Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Karena Mimpi


__ADS_3

Ririn sedang berjalan-jalan di sebuah taman.


Senangnya bisa berada di sini. Akhirnya aku bisa bebas keluar sendirian, tanpa Raka dan tanpa pengawal. Eh, ada apa di sana ?


Matanya tak sengaja melihat kearah tempat keramaian. Karena penasaran, Ririn menuju kerumunan orang-orang di depan sana.


Wah, ada pertunjukan Kingkong. Ish, mengerikan sekali. Ririn bergidik ngeri melihatnya.


Karena takut melihat makhluk berbulu yang begitu besar, akhirnya Ririn pergi dari kerumunan orang-orang itu. Seketika kepanikan terjadi. Sekumpulan orang yang ramai tadi berhamburan, berlarian menjauh.


Ada apa ini ?


Ririn melihat ke belakang. Ternyata Kingkong nya sedang mengamuk. Ririn ikut berlari bersama dengan yang lainnya untuk menyelamatkan diri masing-masing.


Tiba-tiba dia merasa tubuhnya melayang, tapi tidak bisa digerakkan. Dadanya terasa sesak, seperti dihimpit dengan batu besar. Aaahhh. Ternyata makhluk mengerikan itu menangkap Ririn dan menggenggam tubuh itu dengan jari-jari besarnya.


Tolong. Tolong. Hhuaaa. Lepaskan aku !


Ririn menjerit meminta pertolongan. Tapi, suaranya seperti tidak keluar dari tenggorokan. Padahal, dia sudah menjerit dengan sangat keras. Ririn terus memberontak ingin melepaskan diri. Tapi, semakin kuat lagi tubuhnya digenggam.


Tunggu, tunggu. Sepertinya ada sesuatu yang aneh di sini. Kenapa Kingkong nya wangi sekali, ya ? Seperti bau... . Oh, no !


Ririn membuka matanya. Hufff. Cuma mimpi.


Baru saja merasa lega, sesaat kemudian Ririn menjadi begitu terkejut. Dia mendapati dirinya sedang dipeluk sangat erat oleh Raka. Wajahnya begitu dekat dengan dada Raka, sehingga dia bisa mencium bau khas tubuh laki-laki yang sedang memeluknya itu.


Oh, karena ini Kingkong nya jadi bau wangi. Kik, Kik, Kik.


Ririn terkikih dalam hati, saat mengingat mimpi yang dialaminya sebentar tadi. Dia mendongakkan kepalanya, melihat wajah Raka.


Kingkong nya tampan. Kik, kik, kik.


Ririn tidak bisa menyimpan perasaan lucunya. Tubuhnya bergetar karena tawanya yang tertahan. Dia tidak mau Raka yang sedang tidur itu terbangun karena ulahnya. Tapi tetap saja, Raka yang selalu berwaspada dapat merasakan pergerakan sekecil apapun dan akhirnya membuatnya terjaga.


"Ada apa dengan mu ?" Pertanyaan Raka yang tiba-tiba mengejutkan Ririn.


Raka menyangka Ririn sedang menangis sesenggukan sehingga membuat tubuhnya bergetar. Tapi, setelah melihat wajah Ririn sepertinya sangkaannya salah. Dia malah heran melihat bekas tawa yang masih tersisa di wajah Ririn.

__ADS_1


Ririn menggeleng menjawab pertanyaan Raka sambil menutup mulutnya, masih menahan tawa.


"Apa ada yang lucu ?" Raka mulai penasaran melihat istrinya tertawa di jam yang tidak biasanya. Sekarang sudah masuk waktu dini hari. Siapa orang yang masih bercanda dan tertawa di jam begini.


"Tidak, tidak ada. Aku hanya bermimpi." Ririn berkata di iringi dengan gelak tawanya.


Uuhhh. Mengapa kau begitu menggemaskan, Ana.


Melihat tingkah Ririn yang sangat menggemaskan itu, Raka makin memperkuat dekapannya pada tubuh yang masih ada dalam pelukannya.


"Mimpi apa, hhmm ?" Tanya Raka gemas. Ririn terus menggeleng sambil tertawa. Melihat Ririn yang tidak menjawab, tangan Raka yang sedang melingkar di perut Ririn langsung menggelitik pinggang ramping itu.


Pecah sudah tawa Ririn, menggema memenuhi ruang kamar. Dia tidak bisa lagi menahan tawanya karena sensasi geli yang diberikan Raka.


"Katakan !" Perintah Raka. Masih lagi menyiksa Ririn dengan gelitikan nya.


