
Seminggu kemudian di Gedung Wiratama Grup
Arya masuk kedalam ruangan Raka setelah mengetuk pintu "Pesanan tuan sudah tiba." Arya meletakkan sebuah kotak di atas meja. Raka meraih kotak itu lalu membukanya. Dia tersenyum puas melihat benda itu sesuai dengan keinginannya. Tapi hanya seketika senyuman itu lalu sirna dari wajahnya.
"Bagus. Kau sudah menyiapkan pengamanannya ?" Tanya Raka.
"Sudah, tuan." jawab Arya sambil mengangguk.
"Jangan lupa gaun yang senada untuk istri ku." perintah Raka lagi.
"Sedang saya persiapkan. Apa ada lagi yang tuan butuhkan ? Tanya Arya memastikan.
"Tidak ada." Raka mengangkat tangannya, kemudian Arya berlalu meninggalkan ruangan itu.
Hari ini merupakan hari yang sangat sibuk untuk Arya. Dia harus mengurus pengamanan ekstra untuk nanti malam. Arya akan meminta bantuan Evan untuk mengatur keamanan dan strategi lainnnya jika nanti terjadi sesuatu hal kepada Raka dan istrinya. Arya juga meminta David untuk ikut mendampingi Raka nanti malam.
Arya menghembuskan napasnya kasar menatap paper bag ditangannya. Sampai urusan pakaian istri bosnya pun harus dia yang menghandle.
Raka sudah sampai di rumah dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Raka membuka pintu kamar dan bersamaan dengan itu Ririn juga baru saja keluar dari kamar mandi.
Ririn tersenyum melihat suaminya yang baru pulang kerja. Melihat senyuman manis Ririn mampu menghilangkan sedikit kegundahan di hati Raka.
Raka langsung mendekat kearah Ririn dan mencium bibirnya kemudian dia memeluk erat tubuh Ririn seakan meminta kekuatan untuk menghadapi malam ini.
Ririn merasakan sesuatu dari pelukan Raka "Ada apa ?" tanya Ririn setelah Raka melepaskan pelukannya. Ririn melihat wajah tampan Raka kelihatan suram.
"Aku hanya sedikit kelelahan." Raka menyugar rambutnya.
Ririn tersenyum dengan perkataan Raka "Ternyata kau bisa lelah juga, ya ? Aku pikir kau ini robot yang tidak bisa lelah. Ha ha ha.."
"Apa ?! Kau mengatai ku robot ? Berani beraninya kau mengatai suami mu." Raka merasa kesal dengan Ririn yang menertawakan dirinya dan mengatakannya robot.
__ADS_1
Raka mencoba menarik tangan Ririn, tapi Ririn segera berlari menghindar. "Ha ha ha ha, ampun, ampun.." Ririn tertawa dan terus berlari keliling kamar karena Raka mengejarnya.
"Kemarin kau mengatai aku king kong sekarang robot. Kau benar-benar minta di hukum ya!"
Raka ikut tertawa melihat Ririn berlari-lari seperti anak kecil dan dia juga jadi ikut-ikutan seperti anak kecil karena mengejarnya.
Akhirnya dengan tangan panjangnya Raka berhasil menangkap Ririn dan menggendong di bahunya. Raka menghempaskan tubuh Ririn di atas tempat tidur dan dia segera menaiki tempat tidur mengukug tubuh Ririn.
"Ha ha ha, ampun.." teriak Ririn sambil tertawa.
"Aku tidak akan mengampuni mu kali ini. Kau harus di hukum sekarang." Raka menyeringai tangannya sudah menarik tali kimono yang sedang dipakai Ririn.
Tok tok tok
Raka menghentikan tangannya mendengar ketukan di pintu.
Terdengar suara Bi Ani dari luar kamar "Maaf tuan. Utusan dari salon sudah datang untuk merias nona."
Raka melihat jam ditangannya, dua jam lagi mereka harus pergi. Raka tidak bisa melanjutkan hukumannya untuk Ririn. Dia bangun dari atas tubuh Ririn.
"Bersiaplah. Pakai ini untuk nanti malam." ucap Raka sembari meletakkan sebuah paper bag di samping Ririn yang tengah membetulkan pakaiannya.
Ririn kemudian keluar dari kamarnya menuju kamar tamu di bawah, tempat untuknya di dandani oleh penata rias sedangkan Raka masih duduk di tempat tidur untuk menenangkan hatinya.
Untuk sesaat tadi Raka melupakan sejenak ketakutan dalam hatinya, karena keceriaan Ririn yang selalu bisa membuatnya terhibur.
Setelah selesai berpakaian, Raka melihat tampilan dirinya di cermin. Sempurna seperti biasanya. Raka memegang dadanya untuk menenangkan debaran di jantungnya. Tak pernah dia setakut ini ketika menghadapi musuh-musuhnya.
Raka sangat menyadari kelemahannya terletak pada Ririn, istrinya dan sedaya upaya dia harus menutupi kelemahannya itu agar tidak bisa dimanfaatkan oleh musuhnya.
Raka menuruni tangga menuju kamar tempat istrinya bersiap. Dua orang penata rias menunduk hormat ketika Raka masuk kedalam kamar. Raka mengangkat tangannya memberikan isyarat agar mereka keluar dan mereka pun segera keluar dari sana.
__ADS_1
Raka memperhatikan istrinya melalui pantulan cermin di depannya. Ririn terlihat cantik dengan riasan di wajahnya beserta balutan dress warna maroon yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
Ririn segera berdiri melihat Raka yang sedang berjalan kearahnya. Jantungnya berdegup kencang karena Raka menatapnya dengan intens.
Raka berhenti tepat dihadapan Ririn. Raka mengambil sesuatu dari dalam sakunya, matanya masih terus fokus menatap wajah cantik istrinya. Tak sedikitpun berpaling.
Raka membalikkan tubuh Ririn menghadap cermin, kemudian dia memakaikan sebuah kalung berlian yang sangat indah.
"Kau menyukainya ?" bisik Raka di telinga Ririn. Raka memperhatikan ekspresi Ririn melalui pantulan cermin.
Ririn tersenyum memandang kalung yang menjuntai di lehernya. Hatinya di selimuti kebahagiaan yang tak dapat di terjemahkan dengan kata kata. Bukan karena nilai berliannya yang membuat Ririn begitu bahagia, tapi karena Raka memberikan sebuah kejutan yang sangat romantis.
Ririn memutar badannya menghadap Raka "Apapun itu, aku akan menyukainya. Asalkan itu dari mu." Ririn mengalungkan kedua tangannya ke leher Raka.
Raka memegang pinggang ramping Ririn sambil mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak antara mereka berdua.
"Jangan ! nanti riasannya rusak." Ririn memundurkan wajahnya ketika Raka ingin mencium bibirnya.
Suasana yang tadinya romantis buyar karena Ririn takut make up nya luntur.
"Kau sangat cantik malam ini. Aku tidak bisa jika hanya memandangnya saja." Raka memuji kecantikan istrinya.
"Masih ada waktu, setelah pulang dari pesta." ucap Ririn memandang syahdu kepada Raka. Akhirnya Raka hanya bisa mencium pipi Ririn.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung. . .