
Raka menatap wajah cantik Ririn saat Ririn memasangkan dasi di lehernya. Seperti ada yang berbeda dari wajah istrinya itu hari ini. Tapi apa ya ?. Raka kembali menelisik wajah Ririn.
"Kau menangis ?" tanya Raka. Jari tangannya mengusap bawah mata Ririn yang terlihat sembab.
Ririn hanya diam saja. Air matanya pasti jatuh jika dia bersuara. Hatinya terlalu sakit jika mengingat kejadian tadi malam.
"Ada apa ?" tanya Raka lembut karena melihat Ririn hanya diam.
"A aku . .." Ririn langsung menangis dan tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.
Raka langsung membawa Ririn dalam pelukannya. Raka merasa cemas takut sesuatu terjadi kepada istrinya. Padahal tadi malam Ririn terlihat baik-baik saja.
"Tenanglah. Ada aku." Raka memeluk Ririn untuk memberikan ketenangan. Raka tidak bertanya apapun kepada Ririn meskipun Raka sangat penasaran apa yang membuat Ririn menangis. Sedangkan Ririn semakin terisak di dalam pelukan Raka.
Ririn ingin menolak saat Raka memeluknya karena merasa kecewa Raka telah mempermainkan cintanya. Selama ini Ririn baik-baik saja hidup dengan cinta yang tak terbalaskan. Tapi sekarang setelah Raka membalas cintanya mengapa jadi seperti ini. Ririn tidak menyangka akan sesakit ini ketika di bohongi oleh orang yang dia cintai.
Setelah beberapa menit berlalu. Ririn menjadi sedikit lebih tenang setelah meluapkan rasa kecewanya dengan menangis. Raka melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang wajah Ririn serta mengusap air mata di pipinya.
"Ada apa ? Mengapa menangis ?" tanya Raka lembut. Hati Ririn semakin sakit melihat perhatian dan sikap lembut Raka karena itu hanyalah sandiwara.
"Aku, aku hanya ingin bertemu ibu." ucap Ririn dengan suara yang lirih.
__ADS_1
"Benar cuma itu ?" Ririn mengangguk menjawab pertanyaan Raka. Tak mungkin Ririn berkata jujur dan bertanya langsung kepada Raka.
"Kemarin ibu menelpon, menanyakan keadaan ku karena sejak menikah aku tidak pernah mengunjunginya." Ririn beralasan. Ibunya memang benar menelpon Ririn beberapa hari yang lalu untuk menanyakan kabarnya.
"Maaf. Aku terlalu sibuk bekerja sehingga lupa membawa mu untuk mengunjungi keluarga mu." Raka memeluk dan mencium kening Ririn.
"Aku akan mengatur jadwal ke rumah ibu. Kita harus membawa hadiah yang banyak sebagai permintaan maaf." lanjut Raka lagi.
"Aku mengerti. Kau tak perlu melakukan itu. Aku akan pergi sendiri saja."
Raka menatap dalam kepada Ririn dengan tatapan yang sulit diartikan. Ririn menyadari itu. "Em, itu. Maksud ku, aku pergi di antar supir saja." Ririn berkata gelagapan sebelum Raka menyadari perasaannya yang sebenarnya.
"Kau marah ?" tanya Raka "Maaf" Raka mengecup kedua tangan Ririn sebagai permintaan maaf.
"Tidak. Aku tau kau sangat sibuk. Jadi, tolong izinkan aku pergi. Aku ingin menginap beberapa hari di rumah ibu." ucap Ririn dengan mengiba. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.
Meskipun merasa bimbang karena Ririn ingin pergi sendiri dan menginap di sana, tapi Raka juga tidak rela melihat wanita yang sangat dicintainya itu bersedih. Bagaimanapun Raka pernah merasakan bagaimana rasanya merindukan seorang ibu. Yang lebih parahnya, Raka sudah tidak bisa lagi bertemu dengan ibunya untuk selamanya.
Tak ingin melihat istrinya terus bersedih akhirnya Raka mengizinkan Ririn pergi sendiri dengan diantar supir. "Baiklah. Tapi jangan menginap." Perintah Raka.
Ririn tersenyum dengan senyuman yang ia paksakan mendengar perkataan Raka.
__ADS_1
"Kapan kau mau ke sana ?" tanya Raka lagi.
"Sekarang." jawab Ririn cepat sebelum Raka berubah pikiran.
Raka menelpon seseorang ketika Ririn sedang bersiap-siap.
"Persiapkan orang-orang terbaikmu. Sekarang !"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung. . .