
"Jika memang kau keberatan melibatkan istri mu, sebaiknya kau tanyakan langsung padanya siapa orang itu. Mudah kan ?" Ujar David lagi.
"Bagaimana jika cara ini tidak berhasil juga ?"
"Kau bahkan belum menanyakan nya, tapi kau sudah menyerah. Jika dia tidak mau buka mulut, kau bisa mengancamnya. Bukankah kau ahli dalam hal begini, mengancam dan mengintimidasi orang."
***
Setelah selesai makan malam, Raka meminta Ririn membawakan minuman di ruang kerjanya. Dengan malasnya Ririn berjalan menghampiri Raka, meletakkan nampan berisi kopi di meja.
Raka menarik Ririn untuk duduk di pangkuannya. Memeluk erat tubuh mungil istrinya. Menghidu haruman tubuh Ririn, membuatnya tenang. Kemudian matanya beralih menatap wajah cantik Ririn.
"Mengapa kau tidak datang hari itu ?" Raka memulai bicara.
Hah
Apa maksudnya ? Kapan aku tidak datang menemuinya ?
Ririn bingung dengan pertanyaan Raka. Seketika ingatannya berlarian jauh pada masa bertahun-tahun lalu, dimana hari itu Raka berjanji akan memberikan jawaban atas pernyataan cinta yang entah sudah berapa kali di ungkapkan olehnya.
Wajah Ririn seperti terbakar ketika mengingat masa lalunya itu, sangat memalukan. Bagaimana bisa dengan tidak tahu malunya dia mengatakan cinta kepada seorang laki-laki yang baru beberapa bulan di kenalnya.
Entah apa yang dipikirkannya saat itu sehingga betapa mudahnya dia menyukai orang yang baru dia kenal, tanpa memikirkan apakah orang itu baik atau orang jahat. Mungkin bagi seorang gadis remaja seperti Ririn saat itu hanya melihat dari tampangnya saja. Raka yang memang sudah sangat tampan sejak remaja membuat Ririn jatuh cinta.
"A, aku. Sebenarnya aku datang, tapi saat aku sudah sampai aku melihat kau sudah memasuki mobil." Ririn menjelaskan apa yang dilihatnya saat itu.
Raka terkesiap mendengarnya. Andai saja dia menunggu beberapa saat lagi, pasti dia tidak akan kehilangan jejak gadis yang sudah berhasil mencuri hatinya.
"Mengapa tidak memanggil ku ?"
"Aku takut. Saat itu aku melihat mu bersama beberapa orang dengan setelan baju yang sangat rapi."
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat datang hari itu." Lanjut Ririn.
***
Kejadian di masa lalu.
Hari itu Ririn sedang banyak kerjaan, mengantarkan banyak pakaian yang sudah di laundry ke rumah pelanggan. Padahal dia sudah berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi tetap saja terlambat karena dia hanya mengendarai sepeda.
Raka yang sedang duduk menunggu kedatangan Ririn di kursi taman, tiba-tiba di jemput oleh beberapa orang anak buah ayahnya karena kondisi ayah Raka sekarang sedang kritis di rumah sakit.
Malam harinya Raka membawa ayahnya ke luar negeri atas saran dokter, agar mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Setelah dua minggu dirawat keadaan ayahnya tak kunjung membaik dan akhirnya meninggal dunia.
Setiap harinya Ririn akan menyempatkan waktu untuk datang ke taman, berharap dapat bertemu dengan Raka dan meminta maaf karena tidak menepati janjinya pada hari itu. Tapi, nihil. Hampir satu bulan dia menunggu, Raka tidak pernah sekalipun muncul di sana. Mungkin laki-laki itu sudah melupakannya, begitu yang dipikirkan Ririn. Akhirnya Ririn menyerah dan tak pernah lagi datang ke taman.
Raka yang baru saja kehilangan ayahnya semakin sibuk mengurus dan menata kembali perusahaan peninggalan sang ayah. Setelah hampir satu tahun, keadaan perusahaan sudah mulai stabil, Raka sempat berusaha mencari keberadaan Ririn. Tapi sayangnya, tidak ada satupun petunjuk yang dia punya. Raka hanya mengingat sebuah nama yaitu Ana, nama yang sama dengan nama panggilan ibu yang sangat disayanginya.
Karena sikap cueknya dan sibuk dengan pemikirannya sendiri, Raka hampir tidak pernah menanggapi perkataan Ririn. Padahal Ririn sudah bicara banyak tentang dirinya dan kehidupannya. Meskipun mendengarnya, tapi satupun Raka tidak mengingat apa yang di bicarakan oleh Ririn.
Akhirnya hubungan antara dua orang remaja itu berakhir begitu saja dan seiring berjalannya waktu hubungan itu hanya menjadi sebuah kenangan. Seseorang yang hanya sebentar singgah di hati, kemudian pergi.
***
Raka semakin memperkuat pelukannya di tubuh Ririn. Memikirkan takdir yang dijalaninya bersama Ririn. Mengapa takdir memisahkan mereka setelah dia mulai mencintai Ririn, dan mempertemukan kembali dengannya, tapi setelah Ririn digunakan oleh musuh Raka sebagai alat untuk menghancurkannya.
Dilema antara mempertahankan cinta dan menghancurkan musuh. Raka menarik nafas panjang memikirkannya.
"Mengapa dulu kau mencintaiku dan ingin menikah dengan ku ?" Tanya Raka masih mengenang masa lalu.
Pertanyaan Raka membuat Ririn malu. Benarkah itu dirinya ? Sungguh sangat memalukan. Memang benar dulu Ririn lah yang pertama menyatakan cinta pada Raka dan ingin menikah dengan pria itu. Meskipun benar, tapi Ririn sangat malu untuk mengakuinya.
"Sudah aku katakan, itu hanya candaan anak remaja." Ririn berkilah.
__ADS_1
"Benarkah ? Jika itu hanya sebuah candaan, mengapa kau berkali kali mengatakannya ?"
Ririn terdiam, tak bisa menjawab sanggahan dari Raka.
"Sekarang kau sudah menikah dengan ku. Apakah kau bahagia setelah menjadi istri ku ?" Tanya Raka lagi.
Ha ha ha. Bahagia apanya ? Aku saja masih takut kau akan menyeret ku ke penjara jika aku berani membangkang mu.
"Kau mengancam ku agar menikah dengan mu." Ucap Ririn.
"Kau takut dengan ancaman itu ? Itu artinya kau memang bersalah." Terang Raka.
Deg
Riak wajah Ririn berubah mendengar perkataan Raka. Dia memang bersalah, sebab itulah dia memilih menerima menikah dengan Raka dari pada harus di penjara.
"Siapa yang menyuruh mu melakukan itu pada perusahaan ku ?"
Tubuh Ririn membeku, lidahnya kelu tidak dapat berkata-kata. Bukannya dia tidak mau mengatakan kepada Raka siapa musuh Raka sebenarnya, Raka bahkan sangat mengenal orang itu, tapi mereka selalu mengancam akan membunuh kedua orang tuanya bila Ririn sampai berani buka suara.
Tentunya Ririn akan melindungi orang tuanya, tapi di lain sisi dia juga ingin membantu Raka melawan musuhnya.
.
.
.
.
Bersambung. . .
__ADS_1