Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Ketakutan Jadi Kenyataan


__ADS_3

Di tengah hujan yang semakin deras, banyak mobil bersusun di jalanan. Mobil-mobil bergerak perlahan. Garis polisi membentang sepanjang jalur sebelah kanan jalan. Rupanya baru saja terjadi kecelakaan di depan.


Seorang polisi mengarahkan beberapa mobil untuk berpindah jalaur ke sebelahnya. Perasaan supir yang membawa Ririn mulai ketar ketir saat melihat dua buah mobil pengawal yang berada di depan sudah di pindahkan. Kemudian supir itu melihat ke belakang. Satu mobil pengawal yang lain masih berada di belakangnya dengan jarak sebuah mobil lainnya.


Beberapa saat kemudian mobilnya mulai diarahkan untuk berjalan bersama beberapa buah mobil lainnya. Namun si supir mulai merasa cemas ketika tidak melihat mobil pengawal yang lain di depan maupun di belakangnya. Supir itu mengambil ponselnya untuk menghubungi meminta bantuan tiba-tiba dua buah mobil didepannya berhenti dan beberapa orang laki-laki keluar menuju ke mobilnya dan memaksa membuka pintunya namun si supir tetap fokus pada ponselnya mencari bantuan. Sialnya mengapa ponselnya kini tidak ada jaringan dan dia mulai khawatir.


"Ada apa pak ?" tanya Ririn yang merasa ketakutan melihat mobil mereka dikepung.


"Tenang, nona. Sebentar lagi bantuan akan datang." supir berusaha menenangkan Ririn padahal di dalam hatinya juga merasa ketakutan karena tidak bisa menghubungi untuk mencari bantuan.


Sebisa mungkin dia harus mengulur waktu menunggu bantuan datang. Dia yakin sebentar lagi pengawal lain akan tiba karena memang posisi mereka hanya beberapa ratus meter dari tempat mereka terpisah.


Dengan gerakan secepat kilat kaca mobil di samping kemudi dipecahkan. Si supir langsung mengarahkan pistolnya dan terjadilah aksi tembak menembak. Ririn terlihat shock melihat kejadian didepannya. Sesaat kemudian Ririn langsung tak sadarkan diri.


***


"Si**an. Jika sampai istri ku tidak bisa diselamatkan, aku akan mengirim mu ke neraka." Raka mengibaskan tangannya yang terasa memar setelah melampiaskan amarahnya kepada Arya. Raka pergi meninggalkan Arya yang kini sudah babak belur, melangkahi barang-barang yang berserakan dilantai ruang kerjanya.

__ADS_1


Arya memegang rahangnya yang terasa bergeser dari tempatnya. Raka tidak pernah memukulnya separah ini sebelumya, meskipun Arya berbuat salah bahkan sampai merugikan perusahaan. Tapi kali ini Raka benar-benar menghajarnya bahkan sampai ingin menghabisi nyawanya.


Hari mulai beranjak tengah malam, Arya kini sudah berada di sebuah rumah sakit. Beberapa orang pengawal yang berdiri di depan sebuah pintu menundukkan kepala mereka ketika Arya datang. "Apa sudah selesai ?" Tanya Arya dingin.


"Belum, tuan. Kata dokter masih satu jam lagi." jawab salah seorang dari mereka. Laki-laki itu kembali menunjukkan wajah. Tak berani untuk melihat atasan mereka, Arya dan tanpa berkata apa-apa Arya langsung pergi dari sana.


Arya berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Kemudian dia memasuki sebuah ruangan dokter.


"Maaf, tuan. Praktek dokter sudah selesai. Silahkan datang besok pagi." Ucap seorang perawat wanita ketika melihat seseorang ingin masuk keruang kerja dokter.


Arya kemudian membalikkan badannya ingin melihat siapa yang menegurnya.


"Panggilkan dokter sekarang !" perintah Arya.


"Ah, iya. Tunggu sebentar." perawat itu pergi untuk memanggil dokter yang berjaga malam ini.


Beberapa saat kemudian perawat itu kembali lagi.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Dokter sedang menangani pasien yang sedang kritis."


"Apa rumah sakit sudah kekurangan uang untuk menggaji dokter yang lebih banyak." ucap Arya marah. Arya meringis ketika rahangnya kembali terasa semakin nyeri.


"Tuan tolong jangan berbuat keributan di sini." Bukannya takut dengan kemarahan Arya, perawat itu malah balik marah kepadanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2