Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Kembali


__ADS_3

Suasana pagi menjelang siang hari di pantai ini sangat cerah. Terlihat tiga orang perempuan sedang cekikikan sambil duduk lesehan di bawah pohon kelapa.


"Yu, liat deh muka ku kaya badut kan ?." Ririn menunjukkan hasil make up di wajahnya.


"Nggak kok, Mbak. Cantik. Ya kan, Ra ?" tanya perempuan yang bernama Ayu kepada temannya yang bernama Amira.


"Eh iya, Mbak. Beneran deh cantik. Wah, sekarang mbak Ririn udah pinter make up sendiri." Amira ikut memuji Ririn.


"Ah, kalian jangan gitu dong. Ntar aku jadi bahan tertawaan orang, kan malu." Ririn melihat-lihat pantulan wajahnya di cermin.


"Beneran, mbak. Suer deh." Ayu mengangkat dua jarinya membentuk huruf v.


Sejak menjalani hidup di pulau ini Ririn dan beberapa orang gadis yang bekerja di resort ini menghabiskan waktu dengan belajar berdandan untuk mengusir rasa bosan. Kadang mereka juga mengumpulkan kulit kerang untuk membuat aksesoris.


"Nah, tuh coba tanya mas Wili." Tunjuk Ayu kepada seorang laki-laki yang sedang berjalan mendekat kearah mereka berkumpul.


"Mas Wili, lihat sini deh. Mbak Ririn cantik kan ?" Tanya Amira. Belum sempat mendengar jawaban dari orang yang di tanya, tiba-tiba Ririn bersuara.

__ADS_1


"Percuma Ra, nanya sama orang yang ga punya mulut. Buang-buang tenaga." Ririn melirik dengan ekor matanya ke arah laki-laki yang baru tiba di sana.


Sebenarnya Wili adalah seorang laki-laki biasa yang tidak kaku seperti yang dikatakan oleh Ririn. Laki-laki itu cukup ramah dah bersahabat kepada pekerja-pekerja Resort yang lain. Hanya saja berbeda ketika dia bersama dengan Ririn. Di awal-awal pertemuannya dengan Ririn, wanita itu terlalu banyak bicara dan banyak tanya. Karena tidak ingin salah menjawab akhirnya Wili memilih diam dan tidak meladeni perkataan Ririn.


"Bersiaplah, nona. Kita akan pergi sekarang ?"


Ririn tau ajakan itu untuknya, tapi dia memilih acuh untuk membalas sikap Wili kepadanya. Tapi, sesaat kemudian Ririn terkejut melihat seorang pelayan laki-laki meletakkan sebuah koper sedang di samping Wili.


"Eh. Kita mau kemana ?" Tanya Ririn penasaran


"Pulang." Wili meraih koper tersebut dan langsung berbalik badan berjalan menuju kapal perahu yang sudah menunggu.


"Tidak perlu." Wili terus melangkah tanpa menoleh ke belakang.


"Sebentar saja. Aku mau pamit dengan teman-teman ku."


"Lima menit."

__ADS_1


***


Malam harinya Ririn dan Wili baru sampai ke Jakarta. Karena mereka menggunakan jalur darat sehingga memakan waktu yang lebih lama. Padahal jika menggunakan pesawat hanya memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam. Wili harus tetap menjaga dan menyembunyikan Ririn sebagai mana perintah Tuan Bagaskara sebelas bulan yang lalu.


Saat ini perasaan Ririn menjadi campur aduk antara senang dan cemas setelah sampai di kota tempat tinggalnya dulu. Sepanjang perjalanan Ririn lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Diam-diam Wili memperhatikan sikap wanita yang telah hampir satu tahun dijaganya ini tidak banyak bicara dan selalu berisik. Wili pun tidak ingin bertanya apapun karena ia merasa bukalah bagian dari tugasnya dan ia juga tahu diri mengingat wanita ini adalah istri dari seorang laki-laki yang cukup disegani dan hebat. Tak sepantasnya ia menaruh hati dan memberikan perhatiannya.


Tepat pukul satu dini hari, Ririn dan Wili sudah sampai di sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta. Perasaan Ririn menjadi semakin tidak enak. Apakah telah terjadi sesuatu kepada orang tuanya atau adiknya atau ...deg.


Meskipun telah lama berpisah dan masih merasakan kecewa di hatinya tapi rasa cintanya terhadap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu tidak pernah hilang.


Degupan jantung Ririn semakin kuat ketika melihat sebuah pintu yang di jaga oleh beberapa orang laki-laki dengan berpakaian seperti pengawal.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. .


__ADS_2