
Sekitar lima puluh meter dari pelabuhan tempat kapal perahu di tambatkan terlihat banyak stand dan gerobak yang berjejer di kiri kanan jalan. Aneka macam penjual menjajakan dagangannya, mulai dari pakaian, tas, sepatu, mainan, aksesoris dan tidak ketinggalan juga berbagai jenis makanan.
Wajah Ririn berbinar ketika berjalan memasuki area pasar malam. Sudah sekian lama dia tidak pergi ketempat-tempat seperti ini. Sejak menikah dengan Raka Ririn seperti kehilangan kebebasan. Karena itu saat ini Ririn merasa sangat bahagia sehingga melupakan rasa kesalnya kepada laki-laki kaku yang berjalan di depannya dan Ririn juga melupakan jika sejak tadi tangannya masih digenggam oleh laki-laki itu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan dengan romantis.
Ririn berhenti saat matanya tak sengaja melihat stand yang menjual berbagai macam camilan dan manisan. Laki-laki itu turut berhenti melangkah dan dengan perlahan melepaskan genggaman tangannya. Laki-laki itu tersenyum samar melihat wajah Ririn yang terlihat berbinar menatap kearah makanan-makanan yang berjejer dan tanpa sadar Ririn melangkah menuju stand tersebut.
"Silahkan, mbak. Mau yang mana ?" Suara seorang wanita menyadarkannya. Ririn meraba-raba kantong saku bajunya. Ya Tuhan, aku kan tidak punya uang. Kemudian Ririn tersenyum kepada ibu penjual itu "Ah, tidak Bu. Terimakasih." Ririn hanya mampu menelan ludahnya saat ini karena tidak bisa membeli apa yang di inginkannya.
Ririn membalikkan badannya ingin meninggalkan tempat itu tiba-tiba terkejut saat seseorang menyodorkan dua lembar uang berwarna merah di depannya. Ternyata si laki-laki kaku dengan wajah tampan tanpa ekspresi yang memberikannya. Melihat wajahnya Ririn kembali merasakan kesal di hatinya dan ingin segera meninggalkannya, tapi saat dia teringat makanan berjejer tadi dengan segera ia meraih uang dari tangan pria yang menyebalkan itu. Sebuah senyuman terbit di wajah tampan seorang pria karena tingkah wanita yang selama satu bulan ini setiap hari dilihatnya.
__ADS_1
Asik dengan berbagai macam makanan didepannya, Ririn tidak menyadari jika dirinya sejak tadi sedang diperhatikan oleh seorang yang sedang duduk didepannya. Sesekali Ririn melihat kearah laki-laki itu "Aku sudah menawarkan ini kepada mu tapi, kau sejak tadi hanya diam saja. Jadi, jangan salahkan aku jika makanan ini habis ya. Dan satu lagi jangan meminta kembali uang yang tadi karena aku tidak mengatakan ingin meminjam uang mu. Kau sendiri yang memberikannya pada ku. Lagi pula aku tidak punya uang sekarang."
Setelah selesai dengan makanannya Ririn kembali berkeliling. "Lepaskan tanganku. Aku tidak akan kabur." Ririn menarik kasar tangannya "Lagi pula aku tidak akan bisa lari dari sini. Semuanya dikelilingi air laut." lanjutnya.
Selama dua jam mereka mengelilingi lokasi pasar malam yang luasnya hanya beberapa ratus meter. Tapi tak ada satu barang pun yang mereka beli selain makanan dan camilan yang diinginkan oleh Ririn.
"Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kau mengajakku ke sana ? Oh ya, siapa nama mu ? Besok-besok kita pergi lagi ke sana, ya. Ah, aku akan betah berlama-lama tinggal di sini jika kau sering mengajak ku jalan-jalan seperti ini."
Sepanjang perjalanan pulang Ririn terus saja mengoceh seperti berbicara sendiri, sedangkan laki-laki yang bersamanya hanya diam saja, sedikitpun tidak merespon apa yang dikatakan oleh Ririn. Tapi diam-diam laki-laki itu sesekali tersenyum samar yang tidak terlihat oleh siapa pun. Tidak bisa di pungkiri jika dalam hatinya merasakan lebih berwarna sejak dekat dengan Ririn karena sifat ramah Ririn yang terlalu banyak berbicara.
__ADS_1
.
.
.
.
Bersambung. . .
__ADS_1