
Raka menarik nafas panjang sebelum keluar dari dalam mobil untuk menghilangkan perasaan cemasnya. Raka kembali memasang wajah datarnya seperti biasa. Ririn tersenyum dan melingkarkan tangannya di lengan Raka, berjalan memasuki aula pesta.
Seperti biasanya CEO Wiratama Grup selalu menjadi pusat perhatian di manapun ia berada. Malam ini para tamu undangan yang hadir juga bisa melihat kehadiran Nyonya Wiratama yang juga datang bersama suaminya.
Menjadi istri dari seorang CEO yang sempurna seperti Raka membuat Ririn dipandang sinis oleh kaum wanita yang ada di sana. Seakan ingin menela***ngi Ririn dengan tatapan tajam mereka untuk mencari kelebihan yang dia miliki. Mereka memandang iri kepada Ririn yang telah berhasil menaklukkan hati Raka yang terkenal dengan sikap dinginnya dan sangat sulit di dekati.
Sedangkan di mata kaum lelaki, memandang kagum pada sosok Ririn. Wanita hebat yang menjadi pendamping dari laki-laki hebat seperti Raka, tentu saja membuat mereka penasaran dan ingin memiliki Ririn.
"Selamat datang Tuan Wiratama. Terima kasih sudah datang ke pesta saya yang sederhana ini." Simon tersenyum dan mengulurkan tangannya bersalaman menyambut kedatangan Raka.
Kemudian matanya beralih melihat kearah Ririn "Selamat datang Nyonya Wiratama." ucapnya sambil tersenyum. Simon menatap Ririn dengan tatapan penuh nafsu, melihat Ririn dari bawah sampai keatas. Rasanya Simon ingin sekali mencicipi wanita cantik milik CEO muda yang hebat itu.
Raka ingin sekali menghajar lelaki tua mesum yang ada di depannya sekarang, sudah berani beraninya menatap istrinya dengan tatapan menjijikan itu. Raka mengepalkan tangannya. Dia sekuat hati menahan amarahnya sampai memutih buku jari jari tangannya.
David yang sudah dari tadi mengawasi Raka, segera menepuk bahu Raka agar tidak terpancing emosi.
"Tolong jaga mata anda tuan, jika anda masih ingin melihat dunia." sarkas Raka sambil menggeser tubuh Ririn agar berdiri dibelakangnya untuk melindungi istrinya dari tatapan laki-laki tua bre***ek.
Simon tersenyum masam, karena ia ketahuan oleh Raka sedang menatap Ririn dengan pikiran kotor.
"Ah, maaf tuan. Istri anda sangat cantik. Kalian memang pasangan yang serasi." Simon mengalihkan pembicaraan.
"Selamat menikmati pestanya. Saya permisi, mau menyapa tamu yang lain." Simon berlalu dari hadapan Raka yang sedang menahan marahnya.
Inilah yang menjadi alasan Raka mengurung Ririn di rumah. Selain untuk menjaga keselamatan Ririn, Raka juga tak rela jika ada yang memandang istrinya, apa lagi dengan tatapan penuh nafsu seperti tadi.
Raka mengambil minuman untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Raka hanya meminum setengah gelas dan setengahnya lagi di berikan kepada Ririn. Ririn harus memakan atau meminum sama dengan apa yang dimakan oleh Raka, karena Raka takut jika makanan atau minuman untuk Ririn akan diberikan sesuatu kedalamnya.
__ADS_1
David memegang keningnya yang terasa berdenyut melihat kelakuan aneh Raka. Memang kelihatannya romantis, tapi tidak untuk dilakukan ditengah tengah keramaian pesta seperti ini.
"Kau lihat Arya, kelakuan bos mu ?! Aku harap kau tidak melakukan seperti itu jika kau punya kekasih nanti." David bicara pelan melalui earphone nya.
David tau jika saat ini Arya dan tim Evan sedang mengawasi Raka dari luar melalui layar yang terhubung dengan kamera pengintai.
Evan terkekeh mendengar perkataan David, sedangkan Arya hanya memasang wajah datarnya.
Raka menatap tajam kearah David. Ya, Raka juga mendengar apa yang David katakan, karena mereka semua terhubung melalui earphone.
Satu jam telah berlalu sejak acara dimulai. Simon sudah selesai memberikan kata sambutan, kini hanya tinggal acara hiburan. Ririn terus berada di samping Raka ketika Raka berbicara dengan kolega bisnisnya yang turut hadir dalam acara tersebut. Raka terus menahan tangan Ririn agar tidak melepaskan lengannya.
"Berapa lama lagi acaranya selesai ?" bisik Raka melalui earphone.
"Setengah jam lagi acara penutupn, tuan bisa pulang setelahnya." terang Arya.
Raka merasa lega karena sebentar lagi bisa pergi dari keramaian ini dan tidak terjadi apa-apa seperti yang ditakutkannya.
"Oh, maaf nona. Saya tidak sengaja." Wanita itu mengambil tisu di tasnya dan ingin mengelap gaun Ririn.
"Eh, tidak apa apa. Biar saya saja." Ririn mencoba menahan tangan wanita itu. Ririn jadi tidak enak jika wanita itu membersihkan baju yang sedang dipakainya. Sedangkan Raka yang melihatnya merasa marah. Jika saja itu seorang pria sudah pasti Raka akan menghajarnya.
Arya dan Evan mulai waspada melihat kejadian itu. Biarpun kejadian itu kelihatannya sangat natural karena ketidaksengajaan tapi mereka harus tetap siaga dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Sekali lagi maaf nona. Saya janji akan mengganti gaun anda nanti." ucap wanita itu memelas.
"Tidak perlu. Ini masih bisa dibersihkan." ucap Ririn lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, nona. Anda sangat baik. Saya permisi." Wanita itu berlalu dari hadapan Ririn.
"Ayo, kita pulang saja." Ajak Raka yang berusaha menahan emosinya karena melihat apa yang terjadi kepada Ririn.
Ririn merasa tidak nyaman karena merasa lengket dan juga bau minuman yang menyengat "Aku akan ke toilet sebentar." kata Ririn.
Raka sudah mau mengikuti Ririn, tapi David menahannya. Raka sudah mau marah, tapi David menjelaskan jika ini adalah bagian dari rencana untuk memancing musuh.
Evan memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengikuti dan mengawasi Ririn yang pergi sendiri ke toilet.
David membawa Raka keluar dari aula pesta untuk menyembunyikan Raka yang sudah kelihatan cemas dan panik. "Kenapa lama sekali ?" Tanya Raka pada David.
"Bagai mana jika terjadi sesuatu padanya ?!" Raka menarik kerah baju David seakan ingin menghajarnya. Tapi David tidak melawan, karena ia tahu saat ini Raka sedang cemas akan keselamatan istrinya.
"Tenanglah, Arya selalu mengawasinya. Pengawal juga mengikuti istri mu." ucap David menenangkan.
Sementara itu, Arya dan Evan memperhatikan layar, melihat setiap sudut kamera yang berada di sekitar toilet sambil mendengarkan jika kemungkinan ada suara suara yang mencurigakan.
Terlihat empat orang pengawal sudah berdiri di depan pintu. Dua orang wanita yang masuk bersama dengan Ririn sudah keluar, itu artinya hanya tinggal Ririn sendiri di dalam.
Arya menajamkan pendengarannya, ia hanya mendengar suara air mengalir dan suara seperti gesekan. Mungkin Ririn sedang mengusap pakaiannya. Di layar ponselnya juga terlihat posisi Ririn masih berada di dalam toilet.
"Eeeuummmmm."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung . . .