Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Mengubah Rencana


__ADS_3

Rutinitas pagi hari ini masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Menyediakan pakaian kerja suami dan segala kebutuhan lainnya.


Dia ini orang apa robot sih ? Tidak ada lelah-lelahya. Bisa-bisanya dia masih bisa se semangat ini mau pergi bekerja. Padahal dia tidak tidur sama sekali sampai pagi.


Ririn merasa takjub akan stamina yang dimiliki Raka. Sedangkan dirinya sendiri saja seperti tidak sanggup untuk berdiri jika tidak memaksakan diri. Tubuhnya sangat lemah dan juga dengan mata yang masih mengantuk. Ririn berencana akan melanjutkan tidurnya setelah Raka pergi bekerja.


Saat ini Ririn sedang memasangkan dasi pada kemeja Raka sambil sibuk memikirkan laki-laki di depannya itu. Hanya tinggal satu tarikan terakhir dan selesai. Dasi sudah terpasang dengan sempurna.


Raka sangat menikmati ekspresi Ririn saat ini. Ririn terlihat kesal dan juga malu-malu. Ada rasa kasihan juga dalam hati Raka, melihat mata kuyu di wajah lelah istrinya.


Mata Raka berbinar bangga melihat setiap jejak yang ditinggalkannya pada bagian tubuh Ririn yang dapat di pandang mata. Itu hanya sebagian, dan sebagainya lagi tertutup oleh baju yang dikenakan Ririn.


Raka menahan tangan Ririn sebelum Ririn berlalu dari hadapannya. Ririn menunduk, tak ingin melihat wajah Raka. Ririn masih malu pada suaminya, karena kejadian itu.


"Mau kemana ?" Tanya Raka.


"A, aku akan mengambilkan tas dan baju jas untuk mu."


Wajah Ririn makin merona ketika Raka menyapanya. Masih tetap menunduk, sebisa mungkin Ririn menghindari dari bertatap mata dengan Raka.


Melihat sikap malu-malu istrinya itu membuat Raka tersenyum. Tak ingin terus menggoda istrinya, Raka akhirnya melepaskan tangan Ririn yang ada digenggaman nya.


Beberapa orang pelayan masuk setelah mendengar suara perintah Raka mengizinkan mereka untuk masuk.


Eh. Kenapa membawa sarapan ke kamar ?


Untuk pertama kalinya Raka menyuruh pelayan mengantarkan makanan ke kamar, karena tak ingin Ririn kecapean turun tangga ke lantai bawah. Padahal ya Ririn memang sudah kecapean akibat perbuatannya.


Setelah menata makanan di atas meja, para pelayan segera keluar.


Sudah duduk berdua di sofa. Raka mengambil semangkuk bubur dan menyuapkan ke mulut Ririn.


"Ah, tidak perlu. Aku bisa makan sendiri." Ririn menolak secara halus, memundurkan wajahnya menjauhi sendok bubur.


"Baiklah. Jika kau tidak mau disuapi."


Pikir Ririn, Raka akan marah karena penolakannya. Ternyata tidak. Raka tidak marah sama sekali. Wajah kesal pun tak di tunjukkan nya. Mungkin suasana hatinya sedang baik.


Raka memakan sendiri bubur yang sudah ada di tangannya. Kemudian meletakkan kembali sendok dan mangkuk bubur ke meja.


Raka menarik dagu Ririn dan menahan kepalanya agar tidak bisa bergerak. Ririn yang tidak siap mendapatkan serangan tiba-tiba itu menjadi sangat terkejut.

__ADS_1


Dasar tidak waras.


Ririn mengusap bibirnya. Kini rongga mulutnya telah di penuhi dengan bubur. Kesal menatap Raka yang sedang menyeringai dengan senyum penuh kemenangan seperti berkata 'Aku tidak mau dibantah'.


Seharusnya Ririn tau, seperti apa sifat suaminya. Tidak mau di bantah dan suka melakukan sesuatu semaunya sendiri.


Raka kembali menyuapi Ririn. Kali ini tidak ada penolakan, sampai tidak tersisa lagi bubur ditempatnya.


Ririn sangat kelaparan pagi ini. Dia membutuhkan lebih banyak makanan dan asupan nutrisi untuk mengembalikan tenaganya yang sudah terkuras.


