
Saat ini Raka sedang berada di dalam mobil bersamaan Arya.
"Lebih cepat !" perintah Raka.
"Baik tuan." Arya melirik tuanya melalui cermin di atas kepalanya.
Raka sudah tidak sabar untuk sampai ke kediaman Tuan Bagaskara. Raka terus mengutuk dan mengumpat Arya yang sedang mengemudi di depannya.
"Mengapa kau tidak memberitahukan lebih awal ?".
"Maaf tuan. Informasi ini baru tadi malam saya dapatkan." Sebenarnya Arya sudah menduga jika Raka pasti akan tetap marah padanya sekali pun ia memberitahu lebih awal lagi. Apa lagi ia menundanya. Bisa-bisa ia langsung di bunyi oleh tuannya itu.
Raka langsung keluar dari mobil begitu Arya menghentikan mobilnya. "Di mana istri ku ?" Raka bertanya kepada seorang pelayan yang menyambutnya di depan pintu.
"Nona baru saja pergi ke rumah orang tuanya." jawab pelayan itu sambil menunduk. Raka langsung berbalik menuju mobil lagi.
"Kita pergi sekarang." perintah Raka kepada Arya yang baru setengah jalan menyusul bosnya yang kini sudah berbalik lagi sehingga membuat Arya bingung.
__ADS_1
Arya kembali masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil meninggalkan kediaman Tuan Bagaskara. Arya menunggu perintah dari bosnya yang terlihat tegang. Apa yang terjadi ? batin Arya.
"Tuan.." Arya baru saja membuka mulutnya ingin bertanya.
"Susul mereka ke rumah orang tuanya. Perintahkan juga anak buah mu." perintah Raka dengan wajah serius.
Arya langsung menelpon anak buahnya untuk menyusul istri tuanya yang sedang menuju ke rumah orang tuanya.
Mobil yang membawa Ririn tiba-tiba berhenti di tengah jalan. "Ada apa ?" tanya Ririn kepada supir yang juga asisten Tuan Bagaskara sewaktu beliau masih hidup.
"Ada dua buah mobil yang menghalangi jalan kita nona." jawabnya. Asisten laki-laki yang bernama Deny itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi anak buahnya. Deny yang tidak menyangka adanya musuh yang akan menghalangi jalan mereka sehingga ia tidak mempersiapkan pengawalan untuk Ririn.
"Anda tenang saja, nona. Bantuan akan segera sampai." ucap Deny dengan tenang. Bagi Deny tidak terlalu sulit menghadapi delapan orang sekaligus. Tapi ia tidak mungkin keluar meninggalkan nonanya sendirian di dalam mobil.
Tidak berapa lama kemudian tiga buah mobil anak buah Deny datang dan segera keluar menghadapi delapan orang anak buah Arya. Mereka saling mengangkat pistol masing-masing.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di tengah mereka. Arya keluar mengangkat kedua tangannya. "Tuan ku hanya ingin menemui istrinya. Bukan untuk mencari masalah." ucap Arya di depan anak buah Deny.
__ADS_1
Deny yang juga mendengarnya, menoleh kepada Ririn di belakangnya.
Di ruangan VIP sebuah restoran. Ririn yang di dampingi oleh Deny mengikuti Raka yang juga di dampingi oleh Arya.
Raka langsung menarik tangan Ririn dan memeluk erat tubuh wanita yang begitu sangat di rindukannya. Deny yang melihat itu langsung siaga untuk melindungi nonanya, tapi Arya dengan cepat mencegahnya.
Raka mendekap tubuh istrinya dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasa rindu yang membuncah dalam hatinya bersatu dengan perasaan bahagia karena bertemu kembali dengan satu-satunya wanita yang telah mengisi hati dan hidupnya.
Lama Raka memeluk Ririn seolah menyalurkan rasa rindunya yang sangat besar setelah berpisah selama hampir satu tahun. Ririn juga tidak memungkiri perasaannya yang sangat merindukan sosok Raka yang sudah menjadi suaminya. Ia juga menikmati hangatnya pelukan satu-satunya pria yang telah memiliki jiwa dan raganya. Meskipun begitu Ririn hanya diam mematung, tidak membalas pelukan Raka.
Setelah puas memeluk, Raka beralih melihat wajah Ririn. Menatap lekat-lekat wajah itu. Memang sedikit terlihat berbeda dari wajah Ririn sebelum menghilang.
Bagai mana aku bisa tidak mengenalinya ? Raka bertanya pada dirinya sendiri. Mungkin ia terlalu fokus dengan mencari Ririn sehingga ia tidak memperhatikan wanita lain yang di lihatnya.
Perhatian Raka kini beralih pada bibir merah milik Ririn. Bibir yang sudah menjadi candu untuknya. Sudah sangat lama ia tidak pernah merasakannya lagi.
__ADS_1
Raka semakin mendekatkan wajahnya, tidak sabar ingin merasakan kembali manisnya bibir milik istrinya.