
Wanita yang ada di depan Raka begitu bahagia ketika laki-laki itu tersenyum. Ia merasa sangat beruntung karena CEO Wiratama Grup yang terkenal dingin dan kaku mau berbicara dengannya malam ini.
Wanita itu tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia akan mengeluarkan jurus untuk menggoda sang CEO.
"Apa kah anda sendirian malam ini, tuan ?" tanya wanita itu dengan suara yang sangat lembut menggoda.
Meskipun Raka tersenyum di depan wanita itu, tapi ekor matanya melirik ke arah lain. Melihat Raka tersenyum wanita itu mengulurkan tangannya ingin menyentuh dada pria didepannya. Melihat Ririn sudah pergi dari sana, Raka meletakkan gelasnya di tangan wanita yang sedang terulur di depannya. Raka pun pergi dari sana meninggalkan wanita itu yang terlihat sangat kesal. Raka hanya berpura-pura mendekati wanita itu untuk membuat Ririn cemburu. Seperti Ririn yang juga berusaha untuk membuatnya cemburu dengan menggandeng tangan Alex.
Kemana dia ?
Raka menyusul tempat yang di lalui oleh Ririn tadi. Tapi ia tidak mendapati wanita itu ada di sana.
Sementara itu, di luar ruangan. Deny sedang memperhatikan Ririn yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu hotel.
"Cukup nona ?" Deny mengambil gelas di tangan Ririn. Sejak tadi ia melihat Ririn sudah menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol.
__ADS_1
"Kembalikan gelas ku. Kalau kau mau ambil saja sendiri." Ririn berbicara dengan gelagat yang aneh sambil berusaha merebut gelas dari Deny. Tapi karena matanya mulai berkunang-kunang tangan Ririn hanya menggapai udara.
"Nona, mari saya antar kan anda pulang." ucap Deny karena melihat Ririn yang sepertinya sudah mabuk.
"Acaranya belum selesai, kita tidak bisa pulang. Kita tidak boleh mendahului atasan. Kau tau, nanti kita bisa di pecat." Racau Ririn sambil berdiri dengan sempoyongan.
"Ayo, kembali ke dalam." Ririn mencoba berjalan dengan kesusahan.
"Apa ini ? menganggu saja." Ririn mencopot high heels nya dan membuang benda itu karena merasa susah untuk ia berjalan.
"Tidak, nona. Anda sudah mabuk. Saya akan membawa anda pulang." mau tidak mau Deny harus memaksa Ririn untuk membawanya pulang setelah menginformasikan kepada Alex.
"Biar aku yang mengurusnya." ucap Raka dengan menatap tajam ke arah Deny.
"Tidak, saya akan yang akan mengantarkan nona pulang." jawab Deny kekeh.
__ADS_1
"Dia istriku. Aku tidak akan mengizinkan siapapun menyentuhnya." ucapan Raka membuat Deny kalah telak. Raka memang lebih berhak untuk membawa Ririn, apa lagi wanita itu dalam kondisi mabuk. Akhirnya Deny menyerahkan Ririn kepada Raka.
Raka tersenyum smirk dan segera menggendong istrinya. Arya membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Hey, kenapa kita masuk ke mobil ? kita benar-benar akan di pecat." Ririn menagkup wajah Raka dengan ke dua tangannya.
"Deny mengapa wajah mu mirip sekali dengannya ?" Ririn melihat samar-samar wajah Raka.
"Ah, iya. Kau benar. Sepertinya aku sudah mabuk. Dia tidak mungkin ada di sini karena dia sedang bersama dengan seorang wanita cantik tadi." racau Ririn.
Raka tersenyum mendengar ocehan Ririn. Kali ini ia tidak hanya diam, Raka menimpali ucapan Ririn.
"Apa kau cemburu melihatnya ?" tanya Raka.
"Hahaha, mana mungkin aku cemburu. Aku tidak peduli apa yang ingin ia lakukan." ucap Ririn tegas.
__ADS_1
"Benarkah ?" Raka sedikit kecewa mendengarnya. Meskipun Ririn dalam keadaan mabuk. Tapi Raka percaya biasanya orang mabuk selalu bicara jujur.
"Hah. Aku akan beritahu kau satu rahasia." ucap Ririn setengah berbisik, membuat Raka mengernyitkan dahinya. Rahasia apa yang akan di katakan oleh wanita itu