Semangkuk bubur dan segelas susu tandas seketika. Dan ini yang terakhir, Raka memberikan sebutir kapsul dan segelas air putih.


"Ini akan memulihkan tenaga mu."


Raka mengusap kepala Ririn seperti mengusap kepala anak kecil.


"Istirahatlah. Persiapkan diri mu untuk nanti malam. Kita akan mulai menyicil untuk waktu enam puluh hari yang terlewatkan." Ucap Raka sambil tersenyum. Tapi terdengar sangat menakutkan bagi Ririn.


Raka mengecup sekilas bibir Ririn sebelum berdiri. Ririn sudah mau ikut berdiri mengantarkan Raka.


"Tidak perlu mengantar ku." Perintah Raka.


Setelah Raka keluar kamar, Ririn menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Menarik nafas panjang, mengingat kegiatannya bersama dengan Raka tadi malam menjelang pagi.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Ririn sudah terlelap kembali untuk melanjutkan tidurnya lagi.


**


Gedung Wiratama Grup


"Apa sudah ada perkembangan ?" Raka bertanya kepada David tentang penyelidikan terhadap beberapa perusahaan lawan bisnisnya.


"Tidak ada. Semuanya tak ada yang mencurigakan. Perusahaan juga dalam keadaan stabil."


Raka diam sejenak memikirkan keterangan dari David.


"Bagaimana denganmu ? Apa kau sudah mendapatkan sesuatu dari istri mu?" David balik bertanya.


Raka tersenyum mendengar pertanyaan dari teman baiknya itu.


"Tentu saja, sudah." Jawab Raka senang.

__ADS_1


David sangat antusias mendengarkan jawaban dari Raka.


"Benarkah ?! Apa ? Mengapa tidak memberi tahu ku ?"


"Apa yang ingin kau tahu ?" Raka tersenyum mengejek kepada David.


"Apa kau ingin tau bagaimana aku memulainya ? Atau, kau ingin tahu caraku memuaskannya ? Ah, kau bahkan belum menikah. Bagaimana aku akan memberi tahu pada mu." Lanjut Raka panjang lebar.


"S**lan. Bukan itu yang kau maksud." David mengumpat, wajahnya terlihat kesal karena merasa di permainkan oleh teman sekaligus bos nya itu. Dia tahu kemana arah pembicaraan Raka. bisa-bisanya Raka membicarakan hal seperti itu di saat David sedang serius membahas perusahaan.


Raka tertawa melihat ekspresi wajah David yang sedang kesal. Bukan maksudnya mengejek ataupun pamer pada temannya yang belum menikah, tapi Raka masih teringat dan terbayang kegiatannya bersama sang istri.


"Sepertinya musuh kita sangat dekat dan mengetahui kemampuan kita." Raka mulai bicara serius.


"Tidak ada satupun panggilan atau pesan yang mencurigakan. Mungkin mereka tahu kalau aku sudah menyadap ponsel miliknya." Lanjutnya lagi.


"Sebaiknya kau merubah tak tik mu. Kau sudah mengurung dia selama dua bulan, tapi tidak ada hasilnya."


Raka terdiam memikirkan saran dari David. Benar yang dikatakan oleh David, dia harus mengubah caranya. Tapi itu terlalu beresiko untuk Ririn.


"Kau harus memancing musuh keluar dengan menggunakan gadis itu."


Raka terlihat ragu dengan rencana David.


"Kau bisa mengawasinya dari jauh atau mengirim beberapa pengawal untuk mengawasinya." Lanjut David.


"Itu mungkin akan membahayakan nyawanya." Ucap Raka yang memang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.


"Ayolah, Raka. Dia itu pasti wanita yang tangguh. Bahkan dia sudah pernah terlibat dengan mereka."


Raka masih diam memikirkan pendapat David. Jauh dari dalam lubuk hatinya, Raka tidak ingin sedikit pun melibatkan Ririn dalam masalah ini. Tapi musuhnya juga tidak bisa di biarkan terlalu lama mempermainkannya.


"Jika memang kau keberatan melibatkan istri mu, sebaiknya kau tanyakan langsung padanya siapa orang itu. Mudah kan ?" Ujar David lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2