Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Jangan Mendekat


__ADS_3

Belum sempat bibir Raka bersentuhan dengan bibir Ririn, wanita itu sudah lebih dulu mendorong tubuh Raka sehingga tangannya terlepas dari tubuh Ririn.


"Apa yang ingin kau bicarakan ?" tanya Ririn setelah duduk saling berhadapan dengan Raka. Tak ada tatapan cinta apa lagi takut di mata Ririn. Rasa kecewa cukup untuk membuatnya bertindak tegas melawan Raka.


"Ana apa yang terjadi kepada mu ?" Raka bertanya apa yang selama ini tersimpan dalam hatinya. Ia mengetahui jika Ririn di culik oleh tuan Bagaskara, tapi ia juga ingin tau apa yang di pernah di sampaikan oleh ayah mertuanya tentang Ririn waktu itu.


"Aku rasa kau pasti sudah mengetahuinya tanpa perlu aku menjawab." jawab Ririn datar.


"Tapi aku ingin mendengar penjelasan dari mulut mu sendiri."


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Semuanya sudah berakhir. Kau sudah dapat apa yang kau inginkan. Silahkan kau mengurus surat perceraian kita."

__ADS_1


Bagaikan petir di siang bolong mendengar kata-kata Ririn. Mengapa tiba-tiba istrinya itu meminta cerai.


"Apa maksud mu, ana ?" Raka tidak mengerti mengapa bisa Ririn berkata demikian.


"Aku rasa kau masih ingat alasan mengapa kita menikah ? aku telah menebus kesalahanku dengan memilih menikah dari pada masuk penjara. Sekarang tujuan mu menikah dengan ku sudah tercapai." ucap Ririn tegas mengingatkan Raka.


"Tidak ! sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan mu." bantah Raka.


"Aku rasa kau pasti sudah tau jika aku adalah anak dari musuh mu yang telah membunuh orang tua mu."


Raka tetap memaksa dan berusaha mendorong tubuh Deny sehingga laki-laki itu terpaksa bertindak kasar kepada Raka. Melihat itu Arya segera menyerang Deny. Seketika mereka berdua terlibat dalam aksi perkelahian.

__ADS_1


Raka kembali mendekat kepada Ririn, ingin membawanya pergi, tapi Ririn segera meraih pisau yang ada di atas meja.


"Jangan berani mendekat !" Ririn mengarahkan pisau ke pada dirinya sendiri mengancam Raka.


"Ana apa yang kau lakukan ? jangan melukai diri sendiri." Raka menjaga jarak dengan Ririn agar istrinya itu tidak berbuat nekat.


"Pergilah jika kau tidak ingin melihat aku mati." ucap Ririn yang sudah menempelkan pisau ke lehernya.


"Tidak, jangan lakukan itu. Baiklah aku akan pergi." Raka mundur perlahan sampai menuju pintu keluar. Melihat Raka yang sudah keluar, Arya berhenti melawan Deny dan segera menyusul tuanya.


Ririn terduduk lemas sambil menangis setelah Raka pergi. Sudah sekian lama berpisah nyatanya ia masih tetap mencintai laki-laki yang hanya menjadikannya alat untuk balas dendam. Ririn berusaha bersikap dingin dan tegas di hadapan Raka hanya untuk menutupi perasaan cintanya kepada laki-laki itu. Ia pasti akan lemah kepada Raka jika karena cintanya yang begitu besar kepada suaminya itu.

__ADS_1


Deny mengambil pisau yang tergeletak di samping Ririn. Menjauhkan benda berbahaya itu darinya. Ia juga takut jika nonanya itu berbuat nekat. Deny masih berdiri di sana, menunggu sampai Ririn menjadi lebih tenang. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa.


Lebih dari setengah jam, Ririn baru berdiri tegak dan menyeka air matanya. "Antarkan aku pulang." perintahnya kepada Deny sambil berjalan menuju pintu keluar. Ririn mengurungkan niatnya untuk datang ke rumah orang tuanya karena perasaannya yang menjadi kacau di sebabkan oleh kedatangan Raka yang tiba-tiba.


__ADS_2