
Evan segera memerintahkan anak buahnya untuk masuk kedalam toilet. Tapi sayangnya Ririn sudah tidak ada di dalam.
Keempat pengawal itu membuka satu persatu pintu untuk memeriksanya. Nihil. Ririn juga tidak ada di dalam.
"Target bergerak sebelah utara !" perintah Evan kepada anak buahnya. Mereka segera menuju sisi utara, namun tidak terdapat pintu keluar di sana, hanya ada tiga buah westafel dan sebuah cermin besar. Mereka menduga itu adalah pintu keluarnya.
Empat orang itu kemudian segera memeriksanya dan ternyata benar dinding itu membuka sebuah celah ketika ujung sisinya didorong kedalam.
Mereka segera berlari menyusuri lorong tersebut. Arya dan beberapa orang lainnya segera menyusul. Dua orang pengawal lainnya menuju ketempat Raka dan David. Sedangkan Evan tetap tinggal untuk mengawasi mereka dari layar monitor.
"Apa yang terjadi kepada istri ku ?! Bagaimana mereka bisa menculiknya, hah !" Raka berteriak marah kepada David. David hanya diam saja ketika Raka menjadikannya sebagai sasaran kemarahan. Raka hampir saja melayangkan kepalan buku tangannya ke wajah David, beruntung dua orang pengawal yang baru tiba itu segera menahan Raka.
"Mari tuan." ucap salah satu pengawal kepada Raka. Mereka membawa Raka dan David untuk menyusul tim Arya.
Sementara itu, dua orang laki-laki yang membawa Ririn sudah sampai di sebuah kamar yang terletak di lantai dua puluh.
Mereka meletakkan tubuh Ririn di atas tempat tidur. Kemudian salah seorang laki-laki mendekatkan sesuatu di hidung Ririn untuk menyadarkannya dari pingsan.
Ririn mengerjapkan matanya melihat langit langit yang terasa asing. Seketika dia baru teringat seseorang membekap mulutnya saat dia di dalam toilet. Ririn segera bangun dari tempat tidur.
"Mau apa kalian ?! Mengapa menangkap ku ?" Ririn panik dan berteriak keras. Perasaan takut muncul dalam hatinya melihat beberapa orang laki-laki yang tidak di kenalnya.
"Ha ha ha. Tenanglah nona. Seseorang ingin berbicara dengan mu."
Ririn melihat kearah orang yang tertawa tadi. "Tuan." Ririn terkejut melihat itu adalah laki laki yang menyambut mereka tadi, pemilik pesta ini.
"Nyalakan !" perintah Simon. Seorang laki-laki lalu menekan sebuah remote untuk menyalakan layar televisi dan Ririn mengalihkan pandangan kearah layar tersebut.
Ririn terkejut ketika layar televisi menampilkan seseorang yang Ririn kenal.
__ADS_1
Tuan Bagaskara !
"Selamat malam, Nyonya Wiratama. Waktu kita tidak banyak, karena sebentar lagi suami mu yang hebat itu pasti akan menemukan mu. Dengarkan ini baik-baik." Tuan Bagaskara mulai berbicara melalui layar televisi.
Sementara itu Arya dan timnya sudah sampai di tempat Ririn di bawa. Terdapat belasan orang laki-laki yang berperawakan besar berjaga di depan pintu. Mereka segera menyerang ketika melihat kedatangan Arya dan anak buahnya. Baku hantam pun terjadi antara tim Arya dan tim Simon.
Raka, David dan dua orang pengawal sedang berada di dalam sebuah lift untuk menuju ke lantai dua puluh. Wajah Raka terlihat sangat cemas, takut membayangkan jika terjadi sesuatu pada Ririn.
Ketika pintu lift terbuka, mereka langsung menyaksikan perkelahian yang tengah berlangsung dengan sengit, karena kedua belah pihak sama-sama tangguh.
Raka tidak perduli akan hal itu, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah ia harus segera menemukan istrinya. Raka berjalan melewati orang-orang yang saling menyerang.
Sedangkan di dalam kamar, Simon menyeringai memandang Ririn, setelah menyelesaikan tugasnya yaitu menyampaikan pesan dari temannya, Bagaskara. Sudah dari tadi dia menahan hasratnya untuk menyentuh wanita itu.
Simon berjalan mendekat, "Ternyata bocah itu lebih cepat dari yang aku pikirkan. Suami mu pasti sudah menyiapkannya sejak awal." Simon mendengar suara perkelahian di luar.
"Tapi jangan khawatir, orang-orang ku akan menahannya sampai kita selesai bermain-main. Ha ha ha." Simon semakin mendekat, membuat Ririn ketakutan dan memundurkan langkahnya.
"Tenanglah, nona. Aku hanya ingin sedikit merasakan manisnya bibir milik Raka Wiratama. Ha ha ha." tangan Simon sudah terulur untuk menyentuh Ririn.
Brakkk
Pintu kamar terbuka karena di dobrak dari luar. Dua orang pengawal Raka langsung diserang oleh anak buah Simon yang berjaga di dalam kamar.
Darah Raka mendidih melihat Simon yang berusaha ingin menyentuh istrinya yang sedang ketakutan. Dengan penuh kemarahan Raka berlari kearah Simon.
Bugh
Raka langsung meninju wajah Simon dengan sekuat tenaga, sehingga laki laki itu terpental jatuh ke belakang.
__ADS_1
Simon mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibir. "S*al !".
Simon segera berdiri dan membalasnya. Dia berdiri dan melayangkan pukulan ke arah Raka, tapi Raka berhasil menghindar. Raka kembali menyerangnya dengan bertubi tubi sampai Simon terjatuh ke lantai. Kali ini Raka tak akan membiarkan Simon bangkit lagi. Raka ingin membunuh Simon dengan tangannya sendiri.
"Sudah ! Hentikan ! Sayang hentikan ! Hiks hiks hiks." Ririn terduduk dilantai. Tubuhnya bergetar karena ketakutan melihat Raka seperti sedang kerasukan. Raka terus menghajar Simon meskipun kini Simon sudah terkapar.
Raka menghentikan pukulannya karena mendengar suara Ririn menangis. Raka segera menuju kearah Ririn dan memeluk tubuhnya. Raka merasa lega karena Ririn tidak terluka sedikitpun.
"Tenanglah, aku sudah disini." Ucap Raka menenangkan Ririn.
Ririn merasa lebih tenang berada dalam pelukan Raka. Pelukan itu membuatnya merasa aman dan terlindungi.
"Maaf, maaf." ucap Raka lirih, mencium kepala Ririn. Raka merasa menyesal karena telah melibatkan Ririn dalam rencananya.
Raka mengangkat tubuh Ririn, membawanya keluar dari kamar ini. Raka berjalan melewati tubuh Simon yang sudah terkapar tak sadarkan diri.
Arya pergi bersama dengan Raka, membiarkan David dan Evan untuk membereskan kekacauan di sini.
Raka memerintahkan Arya untuk mengantarkannya pulang kerumah dan memanggilkan dokter untuk memeriksa Ririn. Raka terus memeluk erat Ririn sepanjang untuk menenangkannya.
Ririn kini sudah berhenti menangis dan merasa lebih tenang didalam pelukan Raka. Tapi Ririn hanya diam saja, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Raka juga tidak bertanya, dia mau memberikan waktu untuk Ririn menenangkan diri.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung . . .