Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Merasa Kesal


__ADS_3

Saat ini Ririn sedang duduk berhadapan dengan sebuah tab di depannya.


"Sampai kapan aku di sini ? bagaimana keadaan keluarga ku sekarang di sana ?" tanya Ririn yang sedang melakukan panggilan video dengan Tuan Bagaskara.


"Kedua orang tua mu baik-baik saja. Saya akan menjamin keselamatan mereka. Menurutlah. Tinggallah disana sampai saya akan memanggil mu kembali. Jangan berani-berani menghubungi suami ataupun keluarga mu dan jangan coba-coba kabur jika kau ingin keluarga mu baik-baik saja."


Untuk saat ini Ririn tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Tuan Bagaskara. Ririn hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya. Sedangkan Raka ? Entahlah. Sampai sekarang Ririn masih merasakan kecewa di hatinya dan menjadikan tempat tahanannya ini sebagai pelarian untuk melupakan kekecewaannya pada suaminya.


Apa dia mencari aku ? Huh. Jangan terlalu berharap, memikirkan saja pun mungkin tidak pernah. Mungkin ini lebih baik untuk ku.


Pltakkk


Ririn tersadar dari lamunannya ketika sebuah benda terlempar di atas meja. Ia merasa bingung melihat sebuah jaket kulit di hadapannya.


"Pakailah !" Ririn melihat kearah sumber suara. Baru malam ini Ririn mendengar suara milik laki-laki kaku yang selalu mengawasinya selama sebulan ini.


Ririn segera meraih jaket tersebut saat melihat lelaki itu sudah berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


"Hei, tunggu. Ini untuk apa ? Apa kita akan pergi ?" Ririn bertanya sambil berjalan cepat mengejar laki-laki itu. Seperti biasanya, suaranya dianggap seperti angin lalu dan tidak pernah mendapatkan jawaban.


"Baiklah. Aku kembali saja kedalam." Ririn mulai mengeluarkan jurus mengancamnya. Ririn berbalik badan menuju kediamannya yang baru beberapa meter ditinggalkannya tadi.


"Hei, turunkan aku !!" Ririn terkejut saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang. Ririn memukul punggung laki-laki itu yang sedang memikul tubuhnya seperti sebuah karung beras.


"Turunkan. Turunkan aku !" Ririn terus memberontak namun laki-laki itu sedikit pun tidak bergeming dan terus saja berjalan seperti tanpa beban.


Akhirnya Ririn diturunkan setelah mereka berada dalam sebuah kapal perahu. Ririn berpikir apa mungkin pria ini akan membawanya pergi dari pulau ini, atau mau membuangnya kelaut. Tak ingin berpikiran yang tidak-tidak akhirnya Ririn bertanya.


"Kita mau kemana ?" tapi lagi-lagi Ririn tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. "Kau tak akan membuang ku kelautkan ?"


Apa yang ada di pikiran wanita ini.


Ririn terdiam dan merasa takut ketika mendapat tatapan yang sulit diartikan dari pria kaku yang entah siapa namanya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di sebuah pulau dengan gemerlap lampu yang terang benderang.

__ADS_1


Eh. Dimana ini ?


Ririn merasa aneh melihat tempat yang baru mereka datangi. Tempat ini sangat jauh berbeda dari pulau yang ditempatinya. Sungguh Ririn tidak menyangka di sekitar pulau terpencil tempat tinggalnya ada pulau dengan segala keramaian penduduknya seperti ini.


Disaat Ririn masih dengan keterkejutannya tiba-tiba ia merasakan tangannya ditarik. Dengan terpaksa Ririn melangkah mengikuti langkah kaki orang yang menarik tangannya itu dengan rasa kesal di hatinya.


Ririn merasa kesal dengan sikap laki-laki itu. Sudah hampir sebulan laki-laki itu mengikutinya tapi baru malam ini satu kata yang keluar dari mulutnya saat berbicara dengan Ririn. Awalnya Ririn mengira laki-laki itu bisu tapi itu tidak mungkin karena Ririn beberapa kali melihatnya sedang berbicara melalui ponsel.


Ririn sengaja menghentakkan kakinya saat berjalan karena ingin menunjukkan kekesalannya pada laki-laki yang seenaknya menarik-narik tangannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung . . .


__ADS_2