Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Kepergian Tuan Bagaskara


__ADS_3

Raka menghentikan langkahnya saat berjalan di pintu masuk Rumah Sakit, sepertinya dia mengenali wanita yang baru saja berjalan melewatinya. Saat Raka membalikkan badannya wanita itu sudah masuk kedalam mobil dan sudah berjalan meninggalkan rumah sakit.


"Tuan" panggilan dari Arya menyadarkan Raka tentang tujuan utamanya datang ke Rumah Sakit ini.


Kini Raka berada di Ruang rawat Tuan Bagaskara karena Tuan Bagaskara sendiri yang meminta Raka datang. Dia ingin meminta maaf atas segala kejahatan yang dilakukannya selama ini. Dan yang lebih penting dari itu, Tuan Bagaskara ingin mengembalikan Ririn kepada Raka dan meminta Raka untuk menjaga putrinya karena seumur hidupnya telah menyia-nyiakan Ririn.


"Raka, maaf-kan sa-ya." Tuan Bagaskara terbata karena kondisi kesehatan yang semakin menurun.


"Di mana istri ku ?" tanya Raka dengan tegas tanpa menanggapi permintaan maaf Tuan Bagaskara. Tidak ada sedikitpun rasa kasihan di hatinya dengan keadaan pria tua itu.

__ADS_1


"A-da di-si-ni." Raka melihat di sekeliling ruangan mencari Ririn.


"Jangan mempermainkan ku !" kedua tangan Raka sudah mau menarik Tuan Bagaskara jika saja Arya dan dua orang pengawal Tuan Bagaskara tidak menahan Raka, karena merasa dipermainkan. Ririn tidak ada disini.


"To-long ja-ga-kan pu-tri-ku." kata terakhir yang keluar dari Tuan Bagaskara kemudian tidak sadarkan diri.


"Dimana istri ku !" teriak Raka mengguncang tubuh Tuan Bagaskara. Dengan segera Arya dan para pengawal menjauhkan Raka dari Tuan Bagaskara dan membawanya keluar. Sedangkan tim Dokter segera menangani Tuan Bagaskara yang semakin lemah. Sedangkan di luar Arya terpaksa membawa Raka untuk segera pergi dari rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit Ririn bertemu dengan beberapa orang dokter dan perawat. "Maaf, Nona. Kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Tuan Bagaskara." ucap seorang dokter senior. Ririn terkedu dengan apa yang baru saja didengarnya. Tidak tahu apakah harus sedih atau pun senang mendengar berita ini. Tapi naluri kemanusiaannya tetap merasa sedih bila berhubungan dengan kematian.

__ADS_1


Proses pemakaman Tuan Bagaskara telah selesai sore hari itu juga. Ramai dihadiri oleh para rekan bisnisnya dan juga teman-temannya. Sedangkan Raka hanya duduk di dalam mobil melihatnya dari kejauhan tanpa berniat mengantarkan sahabat ayahnya itu ke peristirahatan terakhir apalagi untuk berbelasungkawa. Rasa marah dan benci masih memenuhi ruang hatinya.


Saat semua orang mulai meninggalkan lokasi pemakaman, kini tampaklah seorang wanita dan beberapa orang pengawal dengan berpakaian hitam dan mengenakan kacamata hitam.


Apa dia yang di maksudkan oleh orang tua itu. Cih.


Raka sangat tidak tertarik memandang wanita itu, dia lebih memilih untuk memandang layar ponselnya melihat foto cantik istrinya yang sudah hampir satu tahun menghilang. Raka menghembuskan napas berat memikirkan Ririn.


Berbeda dengan Raka yang mengeluh di kursi belakang, Arya yang duduk di balik kemudi terus memperhatikan sosok wanita yang terlihat bersedih. Mata elangnya membandingkan dengan foto yang dikirim oleh anak buahnya kemarin. Arya merasa mengenali wanita itu, tapi dia tidak mau terburu-buru membuat kesimpulan. Arya masih menunggu informasi lebih lanjut dari orang suruhannya.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang." Perintah Raka. Arya pun menjalankan mobilnya meninggalkan area pemakaman. Arya melirik Raka yang sedang sibuk dengan ponselnya.


__ADS_2