
Di sebuah resort yang berada di sebuah private island di bagian barat wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga yaitu Singapura. Sudah seminggu Ririn terkurung di sana. Terkurung dalam artian tidak bisa keluar dari pulau tersebut.
Meskipun setiap hari melihat pemandangan pantai yang indah tapi tidak membuat Ririn merasa bahagia. Pikirannya masih memikirkan bagaimana keadaan Raka dan orang tuanya yang jauh di sana.
Meskipun tidak ada yang mengatakan apapun kepadanya, tapi Ririn tahu bahwa ia telah di bawa oleh orang-orang Tuan Bagaskara.
Tuan Bagaskara tidak main-main dengan ucapannya. Ternyata dia memang benar-benar ingin menghancurkan Raka dengan cara memisahkan Raka dengan Ririn.
Ririn tersenyum kecut mengingatnya. Apa Tuan Bagaskara tidak tahu jika dirinya bukanlah sesuatu yang penting dalam hidup Raka. Raka tidak mencintainya. Raka menikahinya hanya untuk menjebak Tuan Bagaskara. Dan sekarang kini tujuannya sudah tercapai, Raka tidak mungkin akan mencari keberadaannya.
Air mata Ririn menetes di pipinya mengingat kenyataan yang terakhir kali didengarnya. Kata-kata David waktu itu selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Mungkin ada baiknya Tuan Bagaskara menculiknya
dan menyembunyikannya di sini sehingga dia tidak perlu lagi membuat keputusan untuk bertahan atau pergi meninggalkan Raka yang sudah membohonginya.
Ririn mencoba ikhlas menerima takdir hidupnya dan menjalani hidup kedepannya.
__ADS_1
Setiap harinya Ririn menikmati keindahan pantai dengan hamparan pasir putih dan merahnya langit saat matahari terbenam. Setidaknya itu adalah hiburan untuk menghilangkan rasa kecewa yang ia rasakan dalam hatinya.
"Bagaimana keadaannya ?" tanya Tuan Bagaskara melalui panggilan telepon.
"Keadaannya masih sama seperti hari kemarin-kemarin, tuan."
"Bagus. Pastikan dia tidak menghubungi siapapun dan jangan sampai dia kabur dari sana."
"Baik, tuan."
"Si**!!!" Tuan Bagaskara mere**s kertas ditangannya.
Sungguh tidak disangkanya Raka bisa sehebat itu. Hanya dalam waktu satu minggu Raka sudah menghancurkan separuh dari harta kekayaannya. Sebagian besar perusahaan milik Tuan Bagaskara berada di negara Asia karena memang Tuan Bagaskara lama tinggal di Indonesia. Sedangkan dia membangun bisnisnya di Belanda dan Amerika baru dalam sepuluh tahun terakhir setelah ia menetap di tanah kelahirannya itu.
Kini Tuan Bagaskara semakin yakin bahwa Raka benar-benar sangat mencintai istrinya itu. Ingin rasanya Tuan Bagaskara menghancurkan Raka sebagaimana dia menghancurkan Kendra, ayahnya. Yaitu dengan membunuh wanita yang dicintainya. Namun karena sebuah alasan Tuan Bagaskara tidak bisa melakukan itu.
***
__ADS_1
Sementara itu di Gedung Wiratama Grup sedang terjadi kepanikan, khususnya di ruangan CEO. Raka pingsan sesaat sebelum meninggalkan ruangannya untuk menghadiri rapat perusahaan.
Tim keamanan segera melarikan Raka ke rumah sakit.
"Pastikan menutup mata dan mulut kalian melihat kejadian ini. Jika sampai tersebar maka kalian akan tau akibatnya." Arya memberi peringatan kepada seluruh staf yang melihat Raka di bawa oleh tim keamanan.
Arya segera memasuki ambulans yang membawa Raka. Keselamatan Raka sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Sedangkan David tetap di kantor untuk menggantikan Raka sebagai pemimpin rapat. Bagaimanapun juga kejadian pingsannya seorang CEO Wiratama Grup tidak boleh tersebar apalagi sampai terdengar oleh musuhnya.
.
.
.
.
Bersambung. . . .
__ADS_1