
Di gedung Perusahaan R&B Corp.
Hari masih pagi, tentunya semua karyawan masih memiliki banyak semangat untuk melakukan pekerjaan. Tapi tidak untuk Ririn, semangatnya langsung hilang saat sekretarisnya membacakan jadwal kegiatannya hari ini. Wajahnya lalu di tekuk, ketika mendengar jika pagi ini akan di adakan rapat dengan perusahaan Wiratama Grup.
"Suruh Deny mewakili ku untuk rapat pagi ini." Ririn sudah tidak mau lagi menghadiri pertemuan apa pun dengan perusahaan milik suaminya itu. Menurutnya Raka hanya mencari-cari kesempatan untuk menemuinya. Betapa tidak, bulan ini saja sudah lima kali Raka dan Arya datang hanya untuk membahas tentang hal-hal sepele dan berulang-ulang.
Satu jam kemudian Deny masuk ke ruangan Ririn.
"Maaf, nona. CEO Wiratama Grup memaksa anda untuk memimpin rapat hari ini dan tidak ingin perwakilan." Deny melapor ke pada Ririn.
Bukanya Deny tidak mau bertindak tegas kepada Raka, hanya saja Alex meminta agar perusahaan Wiratama Grup harus di prioritaskan karena banyak mendatangkan keuntungan bagi R&B Corp.
Ririn menghela napasnya. "Baiklah." Akhirnya Ririn memutuskan untuk datang menghadiri pertemuan dengan Raka, membuat pria itu menyunggingkan senyumnya melihat kedatangan wanita yang selalu di rindukannya.
Seperti yang sudah-sudah, pertemuan dengan Raka hanya lah membahas hal-hal yang tidak penting.
__ADS_1
Setelah rapat selesai, Raka menahan Ririn ketika wanita itu hendak meninggalkan ruang rapat.
"Tunggu." Raka menarik tangan Ririn dan segera di tepis oleh wanita itu. Raka menatap nanar pada tangannya yang terhempas. Sudah hampir tiga bulan ia berusaha untuk berbicara baik-baik dengan istrinya itu. Untuk mencari tahu alasan mengapa tiba-tiba Ririn meminta cerai darinya. Agar Raka mengetahui kesalahannya dan ingin memperbaiki.
"Tolong beri aku waktu untuk berbicara baik-baik dengan mu." pinta Raka dengan nada memelas. Hilang sudah sikap arogan yang selama ini melekat pada sosok CEO Wiratama Grup saat berhadapan dengan istrinya.
"Bicara apa lagi ?" tanya Ririn dengan ketus.
"Sudah lima kali kau datang kesini hanya untuk membicarakan tentang hal-hal yang tidak penting." sambung Ririn lagi.
"Sudahlah. Sekali lagi jika kau ke mari hanya untuk hal sepele, aku akan pastikan kau akan menandatangani surat perceraian kita." ucap Ririn tegas memotong perkataan Raka.
Mendengar Ririn mengucapkan tentang perceraian langsung membuat Raka terdiam. Laki-laki itu benar-benar di buat tidak berkutik saat Ririn mengucapakan kata keramat yang sangat tidak di inginkan olehnya. Ririn kemudian melenggang pergi setelah memberikan ancaman kepada suaminya.
__ADS_1
Malam harinya Raka sedang berada di ruangan kerja di rumahnya. Arya datang dengan membawa sebuah informasi yang baru saja ia dapatkan. Arya memperlihatkan sebuah video.
"Apa ini ?" Raka mengkerut melihat video yang berasal dari cctv yang ada di rumahnya.
Beberapa saat kemudian terlihat di dalam video tersebut Ririn yang sedang membawa napan yang berisi minuman hendak masuk ke ruangan kerja Raka tapi tidak jadi dan hanya berdiri di depan pintu yang terlihat sedikit terbuka. Hanya beberapa detik saja kemudian Ririn berbalik dan berpapasan dengan Evan. Ririn menyerahkan napan yang di bawanya kepada Evan dan dia langsung menaiki tangga menuju kamar.
Ingatan Raka langsung kembali pada malam itu.
"Mengapa baru sekarang kau memberitahukan tentang hal ini ?" Sekarang Raka mengerti mengapa Ririn ingin berpisah darinya.
"Pasti dia sudah salah paham." tebak Raka.
"Ayo, kita pergi." Raka segera berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Ia ingin segera menemui Ririn untuk menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi.
Saat sudah sampai di pintu keluar Raka menghentikan langkahnya. Ia teringat akan ancaman Ririn tadi pagi. Raka menjadi ragu untuk datang bertemu dengan istrinya itu. Akhirnya Raka mengurungkan niatnya untuk pergi malam ini.
__ADS_1
"Tidak jadi." Perintah Raka sambil berbalik masuk ke rumah yang membuat Arya menjadi bingung dengan sikap bos nya kini.