumi pada dimas.


Dimas tidak menjawab rumi dan langsung duduk di mejanya.


"Dim kamu bisa mulai kerja praktek hari rabu depan ya, seminggu harus absen tiga kali", ujar rizal.


"Oke", jawab dimas dengan muka senang.


Rizal dan rumi hanya menatap dimas dengan kerutan di dahi mereka.


Satu bulan dimas dan rumi hanya mendengar helaan nafas panjang dimas, atau keluhan dimas.


Pagi ini tidak ada hujan, anginpun tak berhembus, tapi perubahan mood dimas terasa sangat drastis.


Rumi dan rizal, akhirnya memilih kembali mengerjakan tugas mereka, dan mengabaikan dimas yang tidak berhenti tersenyum.


Dimas baru kelur studio pukul tiga sore, dan langsung pulang ke kos dengan mood yang sangat bagus.


"Telat lagi makannya", ujar ibu pemilik warung, yang sudah menjadi tempat langganan dimas untuk makan.


Dimas hanya tersenyum, lalu memilih lauknya.


Rencananya, dimas akan menghabiskan waktunya dengan maira, hanya untuk menatap maira, dan makan seperlunya, jadi dimas harus mengisi perutnya terlebih dahulu.


Pukul empat sore, dimas sudah mandi, dan mulai sibuk memilih kaos yang akan ia kenakan.


Sepuluh menit sebelum pukul lima sore, dimas sudah rapi dan wangi, dia sudah siap berangkat ke kampus maira.


Baru saja dimas mengunci pintu kamarnya, bunyi suara pesan masuk di handphonenya terdengar.


Dimas langsung melihat siapa yang meninggalkan pesan, ternyata maira.


Dengan wajah sumringah, dimas membuka pesan maira, dan detik selanjutnya, mendung kembali menghiasi wajah dimas.


Maira membatalkan janjinya, padahal dimas sudah sangat mengharapkan makan malam dengan maira.


Dengan perasaan marah, dimas kembali masuk ke kamarnya, melepas topinya, lalu berteriak di dalam bantalnya.


***

__ADS_1


__ADS_2