Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Hukuman Untuk Ririn


__ADS_3

Ririn masih terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Raka menatap lekat wajah Ririn, menunggu jawaban. Mengamati setiap perubahan ekspresi wajah wanita didepannya itu.


"A, aku, aku tidak mengenal mereka." Ririn menggeleng. "Mereka hanya menawarkan sebuah pekerjaan pada ku." Ririn menjeda ucapannya.


"Setelah mengetahui pekerjaan apa yang harus aku lakukan, aku menolaknya. Aku tahu itu salah, tapi mereka mengancam akan membunuh keluarga ku. Maaf." Lanjutnya lagi.


Ririn tertunduk setelah mengatakan itu. Terdapat rasa penyesalan dalam setiap ucapannya. Tapi, di sisi lain ada kelegaan dalam hatinya setelah menceritakan kepada Raka.


Sebuah fakta baru saja disimpulkan oleh Raka. Ririn mengakui jika dirinya lah yang telah meletakkan alat penyadap di komputer milik David. Lalu mengapa orang yang dijebloskan ke penjara itu mengaku jika dia lah pelakunya.


"Apa kau akan membawaku ke polisi ?"


Pertanyaan Ririn membuat Raka tersadar dari pikirannya.


"Apa kau takut di penjarakan ?" Raka balik bertanya.


"Orang tua ku pasti akan kecewa mengetahui kalau aku sudah berbuat kejahatan."


Wajah sedih Ririn yang bercampur dengan penyesalan membuat Raka tak tega untuk mengungkit kesalahan wanita itu. Raka menyadari jika cintanya kepada Ririn membuat dirinya menjadi lemah. Tentunya ini tidak bisa dibiarkan. Raka harus sekuat tenaga untuk menjaga istrinya agar tidak bisa dimanfaatkan oleh musuh.


"Baiklah, jika kau tidak mau di penjara biar aku sendiri yang akan menghukum mu." Raka menyeringai sambil mengatakannya, membuat nyali Ririn menciut.


Jika lembaga penegak hukum yang menghukum mungkin masih diperlakukan dengan lebih manusiawi karena adanya aturan Standar Operasional (SOP). Tapi bagaimana jika yang menghukum itu orang yang telah kita jahati. Itu kan sama saja dengan balas dendam namanya. Tidak ada aturan yang mengatur bagaimana caranya balas dendam. Mereka akan melakukan penyiksaan sampai mereka puas hati.


Ririn makin ketakutan dengan pikirannya sendiri, membayangkan yang tidak tidak.


Raka mengangkat tubuh Ririn dari pangkuannya. Kemudian dia berdiri. Menarik tangan Ririn keluar dari ruang kerjanya menuju kamar di lantai atas.


Raka tersenyum memikirkan hukuman manis yang akan diberikannya untuk Ririn. Tapi berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Ririn. Dia tengah membayangkan akan dikurung dengan tidak di beri makan dan minum atau di kubur hidup-hidup atau juga langsung di bunuh. Bayangan-bayangan mengerikan terus berputar di pikirannya sendiri.


Tamat sudah riwayat ku hari ini.


Raka membaringkan tubuh Ririn di ranjang. Mengecup dalam bibir Ririn dengan penuh hasrat dan kian menuntut. Raka akhirnya mulai menghukum istrinya dengan hukuman yang tidak pernah terpikirkan oleh Ririn.

__ADS_1


Ririn hanya mengikuti dan membiarkan apa saja yang akan dilakukan oleh Raka padanya. Sungguh dia tidak berani melawan ataupun membantah Raka.


Apa ini yang di katakan olehnya sebagai hukuman ? Sungguh ini adalah hukuman yang menyenangkan. Setidaknya ini lebih baik dari pada di penjara.


Ririn merona memikirkannya. Diam-diam dia juga menikmati sentuhan dan belaian lembut yang Raka lakukan. Dia tersenyum dalam hangatnya pelukan Raka. Tubuh Raka yang sudah lengket karena keringat menyebarkan haruman khas di indra penciuman Ririn.


Sudah melewati tengah malam. Raka baru saja menghentikan kegiatannya menghukum istrinya. Raka benar-benar menghukum Ririn. Membuat Ririn tak mampu untuk bangun ataupun hanya sekedar untuk membuka matanya. Wanita itu kelihatannya sangat kelelahan setelah dihukum oleh suaminya.


