
Hari ini Ririn keluar dari rumah sakit setelah dua hari di rawat. Tidak ada luka yang serius yang di alami oleh Ririn, karena tubuhnya tidak benar-benar jatuh ke tanah. Dua orang tukang kebun yang ada di rumah Raka sempat menyelamatkan istri tuannya dengan menangkap tubuh wanita itu.
Selama di rawat, Raka tidak pernah datang untuk menemuinya. Entah kenapa Ririn merasa sangat kesal dalam hatinya. Sedangkan selama ini dia sendiri yang selalu menolak untuk bertemu dengan suaminya itu. Tapi saat ia tahu Raka pasti sudah meniduri nya malam itu tidak membuatnya marah.
"Ayo, nona. Mobilnya sudah siap." beritahu seorang pelayan wanita yang selama dua hari ini menjaganya di rumah sakit.
"Ia, Bi." Ririn berjalan keluar kamar rawat inap di ikuti oleh pelayannya.
"Bi, siapa yang membawa saya ke rumah sakit ?" tanya Ririn.
"Maaf. Saya tidak tau nona. Tuan Deny yang mengantarkan saya ke rumah sakit untuk menjaga nona." jawab pelayan itu.
Ririn menghela napasnya. Tak terasa mobil kini sudah memasuki gerbang kediaman Tuan Bagaskara yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Sepanjang hari Ririn mengingat kembali tentang kejadian di rumah Raka beberapa hari yang lalu. Ia menyadari kecelakaan itu adalah karena salahnya sendiri.
Tuhan apa yang harus aku lakukan ? apa aku sudah sangat keterlaluan ? Aku bahkan tidak mau memberikan kesempatan untuk nya bicara. Aku sungguh tidak siap untuk merasakan sakit hati lagi. Tapi, aku juga tidak mungkin untuk menghindarinya seumur hidup ku. Huh...
Setelah sehari semalam merenung, Ririn akhirnya memutuskan akan memberikan kesempatan kepada Raka untuk bicara. Agar permasalahannya cepat selesai dan nasib pernikahannya jelas.
Besok harinya Ririn sudah kembali bekerja seperti biasa. Sekretarisnya baru saja selesai membacakan jadwal kegiatannya hari ini.
"Apa anda ingin meminta Deny mewakili anda dalam rapat dengan Wiratama Grup ?" tanya wanita yang beberapa tahun lebih muda darinya yang menjadi sekretarisnya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya sendiri akan menghadirinya."
Sekretaris itu mengerenyitkan keningnya, merasa aneh dengan atasannya itu. Biasanya akan selalu menolak untuk datang bila ada pertemuan dengan Wiratama Grup.
"Baik. Saya permisi."
Setelah selesai jam makan siang. Ririn membetulkan penampilannya. Ia menghela napasnya untuk menenangkan diri sebelum bertemu dengan Raka.
Ririn masuk ke dalam ruang pertemuan bersama sekretarisnya. Ia mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Ririn mengedarkan pandangannya, sosok yang di carinya tidak ada di sana.
Bagus. Dia tidak ada.
Hari-hari begitu cepat berlalu. Tak terasa sudah satu bulan sejak kejadian itu. Ririn sudah bertanya kepada Deny mengapa ia bisa sampai bersama Raka. Deny pun menjelaskan saat itu Raka ingin membawa Ririn pergi karena ia tidak ingin orang lain menyentuh istrinya, apa lagi Ririn dalam keadaan mabuk. Meskipun Deny sudah menjamin akan keselamatan nonanya tapi tetap saja Raka memaksa dengan dalil ia yang lebih berhak sebagai seorang suami. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi melihat atau pun berpapasan dengan Raka.
Ririn memijit keningnya. Kilasan bayangan kejadian malam itu seakan terngiang di ingatannya. Meskipun kurang jelas tapi ia selalu muncul dalam mimpinya ia menarik Raka dan menciumnya lebih dulu.
Sudah pukul tujuh pagi. Rasanya Ririn sangat malas untuk bangun dari tidurnya. Jika tidak memikirkan pekerjaannya di kantor ia pasti benar-benar tidak akan beranjak dari tempat tidur.
"Dingin sekali." tubuhnya menggigil saat terkena air. Ririn mandi dengan cepat pagi ini sebagai syarat ia sudah mandi pagi. Meskipun hanya alakadar saja.
__ADS_1
"Bi, bisa tolong buatkan saya coklat panas." pagi ini Ririn tiba-tiba saja ingin sarapan dengan coklat panas yang biasanya ia hanya minum susu atau teh.
Setelah sampai di kantor, Ririn mulai disibukkan dengan setumpuk pekerjaan sehingga tiba waktu makan siang.
"Nona, sudah saatnya makan siang. Apa anda ingin makan siang di luar atau di kantor ?" Sekretarisnya mengingatkan.
"Apa kamu sudah makan ?" Ririn balik bertanya.
"Belum."
"Kalau gitu ayo kita pergi makan siang. Saya traktir." Ririn tersenyum membayangkan nikmatnya makan nasi padang yang masih hangat.
Ririn segera beranjak keluar dari ruangan di ikuti oleh sekretarisnya. Ketika sudah sampai di parkiran Ririn merasakan kepalanya pusing sehingga ia berjalan dengan sempoyongan.
"Anda kenapa nona ?" tanya sekretarisnya khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing." mungkin karena kepalanya terkena teriknya matahari begitu pikir Ririn. Mereka pun meneruskan langkah menuju mobil.
"Nona !"
Belum sempat Ririn mencapai pintu mobil tubuhnya tiba-tiba saja terjatuh dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1