
Meskipun Bagas mencintai Karina, dia tega menyuruh orang untuk membunuh Karina karena kebencian yang mendalam.
Seharusnya dia tidak bertemu dengan Karina hari itu. Seharusnya dia membiarkan Karina mati ditusuk oleh pencopet saat itu sehingga dia tidak pernah merasakan jatuh cinta dan sakit hati seperti sekarang ini.
***
Raka tercengang mendengar perkataan Tuan Bagaskara. Raka baru mengetahui kisah cinta segitiga antara orang tuanya dan Tuan Bagaskara.
"Itu bukan salah ibuku. Memang sudah takdir jodoh mereka hidup bersama." Sanggah Raka.
"Huh, takdir ! Omong kosong dengan takdir. Ayah mu yang telah merampasnya dari ku dan wanita ja**ng itu hanya menginginkan harta."
"Tutup mulut anda !" Raka marah dan tidak terima Tuan Bagaskara menyebut ibunya wanita ja**ng.
"Pantas saja ibuku lebih memilih ayahku daripada anda yang tidak tahu menghargai wanita. Dan istri anda pergi meninggalkan pria seperti Anda." lanjut Raka lagi dengan penuh emosi.
"Apa yang kau tau tentang wanita. Kau juga tidak bisa menghargai wanita. Aku kehilangan putriku karena mu. Emily menjadi gila dan bunuh diri karena kau menolak cintanya."
Raka kembali terkejut mendengar perkataan Tuan Bagaskara tentang kematian Emily. Selama ini Raka mengetahui jika Emily meninggal karena penyakit yang dideritanya. Tapi Raka tidak menyangka jika Emily mengidap penyakit depresi alias gila sehingga bunuh diri.
"Dan kau lebih memilih wanita miskin rendahan yang sanggup melakukan apa saja demi uang termasuk menjual tubuhnya kepada laki-laki kaya sama seperti ibumu."
__ADS_1
Raka semakin emosi mendengar Tuan Bagaskara menghina dan merendahkan dua orang wanita yang sangat dicintainya, yaitu ibu dan istrinya. Hampir saja Raka melayangkan pukulan kepada pria paruh baya didepannya itu jika saja Arya tidak menahan tangan Raka.
Raka tau ibunya tidak serendah yang di katakan oleh Tuan Bagaskara. Ibunya sangat mencintai ayahnya bukan sekedar menginginkan harta. Ibunya juga tidak terlihat seperti orang yang gila harta dan kekayaan. Malah ibunya adalah wanita yang sangat sederhana dan biasa saja. Begitu juga dengan Ririn , istrinya.
"Jika sudah selesai silahkan keluar dari ruangan ini. Terimakasih sudah mengunjungi." Tuan Bagaskara tersenyum mengejek karena telah berhasil membuat Raka emosi. Puas rasanya telah mengungkapkan apa yang selama ini dipendam dalam hatinya.
"Aku tidak akan sungkan lagi setelah ini !" Ancam Raka sambil berjalan pergi meninggalkan ruang kerja Tuan Bagaskara.
Kini Raka sudah dapat apa yang ingin dia ketahui. Raka mulai memikirkan bagaimana untuk menghancurkan dan membalas Tuan Bagaskara. Raka tau jika ini tidaklah mudah untuk menjatuhkan Tuan Bagaskara. R&B Enterprise merupakan perusahaan besar. Raka harus bekerja keras kali ini.
***
Sudah dua hari ini Ririn merasa sunyi karena Raka tidak ada. Seperti ada yang hilang dalam hidupnya. Selama dua hari ini tidak ada yang memeluknya ketika ia tidur. Tidak ada seseorang yang selalu memerintahnya.
Aku harus mengatakan ini kepada Raka. Dia harus tau siapa Tuan Bagaskara yang sebenarnya. Aku tidak akan pernah meninggalkan Raka apalagi mengkhianatinya. Aku sangat mencintainya.
Tapi bagaimana jika aku tetap disini bersama Raka. Apa yang akan dilakukan oleh Tuan Bagaskara kepada Raka ? kepada ayah dan ibu ?
Ririn begitu gelisah memikirkan ancaman dari Tuan Bagaskara. Rasanya saat ini juga dia ingin mengadukan kepada Raka, tapi tidak mungkin dia mengatakan ini melalui telpon. Ririn benar-benar merindukan Raka sekarang.
Siang sudah berganti malam. Ririn turun kebawah, berjalan menuju meja makan untuk makan malam.
__ADS_1
"Bi, apa suami saya sudah menelepon ?" tanya Ririn kepada Bi Ani.
"Belum, nona."
"Nanti jika dia menelpon, kabari saya ya, bi." Ririn berpesan kepada Bi Ani sebelum dia meninggalkan meja makan setelah makan malam.
Sejak siang tadi Raka tidak ada menghubunginya membuat Ririn cemas dan berpikir yang tidak-tidak. Biasanya Raka akan menelpon saat jam makan siang dan makan malam untuk mengingatkan Ririn agar tidak telat makan dan minum obatnya setelah makan.
Tiba di dalam kamar Ririn menyalakan tv, duduk bersandar di ranjangnya agar tidak ketiduran. Tangannya terus memegang ponsel menunggu panggilan dari Raka. Tapi beberapa menit kemudian Ririn menguap, rasa kantuk tak tertahankan tiba-tiba menyerangnya. Itu merupakan efek dari obat yang di minumnya agar Ririn mendapatkan istirahat yang cukup dan tidak bergadang. Akhirnya Ririn tertidur dengan posisi yang masih duduk bersandar.
Entah sudah berapa lama Ririn tertidur, Ririn merasakan rasa yang tak asing dalam mimpinya. Ririn merasa sentuhan sentuhan lembut di tubuhnya seperti yang biasa Raka lakukan.
"Aku terlalu merindukanmu sampai-sampai aku memimpikan diri mu menyentuh ku. Sayang, kapan kau akan kembali." gumam Ririn dalam tidurnya. Ririn kembali membenarkan posisi tidurnya mencari kenyamanan.
Terbit sebuah senyuman ketika mendengar ocehan Ririn dengan mata yang masih terpejam.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung. . .