Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Sakit Apa ?


__ADS_3

Setelah mengetahui kebenarannya, Ririn akhirnya mengikuti David masuk ke ruang rawat Raka. Membuat Arya sangat terkejut melihat kedatangan wanita yang masih menjadi istri dari tuannya.


Arya mundur ke belakang untuk memberikan Ririn tempat tepat di samping Tuannya. Kemudian Arya bertanya kepada David dengan memberikan kode.


Ririn terisak saat melihat Raka sedang terlelap. Tubuh suaminya itu terlihat lebih kurus. Ia meraih, memegang tangan yang terlihat kurus dan memucat. Raka mengerjabkan mata karena mendapatkan sentuhan. Ia kemudian tersenyum mendapati Istrinya ada di depan matanya saat terbangun.


Ririn membalas senyuman itu sambil menangis bercampur bahagia.


"Tuan sudah sadar. Saya akan panggilkan dokter." Raka mendengar samar suara Arya.


"Tolong jangan bangunkan aku sekarang. Aku ingin menikmati mimpi indah ini beberapa saat lagi." menurut Raka saat ini ia sedang bermimpi, Ririn ada di depannya.


"Sayang mengapa menangis ?" tanya Raka dengan suara lemah. Ia menganggap masih berada dalam mimpi.


Belum sempat Ririn membuka suara, dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa Raka. Dokter itu kemudian menatap Ririn. Baru kali ini dokter Gavin melihat melihat wanita yang menemani Raka selama hampir lima tahun merawat sang CEO. Apa mungkin ini istrinya ? tanya dokter Gavin dalam hatinya.


"Saatnya minum obat anda, tuan." kata dokter Gavin.


"Sebentar lagi dok." jawab Raka tapi pandangannya tidak beralih, masih terus menatap istrinya. Ia takut bayangan Ririn akan menghilang jika mengalihkan pandangannya atau bahkan berkedip.


"Nona ini obat yang harus diminumnya." dokter Gavin memberikan napan yang berisi obat-obatan yang harus di minum oleh Raka.

__ADS_1


"Terima kasih, dok." balas Ririn.


Raka mengedipkan matanya berulang kali saat mendengar suara Ririn. Apakah ini nyata, bukan dalam mimpi. Ataukah dokter Gavin yang masuk ke dalam mimpinya. Raka kemudian mengepalkan tangan untuk merasakan jika saat ini ia benar-benar dalam keadaan sadar. Ia melihat satu persatu wajah orang-orang yang ada dalam kamarnya. Setelah itu ia kembali menatap istrinya.


"Sayang." Raka mengangsurkan tangannya untuk menggapai wajah cantik Ririn yang selai ini hanya melihatnya dari jauh.


Ririn memegang tangan Raka yang berada di pipinya sambil tersenyum.


"Astaga. Ana. Ini benar-benar kau, sayang ?" tanya Raka di sertai tangis haru nya. Ia segera bangun untuk memeluk istrinya.


Ririn membantu Raka untuk bangun, melihat pria itu begitu kesusahan untuk menegakkan tubuhnya. Akhirnya mereka saling berpelukan. Melepaskan rindu setelah lama tidak tidak melakukanya.


"Ini minum obatnya dulu." Ririn memberikan obat dan air minum kepada Raka setelah mereka melepaskan pelukan.


"Terima kasih, sayang." Raka mengembalikan gelas yang sudah kosong kepada Ririn. Senyum tidak putus menghiasi wajah pucat nya.


Raka terus menggenggam tangan Ririn, seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Sesekali ia mencium tangan lembut itu.


"Sayang, aku minta maaf." ucap Raka meminta maaf dengan tulus.


"Seharusnya aku yang minta maaf. Aku salah. Tidak pernah memberikan kesempatan untuk mu berbicara." balas Ririn. Air matanya kembali tumpah. Mengingat keegoisannya yang membuat mereka berpisah.

__ADS_1


"Tidak, sayang. Semua salahku dan membuat mu salah paham. Aku bersumpah, aku sangat mencintaimu. Hanya kau hidup dan mati ku." Raka mencium tangan istrinya lagi. Ririn sangat terharu mendengar pengakuan Raka.


"Mengapa kau tidak pernah datang menemui ku. Kau tau betapa sulitnya aku melewati hari-hari itu." ucap Ririn masih terisak, mengingat saat awal-awal kehamilannya.


"Aku takut kau akan nekat melukai dirimu sendiri jika melihat ku. Tapi percayalah aku selalu berada di sekitar mu. Aku tidak pernah meninggalkan mu."


balas Raka.


Lama mereka berdua saling bercerita tentang perasaan masing-masing. Sehingga tak terasa hari sudah semakin sore.


"Aku sudah terlalu lama di sini. Sebaiknya aku pulang sekarang agar kau bisa beristirahat." kata Ririn yang baru menyadari hari sudah sore.


"Tapi..... Ah, iya. Pulanglah. Putra kita pasti sudah merindukanmu." ucap Raka. Awalnya ia tidak ingin Ririn pergi, tapi saat mengingat jika anaknya sedang tinggal di rumah, akhirnya Raka membiarkan Ririn pulang.


"Iya. Aku sudah terlalu lama meninggalkannya."


"Sayang, bisakah aku menemuinya dan memeluknya ?" tanya Raka.


"Tentu saja. Tapi tunggu kau keluar dari sini. Anak kecil tidak baik di bawa main ke rumah sakit." jawab Ririn.


"Oh, ya. Kapan kau bisa keluar. Memangnya kau sakit apa ? kau terlihat sangat kurus." lanjutnya lagi. Sejak tadi ia lupa menanyakan tentang sakit Raka yang membuatnya hingga di rawat di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2