
Setelah mengantarkan Raka pulang ke kediamannya, Arya melajukan mobilnya menuju jalan pulang kerumahnya. Hari ini dia bisa pulang lebih awal dari pada biasanya, karena mau tidak mau Raka harus mendengarkan nasihat dokter Gavin.
Saat di berhenti di lampu merah, Arya melihat sekitar jalanan. Tanpa sengaja matanya tertuju kearah seorang wanita yang memakai helm biru di sebelah kanan mobilnya.
Deg
Wanita itu. Sekelebat bayangan kejadian siang tadi kembali terlintas di pikirannya. Ada rasa bersalah dalam hatinya kepada wanita itu karena telah mendorongnya saat di rumah sakit tadi. Setelah lampu jalan berganti hijau, Arya kembali melajukan kendaraannya sambil melihat wanita tadi yang sudah berada di depannya dengan mengendarai sebuah motor matic.
Selama hampir dua puluh menit Arya berkendara, tiba-tiba dia menghentikan mobilnya ketika melihat sebuah jalan gang di depannya.
"S**l. Kenapa aku mengikutinya." Arya mengumpat kebodohannya karena telah mengikuti perawat itu sampai motor maticnya berbelok ke jalan gang barulah Arya tersadar. Kemudian Arya melajukan mobilnya kembali menuju ke rumahnya.
Sore sudah pun berganti malam. Namun Arya masih sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun hari ini pulang lebih awal bukan berarti pekerjaannya itu sudah selesai. Masih banyak lagi hal-hal yang harus di bereskan oleh sekretaris Wiratama Grup.
Arya mengangkat panggilan yang masuk di ponselnya dalam sekali deringan.
"...."
"Apa kau sudah yakin ?" Arya bertanya kepada lawan bicaranya di seberang sana.
__ADS_1
"...."
"Bagus. Terus awasi. Jangan sampai kita di recoki. Mereka itu sangat licik."
Kemudian Arya mematikan panggilannya. Matanya menerawang menatap layar ponselnya. Mungkin ini sebuah berita besar bagi Tuannya. Tapi, sebelum memberi tahu kepada Raka, dia harus memastikan kebenaran berita tersebut. Entah apa yang akan dilakukan oleh majikannya yang sangat tempramental itu jika dia menyampaikan laporan tentang ini.
Saat ini Arya sedang membayangkan wajah dingin Raka yang setiap hari dilihatnya. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan kejadian di rumah sakit itu muncul lagi. Sehingga Arya teringat akan tatapan mata perawat wanita itu yang menatapnya dengan tajam. Belum pernah ada seorang wanita yang memberikan tatapan sedemikian rupa kepadanya. Wanita itu juga berani membentaknya saat malam-malam dia pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka di wajahnya akibat pukulan dari Raka, hari di mana istri Tuannya itu hilang di culik dan sampai saat ini masih belum diketahui keberadaannya.
Arya kembali mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan.
"Cari informasi tentang asisten dokter Gavin." Arya langsung mematikan panggilannya setelah memberikan perintah.
Ya. Aku harus memastikan jika latar belakangnya bersih dan tidak ada niat terselubung untuk mencelakai bos ku.
Arya mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya barusan dan memastikan tidak ada alasan lain selain itu. Apa lagi jika berhubungan dengan hatinya. Baginya sebuah hal yang sia-sia yang tidak akan pernah dilakukannya jika harus memiliki hubungan dengan wanita.
***
Seorang laki-laki sedang duduk di bawah pohon kelapa di pinggir pantai. Hembusan angin pantai di malam hari tak membuatnya merasa kedinginan. Tatapan matanya sejak tadi mengarah ke sebuah jendela kamar yang masih terlihat terang. Getaran ponsel di sakunya kini mengalihkan pandangannya dari jendela itu dan ia menjawab panggilan ponselnya.
__ADS_1
"Ya."
"Sudah saatnya kau membawanya kembali."
Si penelepon langsung mematikan panggilannya setelah memberikan perintah. Laki-laki itu kembali menatap ke arah jendela tadi yang masih terang. Ada perasaan lain di hatinya setelah menerima panggilan barusan.
Laki-laki itu menghembuskan napas berat saat melihat lampu jendela itu sudah dimatikan dan dia pun beranjak dari tempat duduknya. Begitulah yang dilakukannya setiap malam selama hampir satu tahun ini.
.
.
.
.
.
Bersambung. . . . .
__ADS_1