
Tiga hari kemudian Raka sudah pulang dari rumah sakit. Sebenarnya dia yang memaksa untuk pulang. Setelah dokter mengecek kondisi kesehatannya, akhirnya dokter Gavin mengizinkan.
Ririn melihat jalanan yang di lalui oleh mobil yang dikendarai Arya. "Kau ingin pulang ke rumah ku ?" tanya Ririn melihat kearah Raka yang duduk di sampingnya. Ririn cukup mengenali jalanan ini.
"Aku tidak sabar ingin bertemu dengan putra ku." jawab Raka. Senyum terkembang di wajahnya karena sebentar lagi bisa memeluk Arkan di tangannya.
Sesampainya di rumah, Ririn membawa Raka masuk dari pintu samping. Mereka tidak mungkin masuk melalui dalam cafe. Pastinya akan menjadi perhatian pengunjung cafe. Siapa yang tidak kenal CEO Wiratama Grup. Di kalangan anak muda, Raka menjadi panutan sebagai usahawan muda yang sukses.
"Dia sedang tidur." perlahan Ririn menutup pintu kamar putranya. Terlihat raut kecewa di wajah Raka, tapi hanya sesaat. Kini wajah itu kembali tersenyum. "Apa kau tidak menawarkan aku untuk beristirahat ?"
"Oh, iya. Mari aku antar ke kamar." ajak Ririn tanpa rasa curiga.
Raka mengamati ruangan kamar yang tampak sederhana namun cukup nyaman dan bersih. "Apa ini kamar mu ?"
"Iya. Ruko ini hanya ada tiga kamar dan satunya lagi untuk mba Dewi." Mba Dewi adalah pengasuh Arkan sekaligus membantu membersihkan rumah.
Raka mengangukan kepala sambil berjalan menuju ranjang.
__ADS_1
"Tunggulah di sini. Aku ambilkan air dan makanan siang untukmu." ucap Ririn. Raka ingin mencegahnya tapi wanita itu sudah keluar dan menutup pintu dari luar.
Beberapa menit kemudian, Ririn kembali membawa napan di tangannya. "Makanlah, setelah itu minum obatnya." Ririn juga menyiapkan obat yang di letakkan di nakas samping tempat tidur.
Setelah menyiapkan semuanya, Ririn ingin beranjak dari sana. Tapi, tiba-tiba Raka menarik tangannya sehingga wanita itu jatuh ke pangkuannya "Mau kemana hemm ?" bisik Raka di telinga istrinya.
"A-aku ingin melihat Arkan." Ririn menunduk, menyembunyikan wajah meronanya.
"Apa kau tidak pernah merindukan aku selama ini ?" Raka semakin mengeratkan belitan tangannya di pinggang ramping Ririn.
Jantung Ririn semakin berdegup kencang saat hembusan napas Raka menerpa kulit tengkuk belakangnya. Yang berhasil membuat tubuh wanita itu panas dingin. Raka mengecup sekilas pundak Ririn sebelum memutar tubuh istrinya. Kini mereka saling berhadapan. Ririn menunduk, menyembunyikan rona di wajahnya.
"Makanlah, nanti makanannya jadi dingin." ucap Ririn.
"Suapi aku seperti biasa." pinta Raka dengan senyum di wajahnya. Akhirnya Ririn menyuapi Raka hingga makanan di piring itu habis.
Setelah selesai makan dan minum obat. Raka meminta Ririn tetap menemaninya di kamar. Sedikitpun ia tidak ingin jauh dari istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang, bolehkah aku meminta sesuatu pada mu ?" ucap Raka sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Minta apa ?" Ririn balik bertanya.
"Aku ingin kau berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan aku lagi." pinta Raka.
"Kenapa ?" tanya Ririn.
"Karena aku tidak bisa hidup tanpa mu." jawab Raka.
"Hmm, gombal." Ririn mencebik mendengar perkataan Raka.
"Nyatanya kau masih hidup sampai sekarang." lanjut Ririn lagi.
"Coba kau lihat apa aku baik-baik saja setelah kau pergi ? aku rasa dokter Gavin pasti sudah menjelaskan semuanya pada mu." balas Raka.
Dalam hati Ririn pun membenarkan perkataan Raka. Dari keterangan dokter Gavin pun demikian. Raka mulai menderita berbagai macam penyakit sejak lima tahun yang lalu. Hampir setiap bulan ia datang ke rumah sakit dan beberapa kali harus di rawat inap. Raka juga terlihat lebih kurus dengan wajah yang tampak tirus.
__ADS_1
"Jadi, bisakah kau berjanji untuk tidak meninggalkan ku ?" Raka mengulangi pertanyaannya.
Ririn mengangguk perlahan "Baiklah. Aku janji tidak..."