
Hari sudah mulai sore. David baru saja sampai di Rumah Sakit dan langsung menuju ruangan VIP tempat Raka di rawat. Rasanya begitu aneh melihat sahabatnya sekarang yang terbaring lemah di ranjang pasien. Selama berteman dengan Raka, tidak pernah sekalipun David melihat Raka sakit. Apalagi sampai di rawat di rumah sakit.
David duduk di sofa bersama Arya karena Raka sedang tidur.
"Apa kata dokter ?" tanya David.
"Stres, banyak pikiran, kecapean, kurang istirahat dan kurang tidur menyebabkan tubuh menjadi drop. Bisa menimbulkan serangan jantung jika tidak ditangani dengan baik."
David merasa prihatin dengan keadaan teman sekaligus bos-nya yang hidup sendirian dengan bermacam macam masalah. Istrinya di culik sehingga membuatnya jatuh sakit. Meskipun kaya raya tapi tidak menjamin hidupnya akan bahagia.
Setelah tiga hari dirawat intensif di rumah sakit akhirnya Raka sudah diperbolehkan pulang.
"Tuan, ibu nona kemarin menelpon." Arya menyampaikan laporan kepada Raka setibanya di rumah. Saat itu Arya tidak tahu akan menjawab apa jika ibu mertua tuan-nya menanyakan keadaan anaknya, bahkan untuk mengangkat panggilan itu pun Arya tidak berani.
Memang barang-barang bawaan milik Ririn semuanya tertinggal di dalam mobil yang membawanya termasuk ponselnya. Hanya kalung berlian saja yang mereka rusak sedangkan yang lainnya masih tetap utuh bahkan tidak tersentuh sedikit pun.
Keesokan harinya, Raka memerintahkan supirnya untuk menjemput keluarga Ririn untuk datang ke rumahnya dan meminta mereka untuk tinggal di kediamannya.
__ADS_1
Ibu Ririn menangis tersedu setelah Raka menceritakan tentang penculikan istrinya.
"Maafkan aku karena telah lalai menjaga anak ibu." tutur Raka dengan nada sendu. Dia sendiri saja sangat sedih karena kehilangan Ririn apalagi ibunya yang telah melahirkan Ririn.
"Sudahlah nak, jangan menyalahkan dirimu. Semua yang terjadi memang sudah di tentukan. Kita doakan saja semoga Ririn baik-baik saja." ayah mewakili ibu yang tidak dapat bicara karena terus menangis.
Raka meminta agar Ayah, ibu dan adik iparnya tinggal di kediamannya untuk sementara waktu karena Raka khawatir akan keselamatan mereka. Ayah pun menyetujuinya karena tak ingin menambah beban Raka sekaligus ingin mengetahui perkembangan pencarian Ririn.
Malam harinya ayah Ririn menemui Raka di ruang kerja.
"Maaf kalau ayah mengganggu." turur ayah Ririn karena merasa sungkan kepada menantunya.
"Ada apa ayah ?" lanjut Raka lagi.
"Sebelumnya ayah minta maaf jika ayah bertanya tentang masalah pribadi rumah tangga kalian." Ayah menjeda perkataannya. Merasa tidak enak kepada menantunya yang terkenal sangat menjaga privasinya. Sementara Raka menunggu apa yang akan ditanyakan oleh ayah mertuanya tentang masalah rumah tangga mereka.
"Apakah kalian berdua sedang bertengkar ?" lanjut Ayah Ririn.
__ADS_1
Raka terkesiap mendengar pertanyaan dari ayah mertuanya. "Tidak. Kami tidak sedang bertengkar.'' jawab Raka cepat karena memang Raka merasa baik-baik saja sebelum Ririn diculik. Tidak ada pertengkaran sama sekali.
"Mengapa ayah bertanya begitu ?" Raka balik bertanya. Apa yang sedang dipikirkan ataukah ayah mertuanya itu tahu sesuatu sehingga menanyakan hal tersebut.
Ayah Ririn pun menceritakan jika hari itu ia tidak sengaja mendengar pembicaraan istri dan anaknya itu. Dan ia juga melihat wajah Ririn yang muram tidak ceria seperti biasanya setiap kali Ririn pulang.
"Ayah takut karena ayah tau dia selalu berbuat nekat. Ayah sangat mengenali wataknya seperti apa." wajah tuanya terlihat sendu mengingat putrinya entah ada di mana saat ini.
"Ayah tidak perlu cemas. Aku sudah mengerahkan seluruh anak buah ku untuk mencarinya. Mereka pasti akan berhasil menemukannya." Raka mencoba menenangkan ayah mertuanya. Sebenarnya dia sendirilah yang merasa sangat cemas. Rasanya sangat sulit hidup ditinggalkan oleh wanita yang sangat dicintainya. Raka tak bisa membayangkan jika sampai terjadi sesuatu kepada istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung. . . .