
"Aku tidak menyangka jika kau sudah merencanakan ini. Awalnya aku takut jika mereka hanya ingin menjebak mu. Tapi ternyata kau lah yang menjebak mereka. Keputusan untuk menikahinya adalah bagian dari rencana mu. Aku bahkan tidak terpikirkan sampai ke sana."
David baru mengerti apa yang dilakukan oleh Raka ternyata sudah sangat di perhitungkan dengan matang.
"Jadi kau menikahinya hanya untuk ini ? untuk menemukan siapa orang yang menyuruhnya ? Aku akui sekarang kau memang hebat." David memuji Raka dengan sungguh-sungguh.
"Kau salah." jawab Raka singkat.
"Apa ..." baru saja David ingin membuka suara, tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu di luar. Mereka bertiga langsung melihat kearah pintu. Beberapa saat kemudian pintu di buka dari luar. Raka, David dan Arya menunggu siapa yang datang. Mereka terlihat cemas meskipun tidak mengatakan apapun.
Melihat ternyata Evan yang masuk, mereka langsung bernafas lega. Mereka sempat berpikir jika yang masuk adalah Ririn dan mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Raka sudah memperingatkan kepada semua orang agar masalah ini harus dirahasiakan dari istrinya.
Raka tak ingin membebankan Ririn dengan rasa bersalahnya. Apalagi sampai Ririn salah paham tentang pernikahan mereka dan mengira jika Raka tidak benar-benar cinta tapi hanya untuk sebuah jebakan.
"Jadi maksud mu, kau menikah karena kau mencintainya." David melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda tadi.
"Ya. Kau benar. Aku sudah mencarinya selama sepuluh tahun ini. Dan selama itulah aku sudah mencintainya." terang Raka.
__ADS_1
Ketiga orang pria yang ada di sana terdiam dengan pikiran mereka masing-masing mendengar perkataan Raka. Mereka tidak menyangka jika bos yang mereka kenal selama ini dingin dan arogan ternyata menyimpan cinta dan kesetiaan yang mendalam kepada seorang wanita.
"Hei ! Apa yang kalian pikirkan !" sentak Raka saat melihat ketiga orang pria itu menatapnya dengan aneh membuat ketiganya terkejut dan kembali tersadar dari pikiran masing-masing.
***
Di dalam kamar, Ririn berdiri bersandar di balik pintu. Tangannya mememegang dada yang terasa berdenyut. Air matanya menetes di pipinya tanpa dapat di tahan. Padahal sekuat hati Ririn menahan dirinya agar tidak menangis.
Berulang kali Ririn menepuk-nepuk dadanya dengan kuat untuk menghilangkan sesaknya.
Seharusnya kau menjaga hati mu agar tidak jauh cinta padanya. Seharusnya kau tak perlu merasa kecewa karena dari awal pernikahan ini merupakan sebuah hukuman untuk mu.
Kau lebih memilih hidup di penjara dari pada hidup dengan ku.
Ririn teringat kata-kata Raka waktu itu. Ririn kembali memukuli dadanya yang terasa sesak saat mendengar pembicaraan Raka dan David di ruang kerja tadi.
Setelah makan malam, Raka mengantarkan Ririn ke kamar, lalu Raka kembali lagi ke ruang kerjanya. Sebelum memejamkan matanya, Ririn teringat untuk membicarakan tentang Tuan Bagaskara kepada Raka. Ririn kemudian menyusul Raka ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Ririn tidak mengetahui jika Arya dan David masih ada di rumah ini karena saat makan malam tadi Ririn tidak melihat mereka. Jadi, Ririn berpikir mereka sudah pulang.
Dengan perlahan Ririn membuka pintu dan tidak sengaja Ririn mendengarkan perkataan David. Meskipun bukan Raka sendiri yang mengatakan itu tapi itulah kenyataannya.
Tak kuat menahan sedih dengan kenyataan yang sebenarnya, Ririn terburu-buru pergi dari sana sebelum dirinya ketahuan, sehingga dia menabrak seseorang di belakangnya.
"Ah, maaf." ucap Ririn tanpa melihat siapa yang ditabraknya kemudian setengah berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung . . . .