
Sepuluh Bulan Kemudian
Gedung Wiratama Grup
Arya melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sekarang sudah hampir memasuki tengah malam.
"Tuan, sebaiknya kita pulang sekarang. Ini sudah hampir tengah malam. Besok kita ada pertemuan dengan klien penting." untuk kesekian kalinya Arya mengingatkan Tuanya yang bekerja seakan tidak kenal waktu. Begitulah tugas Arya setiap harinya. Selain menjaga kelancaran perusahaan, Arya juga harus menjaga kesehatan Raka agar semuanya berjalan dengan lancar. Jika tidak, sudah tentu akan menambahkan lagi pekerjaannya.
Raka yang tengah serius bekerja dengan laptopnya menoleh kearah Arya yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya. Dengan tanpa berkata apa-apa Raka menutup laptopnya dan Arya segera membereskan pekerjaan Tuanya di atas meja.
Sekarang sikap Raka kembali dingin seperti dulu. Bahkan kini hidupnya telah dipenuhi oleh dendam kepada orang yang telah menghancurkan keluarga dan hidupnya. Arya dan David juga sudah sangat kewalahan menghadapi sikap Raka yang semakin tempramental.
***
Setelah pertemuan dengan klien di sebuah hotel, kini Arya akan mengantarkan Raka ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan setiap bulannya.
__ADS_1
Saat akan masuk ke ruangan praktek dokter, ponsel Arya tiba-tiba berbunyi. Setelah memastikan Raka aman bersama dokter laki-laki yang sudah hampir setahun ini menangani Tuanya, Arya pun keluar untuk mengangkat panggilannya.
"Ada apa ?" tanya Arya melalui ponselnya
"....."
"Bagus, pastikan kalian tidak salah sasaran dan terus awasi." Arya memutuskan panggilannya setelah memberi perintah kemudian dia kembali masuk ke ruangan tempat Raka di periksa.
"Apa yang kau lakukan, hah !" Arya segera berlari ke arah Raka yang sedang berbaring di tempat pemeriksaan dan mendorong seorang wanita yang berada di samping Raka, sehingga wanita itu jatuh tersungkur di sudut ruangan.
"Memangnya aku kenapa ?" Raka balik bertanya kepada Arya. Raka juga merasa bingung apa yang telah dilakukan oleh sekretarisnya barusan.
"Bukankah tadi anda ... " Arya tidak melanjutkan perkataannya. Matanya beralih melihat kearah wanita yang tadi di dorongnya. Wanita itu terlihat meringis mengusap kepalanya karena tertimpa beberapa barang dari atas lemari tempatnya terjatuh tadi. Arya baru menyadari jika ternyata dokter Gavin juga ada di sana. Arya sempat berpikir jika wanita yang berpakaian perawat itu ingin mencelakai Raka. Karena selama ini Arya selalu melihat perawat pria yang menjadi asisten dokter Gavin.
"Maafkan asisten saya, tuan." dokter Gavin merasa takut karena telah membuat pasien pentingnya merasa tidak nyaman. Padahal itu bukanlah salahnya. Perawat tadi hanya melakukan tugasnya, membuka beberapa kancing baju kemeja Raka untuk meletakkan beberapa alat cek jantung. Tapi, sepertinya Arya salah sangka ketika melihatnya.
__ADS_1
"Kondisi kesehatan anda terus menurun setiap bulannya. Anda harus banyak istirahat. Kurangi stress dan tidur lebih awal. Saya khawatir jika keadaan ini berlanjut, itu akan menyebabkan penyakit jantung anda jadi lebih parah."
Arya dengan serius mendengarkan penjelasan dari dokter, sedangkan Raka seperti tidak peduli dengan kesehatannya.
Saat akan keluar dari ruangan itu mata Arya tidak sengaja bertemu dengan mata perawat yang didorongnya tadi. Dia kan perawat yang waktu itu. Tersentak lamunan Arya ketika dia melihat tatapan tidak bersahabat dari perawat wanita yang waktu itu telah mengobati luka di wajahnya.
.
.
.
.
Bersambung . . .
__ADS_1