
Pukul sembilan pagi Ririn baru keluar dari kamarnya, setelah setengah jam sebelumnya seorang pelayan membangunkannya karena sebentar lagi Ririn akan diantarkan ke rumah sakit untuk menemui papanya, Tuan Bagaskara.
Ririn menghentikan langkahnya ketika melihat foto Emily yang terpampang besar di dinding.
Dia sangat cantik. Apakah benar aku dan dia bersaudara dari ayah yang sama ?
"Silahkan, nona." Sapaan seorang pelayan menyadarkan Ririn dari pikirannya.
"Ah, iya." Ririn melanjutkan jalannya mengikuti pelayan menuju ruang makan.
Selesai sarapan Ririn diantar ke rumah sakit. Tidak seperti kemarin dia selalu didampingi oleh Wili, pria berwajah datar. Pagi ini hanya seorang supir yang mengantarkannya.
Setibanya di rumah sakit, Ririn langsung di bawa menuju keruangan rawat VIP Tuan Bagaskara. Perasaan Ririn menjadi campur aduk. Bagaimana dia akan bersikap di hadapan Tuan Bagaskara. Apakah dia harus bersikap sebagai seorang anak atau harus membencinya karena telah membuangnya ketika kecil.
Ririn melihat kini Tuan Bagaskara sedang terbaring lemah tak berdaya. Tuan Bagaskara meminta Ririn mendekat dengan menggerakkan jarinya melambai Ririn.
__ADS_1
Setelah Ririn sampai di samping Tuan Bagaskara, pria paruh baya itu tersenyum. Tangan lemahnya mencoba meraih tangan Ririn.
"Maafkan papa, nak." Ucap lirih Tuan Bagaskara. Kini ia merasa menyesal dalam hatinya.
"Maafkan papa karena telah memisahkan mu dengan suamimu dan keluarga mu." Matanya mulai berkaca-kaca mengingat apa yang telah ia lakukan kepada Ririn selama ini.
Saat ia memerintahkan anak buahnya untuk menculik Ririn yang saat itu baru pulang dari rumah orang tuanya, Tuan Bagaskara baru mengetahui ketika melihat foto Ririn bersama ibunya yang dikirimkan oleh anak buahnya pada hari itu. Dia pun mencari tahu lebih banyak tentang Ririn dan dia mendapati Ririn benar adalah anak kandungnya dari kejadian yang tidak disengaja dengan Sintia yang saat itu menjadi sekretarisnya.
Bagaimanapun Tuan Bagaskara bukanlah seorang pria brengsek yang tidak bertanggung jawab. Dia menikahi wanita itu ketika tau Sintia mengandung anaknya. Meskipun dia merahasiakan pernikahan keduanya.
Enam bulan setelah perceraian itu, seorang wanita muda yang merupakan teman Sintia datang membawa Ririn yang masih balita datang ke rumah Tuan Bagaskara. Wanita itu ingin menyerahkan Ririn kembali kepada papanya kandungnya karena Sintia telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Itu lah pesan terakhir Sintia sebelum menghembuskan napas terakhir.
Ririn tidak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi permintaan maaf Tuan Bagaskara. Ririn sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada kehidupannya di masa lalu. Mengapa tiba-tiba sekarang dia menjadi anak dari Tuan Bagaskara. Tolong siapa yang bisa menjelaskan semua ini.
Ibu, ayah !
__ADS_1
Ya, Ririn harus segera menemui kedua orang tuanya untuk menanyakan kebenaran ini. Selain itu dia juga sudah sangat rindu kepada keduanya. Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu.
Sudah hampir dua jam lamanya Ririn berada di ruang rawat Tuan Bagaskara. Meskipun tidak mengerti tapi Ririn tetap mendengarkan keluhan penyesalan Tuan Bagaskara yang bercerita dengan suara yang bergetar dan terputus-putus.
Kini Tuan Bagaskara sedang beristirahat. Ririn ingin segera pergi ke rumah orang tuanya. Kebetulan juga sekarang saatnya jam makan siang.
.
.
.
.
Bersambung. . . . .
__ADS_1