
Setelah bertemu klien sekaligus makan siang, Arya melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Mengapa kita ke sini ?" tanya Raka.
"Dokter Gavin menelpon agar anda melakukan pengecekan kesehatan. Sudah tiga bulan anda tidak melakukannya." Raka mengangguk mendengar keterangan dari Arya.
Sesampainya di parkiran, mereka melihat Deny yang juga baru tiba di rumah sakit. Perasaan Raka menjadi tidak enak. Raka takut terjadi sesuatu lagi kepada Ririn. Meskipun ia sudah mengetahui jika Istrinya itu tidak mengalami luka yang serius saat terjatuh kemarin. Akhirnya, mereka mengikuti Deny sampai ke ruangan IGD.
"Apa anda suami pasien ?" tanya dokter melihat Deny yang baru saja tiba.
"Iya." jawab Raka dari belakang yang membuat Deny terkejut. Raka melihat tubuh Ririn yang sedang tertidur di brangkar sehingga membuatnya cemas.
"Istri saya kenapa dok ?" lanjutnya lagi.
"Oh, maafkan saya, tuan. Saya tidak mengenali istri anda." dokter wanita itu terkejut karena ia mengenal siapa Raka. Laki-laki yang sedang merasa cemas itu tidak memperdulikan ucapan Dokter.
"Kenapa istri saya ?" Raka mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Selamat, tuan. Istri anda sedang hamil. Usia kehamilannya saat ini sudah berjalan enam Minggu." kata dokter.
Raka bagaikan baru saja memenangkan tender yang besar ketika mendengar berita kehamilan Ririn. Tidak, bahkan ia lebih bahagia dari itu. Raka sangat terharu. Ingin rasanya ia mendekap tubuh mungil yang sedang terlelap itu. Tapi, Raka tidak bisa melakukan itu. Ia hanya mampu menatap nanar pada istrinya.
Setelah berbicara dengan Deny, Raka pergi dari sana. Ia kembali melanjutkan perjalanan menuju ke ruangan dokter Gavin dengan hati yang gembira.
Namun, rasa gembira dalam hatinya hanya seketika. Raka terdiam saat dokter yang sudah beberapa tahun ini merawatnya selesai membacakan hasil pemeriksaan kesehatan yang baru saja ia lakukan.
"Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Anda harus mengubah gaya hidup menjadi lebih teratur. Kurangi stres, istirahat yang cukup dan jangan bergadang. Terlalu banyak mengkonsumsi suplemen juga tidak baik untuk kesehatan." terang Dokter Gavin.
Setelah selesai bertemu dengan dokter Gavin, Raka kembali ke ruangan IGD. Melihat kini Ririn sudah sadar. Perlahan Raka mendekat, bersembunyi di balik tirai.
"Iya, anda sudah bisa pulang sekarang." Ririn merasa lega mendengar jawaban dokter.
"Terima kasih." Ririn segera bangun untuk pulang.
"Apa anda tidak ingin menanyakan kenapa tiba-tiba anda pingsan ?" tanya dokter dengan senyum, tak sabar ingin memberitahukan tentang kehamilan calon pewaris Wiratama Grup.
__ADS_1
"Memangnya saya sakit apa, dok ?" Ririn menjadi cemas jika ia mempunyai penyakit yang serius.
"Selamat nona, anda akan segera menjadi ibu."
"Apa !" Ririn begitu terkejut mendengar penjelasan dari dokter.
"Sa-saya hamil ?" tanya Ririn untuk menyakinkan jika ia tidak salah dengar.
Ririn memegang perutnya setelah melihat dokter wanita itu mengangguk.
Aku benar-benar hamil !
Berita ini sangat mengejutkan dirinya. Ingatan langsung kembali pada kejadian sebulan yang lalu. Di mana ia terbangun di kamar Raka dengan tanpa sehelai benang.
Raka.
Ririn sangat yakin jika janin yang dikandungnya adalah anak dari suaminya. Ririn menunduk masih memegang perutnya, air matanya pun langsung mengalir.
__ADS_1
Sementara itu di balik tirai, Raka sedang merasa cemas. Takut Istrinya itu tidak bisa menerima kenyataan jika sedang hamil. Apa lagi kalau Ririn tidak menginginkan bayi itu karena sangat membenci dirinya yang sudah membuat istrinya hamil.