Dengan tubuh yang lemah dan mata terpejam, telinganya sayup-sayup mendengar suara Raka berbisik.


"Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan pernah pergi dari ku."


Raka mencium kepala Ririn dan mempererat lagi pelukannya. Kemudian dia ikut menyusul Ririn memejamkan mata.


**


Pagi harinya. Ririn baru saja terbangun dari tidurnya mendapati Raka sudah tidak ada lagi di sampingnya. Sepertinya dia bangun kesiangan lagi hari ini. Ririn mengeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot dan sendi yang terasa kaku semua.


Ya, Tuhan. Dia benar-benar menghukum ku. Tubuh ku rasanya sakit semua seperti habis di keroyok orang sekampung.


Ririn masuk kedalam bathtub, merendam tubuhnya dengan air hangat dan aroma terapi untuk merilekskan tubuhnya. Kejadian semalam kembali berputar di ingatannya.


Benarkah apa yang sudah di lakukannya ? Haruskah dia jujur kepada Raka bahwa Tuan Bagaskara lah yang sudah menyuruhnya. Tuan Bagaskara adalah musuh yang selama ini dicarinya dan penyebabnya adalah karena Raka sudah menolak menikah dengan anaknya.


Apakah Raka akan percaya jika dia mengatakan yang sebenarnya ? Mengingat hubungan baiknya dengan Tuan Bagaskara, juga karena Tuan Bagaskara merupakan teman baik almarhum Ayahnya. Seseorang yang dia hormati itu lah musuhnya.


Jika dia mengatakan yang sebenarnya kepada Raka, bagaimana dengan keluarganya, kedua orang tuanya. Andai sesuatu hal buruk yang terjadi kepada mereka maka dia lah yang harus disalahkan.


Mengapa semuanya menjadi rumit seperti ini. Seandainya saja bukan Raka yang menjadi target utama balas dendam Tuan Bagaskara, tentu Ririn tidak akan peduli. Dia hanya perlu melindungi dirinya sendiri dan keluarganya.


Tapi, sekarang dia juga harus melindungi Raka, suaminya, orang yang dicintainya. Bagai mana dia akan melindungi orang orang yang sangat di sayanginya.


Tiba-tiba hatinya menghangat ketika mengingat Raka mengatakan cinta kepadanya tadi malam. Entah itu mimpi atau nyata, kata kata itulah yang selama ini ingin di dengannya.

__ADS_1


Jika benar nyata apa yang di dengarnya, itu artinya cintanya tak bertepuk sebelah tangan.


Aaahhhhh...


Ririn menjerit senang dalam hati, menepuk-nepuk pipinya dengan kedua tangan untuk menyadarkan dirinya bahwa ini bukanlah sebuah mimpi. Rasanya bahagia sekali dan dia ingin mendengar Raka mengatakan padanya sekali lagi.


Ririn bergegas memakai jubah mandi dan keluar dari kamar mandi setengah berlari, ketika mendengar suara deringan khas dari ponselnya. Suara deringan khas itu menandakan panggilan dari suaminya.


"Halo." Ririn tersenyum manis.


"Kau sedang apa ? Mengapa lama sekali mengangkat teleponnya ?"


Meskipun Raka berbicara dengan nada kesal, tapi Ririn mendengarnya dengan hati yang berbunga-bunga.


"Maaf. A, aku sedang mandi tadi."


Seketika itu Raka mengubah panggilan suara menjadi panggilan video. Raka tersenyum melihat penampilan Ririn melalui layar ponselnya. Sesuatu dari sifat lelakinya langsung bereaksi


"Apa kau sengaja mau menggoda ku ?"


"Hah. Apa ?" Ririn tidak mengerti apa yang Raka maksudkan.


Raka menyeringai menatap Ririn dengan tatapan sang pemangsa. Seketika Ririn baru menyadari melihat tampilannya di cermin yang berada di depannya. Dada putih mulus dengan bercak kemerahan serta belahan dan sedikit gundukan di dadanya jelas terlihat. Itu karena dia memakai jubah mandi dengan asal-asalan.


Ririn segera membenahi jubah mandinya, untuk menutupi apa yang harus ditutupi.


Raka duduk bersandar di sofa sambil asik menikmati pemandangan di layar ponselnya. Matanya terbelalak ketika mendapati ada sesuatu yang berada di belakangnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2