"Ampun, ampun. Ha ha ha." Nafas Ririn sudah terengah-engah. Tapi, dia masih saja tergelak.


Raka menghentikan tangannya, tapi, tidak melepaskan pelukannya. Membiarkan Ririn untuk membetulkan nafas dan tawanya juga akan menyurut.


Melihat wajah Raka, tawa Ririn kembali pecah teringat akan mimpinya. Dia sudah tidak bisa berkata kata apa-apa lagi. Raka kembali menggelitiknya dengan lebih keras.


"Ampun, ampun. Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakannya. Ha ha ha ha." Masih saja tidak dapat menghentikan tawanya.


"Aku, aku mimpi ditangkap oleh Kingkong. Ha ha ha ha." Tertawa lagi karena lucu ketika menyebutkan kata Kingkong.


Raka ingin tertawa setelah mengetahui mimpi Ririn. Sangat konyol pikirannya. Bermimpi ditangkap Kingkong. Di sini mana ada makhluk berbulu itu. Tiba-tiba Raka menangkap sesuatu di pikirannya.


"Apa maksudmu aku yang jadi Kingkong nya ?"


Ririn tidak lantas menjawab pertanyaan Raka. Dia malah makin tertawa sejadi-jadinya. Melihat hal itu, Raka sudah dapat memastikan bahwa jawabannya adalah iya.


"Beraninya kau mengatai ku Kingkong." Raka berkata dengan nada yang kesal. Tak terima dia di samakan dengan makhluk besar berbulu.


Bukannya takut, Ririn malah terus saja tertawa. Raka semakin keras menggelitik tubuhnya. Membuat Ririn semakin menggelinjang. Tawanya tetap tidak menyurut. Raka yang awalnya merasa kesal malah ikut tertawa bersamanya.


Keduanya saling bergelut di atas tempat tidur, membuat bantal dan selimut berserakan di atasnya. Ririn yang sudah sangat lelah akibat terlalu banyak tertawa, tidak mampu lagi untuk menahan serangan dari tangan Raka.

__ADS_1


Ririn melambai-lambai kan tangannya ke atas, tanda menyerah.


"Cukup, cukup. Ah, hah." Nafas Ririn sudah tersengal-sengal. Raka menghentikan kejahilan tangannya melihat Ririn yang sudah tidak berdaya. Ririn menjatuhkan tubuhnya di samping Raka.


Senyum masih menghiasi wajah Raka. Wajah tampan itu bertambah tampan karena ada aura kebahagiaan yang ditularkan oleh Ririn. Sisa-sisa tawa masih terdengar dari mulutnya. Sudah sangat lama Raka tidak pernah tertawa lepas seperti ini.


Kehadiran Ririn benar-benar telah memberikan warna baru dalam hidupnya. Raka tidak menyangka jika dia masih bisa tertawa lagi setelah kematian kedua orang tuanya.


Raka menatap Ririn yang sudah terbaring lemas dan tak berdaya di sampingnya dengan mata terpejam. Alunan nafas Ririn yang memburu dengan cepat membuat dadanya turun naik. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah bagi seorang laki-laki.


Ririn membuka matanya. Tertegun melihat Raka yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Perlahan Raka mendekatkan wajahnya. Memberikan sebuah kecupan singkat dibibir Ririn. Raka kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat bagaimana reaksi Ririn. Seperti sedang terhipnotis dengan pandangan Raka, Ririn hanya terdiam mematung.


Raka kembali melakukannya, namun kali ini lebih dalam dan lebih menuntut. Melihat Ririn yang masih diam dan tidak melakukan penolakan, membuat Raka seperti mendapatkan kode lampu hijau untuk melanjutkan.


"Izinkan aku untuk melakukannya." Raka berbisik lembut di telinga Ririn. Sepertinya Raka sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi hasratnya.


Hangat hembusan nafasnya menerpa kulit Ririn, sehingga mengalirkan sensasi lain yang belum pernah dirasakan oleh Ririn sebelumnya.


Seperti terbawa oleh suasana hening dan dingin, Ririn hanya bisa pasrah menerima dan membiarkan saja apa yang akan dilakukan oleh Raka padanya.


Setelah hampir dua bulan menunggu, tentu saja Raka tidak akan melepaskan kesempatan bagus untuknya seperti saat ini. Mungkin saja dia akan mengganti setiap malam yang telah mereka lewatkan begitu saja selam dua bulan menikah.


Raka menyeringai di tengah melakukan tugas beratnya itu ketika pikiran liciknya melintas di benaknya.


.


.


.


.


.


Bersambung. . . .

__ADS_1


__ADS_2