Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Alexander Oligon


__ADS_3

Keesokan harinya Ririn duduk bersantai di taman belakang sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Ternyata menjadi orang kaya itu tidak sesenang yang ia bayangkan. Banyak yang harus di pikirkan. Kini untuk masalah perusahaan, ia tidak perlu repot-repot lagi mengurusinya. Sekali pun ia ingin mengurus perusahaan milik ayah kandungnya itu, ia pasti tidak akan sanggup. Ririn bukanlah seorang pebisnis handal yang mampu membangkitkan kembali sebuah perusahaan raksasa yang sudah di ambang ke hancuran.


Andai saja ia memiliki hubungan yang baik dengan Raka. Ah, tapi tidak mungkin Raka akan menolongnya. Karena perusahaan itu Raka lah yang menghancurkan. Ririn tersenyum masam mengingat hal itu.


"Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda."


Suara seorang pelayan membuyarkan lamunan Ririn.


Siapa ? Apa dia datang lagi ?


Ririn sudah berpesan kepada para pelayan, jika Raka datang mencarinya katakan saja ia tidak ada. Tidak perlu melapor padanya. Tapi kali ini sepertinya bukan Raka. Akhirnya Ririn masuk ke dalam untuk melihat siapa yang datang.


Ririn masih mengamati sosok pria tinggi tegap yang sedang berdiri membelakanginya. Pria itu menatap figura Emily yang terpampang di dinding.


"Selamat siang, nona." sapa Deny yang baru datang entah dari mana, mengejutkan Ririn yang sudah mau membuka mulutnya.


Mendengar Deny menyapa nonanya, pria itu berbalik badan.

__ADS_1


"Ini tuan Alexander Oligon. CEO Oligon Company yang juga merupakan keponakan papa Anda." Deny memperkenalkan kepada Ririn pria yang ada didepannya.


"Selamat, datang tuan." sapa Ririn hormat.


"Tidak usah terlalu formal. Panggil saja Alex." pria itu mengulurkan tangannya yang kemudian di sambut oleh Ririn, sebagai tanda perkenalan.


"Aku baru saja mengetahui jika paman memiliki seorang lagi putri yang cantik seperti anda." lanjutnya lagi.


"Nama ku Ririn. Sepertinya kita sama. Sama-sama baru mengetahuinya." ucap Ririn dengan nada bercanda untuk menutupi kecanggungan nya.


"Jadi tuan .."


"Iya. Alek." Ririn mengangguk, membetulkan sapaannya.


"Jadi, Alex yang telah membeli perusahaan milik tuan, ah maksud ku milik papa ?" tanya Ririn.


"Iya. Aku mendengar krisis yang melanda perusahaan milik paman sejak ia sakit. Tapi dia tidak pernah bercerita apapun tentang masalahnya waktu dia di sana. Aku tidak tau jika bisa separah ini." jawab pria yang berparas tampan khas bule tersebut.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan perusahaan ini." ucap Ririn.


"Seharusnya aku yang minta maaf. Jika aku tau lebih awal, aku pasti akan membantu mu. Maat juga karena aku tidak datang di hari terakhirnya." balas Alex dengan nada menyesal.


"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membeli perusahaan ini. Setidaknya papa akan lebih rela karena perusahaannya jatuh ke tangan keponakannya." Ririn tersenyum tulus. Setidaknya ia tidak terlalu bersalah kepada Tuan Bagaskara karena perusahaan miliknya masih di urus oleh keluarganya.


"Tapi bisakah kau tetap menjadi direkturnya ?" tanya Alex.


"Aku ?" Ririn menunjuk dirinya sendiri. Kemudian Alex mengangguk, meyakinkan Ririn apa yang di dengarnya itu tidak salah.


"Tidak, tidak. Aku tidak bisa. Aku tidak mengerti apa-apa tentang perusahaan." tolak Ririn.


"Deny akan membantu mu." Alex mengalihkan pandangannya menatap Deny yang sedang berdiri di belakang Ririn.


"Tapi aku .."


"Maaf, bukannya aku ingin memaksa mu. Hanya saja untuk saat ini aku masih sibuk dan harus bolak-balik ke Belanda. Aku harap kau bisa membantu ku." Alex memohon ke pada Ririn.

__ADS_1


Ririn menghela napas sebelum akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Alex.


"Terima kasih." ucap pria itu sambil tersenyum.


__ADS_2