
Sebulan telah berlalu, sekarang Raka sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Meskipun sudah merasa sehat namun Raka harus tetap melakukan kunjungan ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan dan mengontrol penyakitnya setiap bulannya.
Arya masih berdiri tegak di hadapan meja Raka setelah menyerahkan berkas pekerjaannya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada Raka. Tapi Arya terlihat ragu dan masih menimbang-nimbang untuk mengatakan.
"Ada apa ?" tanya Raka tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. Karena tidak mendapatkan jawaban kemudian Raka beralih menatap wajah Arya.
Dengan terpaksa Arya akhirnya mengatakan "Mereka melaporkan ada yang menemukan sesosok tubuh perempuan di sebuah bangunan tua di pinggiran kota."
Deg
Wajah Raka seketika berubah menjadi pucat, kepalanya tiba-tiba terasa berdenyut. Dadanya kembali terasa sesak. Pikirannya bercampur aduk takut dengan kenyataan terburuk. Raka mencoba mengendalikan dirinya berharap itu bukanlah istrinya.
Setelah merasa lebih tenang, Raka memutuskan pergi ke rumah sakit untuk melihat sendiri sosok tubuh perempuan yang telah dilaporkan oleh Arya.
Raka merasa berdebar-debar ketika perawat membuka kain penutup jenazah yang dikatakan adalah seorang perempuan. Beberapa saat kemudian dia menyuruh menutupnya kembali. Sosok itu sudah tidak bisa di kenali lagi. Masih ada harapan jika itu bukanlah wanita yang dicintainya.
Raka memutuskan untuk melakukan identifikasi agar lebih meyakinkan dirinya bahwa itu memang benar-benar bukanlah istrinya. Ia memerintahkan kedua orang tua Ririn untuk datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Ayah dan ibu Ririn saling berpandangan. Raka melihat gelagat aneh dari keduanya akhirnya bertanya.
"Ada apa ayah, ibu ?" bergantian melihat ayah dan ibu mertuanya.
"Sebenarnya Ririn bukanlah anak kandung kami." Ayah membuka suara.
Raka dan Arya sangat terkejut mendengar pengakuan Ayah Ririn. Tak ingin membahasnya lebih lanjut Raka tidak bertanya apapun kepada kedua orang mertuanya meskipun di ingin.
Kemudian Raka kembali memerintahkan pelayan di rumahnya untuk mencari rambut Ririn yang mungkin masih tertinggal di rumah. Meskipun itu sulit karena rumah dan kamarnya di bersihkan setiap harinya.
Seperti yang sudah diperkirakan tidak di temukan sehelai pun rambut Ririn yang tertinggal di rumah Raka. Kini Raka terpaksa memikirkan cara lainnya agar identifikasi ini dapat dilakukan.
Raka melihat kedua orang tua Ririn seperti meminta persetujuan.
"Lakukanlah apa pun jika memang itu bisa membantu." ucap ayah Ririn. Meskipun bukan darah dagingnya tapi ayah sangat menyayangi putri satu-satunya itu.
Raka memerintahkan orang-orangnya untuk mencari rambut Ririn di rumah orang tuanya khususnya di kamar Ririn. Tak berapa lama kemudian mereka mengantarkan penemuannya ke rumah sakit agar proses identifikasi dapat segera di lakukan.
__ADS_1
Sambil menunggu hasil identifikasi, Raka kembali ke kantornya. Meskipun tidak bisa berkonsentrasi melakukan pekerjaannya setidaknya Raka bisa beristirahat sejenak dari memikirkan hasil identifikasi yang akan keluar nantinya.
Raka sedang bersandar di kursi kebesarannya kemudian membuka matanya ketika David melangkah masuk ke ruangannya.
Tanpa berkata apapun David menyerahkan berkas yang dibawanya kepada Raka. Raka tersenyum miring setelah membaca laporan itu. Tuan Bagaskara kini sudah kehilangan tujuh puluh persen dari kekayaannya. Hampir semua cabang perusahaan R&B Enterprise sudah hampir bankrut.
Raka merasa puas karena sebentar lagi bisa menghancurkan si pembunuh ibunya.
David merasa tidak suka melihat Raka yang sekarang, yang sudah di penuhi dengan dendam. Menggunakan cara licik untuk menghancurkan lawan. Tapi David juga tidak bisa mencegah Raka melakukan itu. Mungkin itu memang pantas untuk Tuan Bagaskara melihat apa yang sudah dilakukannya kepada Raka selama ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung. . . .