Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Aku Akan Menggagalkan


__ADS_3

Sore harinya Arya menemui Raka lagi di ruangan CEO. Melihat tampang Arya sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Raka sudah sangat mengenal sikap asistennya itu.


"Kau gagal mendapatkannya ?" tebak Raka.


Arya mengangguk "Maaf, tuan. Saya terlambat beberapa saat dari Oligon Company."


"Oligon Company ?" sebuah perusahaan yang terdengar asing di telinga Raka.


"Oligon Company adalah sebuah perusahaan asal Belanda." Raka mengangguk mendengar penjelasan dari Arya.


Sebenarnya Raka peduli dengan nasib R&B Corp. Mau bankrut atau hancur sekali pun. Yang ia peduli hanya tentang Istrinya.


Malam harinya Raka datang ke kediaman Tuan Bagaskara untuk menemui Ririn. Setelah melewati perdebatan dengan pengawal yang bertugas akhirnya ia di izinkan masuk. Meskipun begitu setelah dua jam menunggu, Ririn tetap tidak mau keluar untuk menemuinya. Namun Raka tetap tidak putus asa, ia masih saja setia menunggu istri tercinta.


Ririn terbangun dari tidurnya. Waktu sekarang sudah hampir melewati tengah malam.


Apakah dia masih di bawah ?


Rasanya tidak mungkin Raka masih menunggunya. Mengingat sikap arogan pria itu. Ririn mengambil jubah tidurnya, memakainya untuk menutupi gaun tidur bertali spaghetti sebelum keluar kamar. Sebagian ruangan sudah gelap dan hanya diterangi lampu temaram sepanjang lorong dan jalan. Ririn menuruni anak tangga untuk memastikan jika Raka sudah pulang.


Suasana begitu sunyi menandakan jika mungkin semua orang saat ini sudah tidur. Ririn mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruang tengah di bawah cahaya redup.

__ADS_1


Deg


Mata indahnya dapat menangkap siluet tubuh yang sedang berbaring di atas sofa. Lama Ririn mengamati sosok itu dari tempatnya berdiri. Meyakini jika orang itu sedang tidur, perlahan ia mendekat, ingin melihat lebih jelas siapa itu.


Raka


Rasanya Ririn tidak percaya jika Raka masih di sana, meskipun dalam hati kecilnya berharap Raka melakukan itu karena mencintainya. Tapi segera ia menepis pikiran itu. Ririn tidak mau berharap terlalu banyak. Cukuplah rasa kecewa yang ia dapat karena telah terbuai dengan perlakuan manis dan lembut dari pria itu.


Ririn menatap lamat-lamat wajah pria yang di rindukannya. Pria yang ia cintai sekaligus pria yang membuatnya kecewa. Ririn mengambil selimut di sandaran sofa untuk menutupi tubuh Raka agar tidak kedinginan. Setelah itu Ririn ingin segera pergi. Tak ingin semakin larut dengan perasaannya ketika melihat Raka.


Belum sempat Ririn melangkah, tangannya tiba-tiba saja di tarik dan membuat tubuhnya jatuh di atas tubuh Raka yang masih berbaring di sofa.


Suara serak Raka berbisik di depan wajahnya. Raka mengunci tubuh Ririn dengan melingkarkan kedua tangannya. Memeluk erat tubuh wanitanya, tidak ingin Ririn pergi.


"Lepaskan."ucap Ririn pelan sambil memberontak ingin melepaskan diri.


"Siittt, jangan berisik. Apa kau mau membangunkan semua orang dan melihat kita begini ?" ucapan Raka sukses membuat Ririn diam dan berhenti bergerak.


Di bawah cahaya temaram, Raka tersenyum menyeringai. "Biarkan begini sebentar."


Raka ingin menikmati hangatnya memeluk istrinya di malam hari yang sudah lama tidak ia rasakan. Lagi-lagi Ririn tidak berdaya dengan sentuhan yang Raka berikan. Karena itulah ia berusaha tidak ingin bertemu Raka sebelum mereka resmi bercerai.

__ADS_1


Raka mengangkat kepalanya, mendekatkan wajah untuk mencium Ririn, tapi Ririn juga mengangkat kepalanya, menjauhkan wajahnya agar Raka tidak bisa menggapainya. Akhirnya Raka hanya bisa menjangkau leher jenjang milik istrinya.


Sial ! Dia langsung terbangun.


Raka mengumpat dalam hati ketika sesuatu miliknya di bawah sana bereaksi dan mengeras hanya karena mencium aroma wangi tubuh Ririn. Ditambah lagi tubuh Ririn yang hanya terbalut kain satin yang tipis menempel sempurna di tubuhnya. Raka dapat merasakan tonjolan-tonjolan daging lembut di balik kain tipis itu.


Raka terus mencium area yang bisa di jangkau nya. Memuaskan rasa dahaga yang membuncah yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. Begitu juga dengan Ririn yang ikut terbuai menikmati sentuhan Raka.


Ririn hampir saja mengeluarkan suara lenguhan karena sensasi yang di berikan oleh pria yang masih menjadi suaminya. Apalagi ia sudah lama tidak merasakannya. Ririn mengatup kedua bibirnya agar suara itu tidak keluar. Ia mendapatkan kembali kewarasannya. Ririn segera bangun dan berhasil melepaskan diri ketika Raka sedang lengah. Ia mundur beberapa langkah. Menjauh dari jangkauan Raka.


"Pulanglah. Ini sudah terlalu larut untuk bertamu. Atau aku akan panggilkan satpam untuk mengusir mu." ucap Ririn tegas tapi tidak berteriak.


Raka tersenyum, bangun dan mengambil jas nya di atas meja.


"Baiklah, tidak perlu mengusirku. Aku akan pulang sekarang. Terima kasih."


Raka berjalan menuju pintu keluar. Ia hampir saja lupa dengan kedatangannya ke sini. Ririn bersiaga ketika melihat Raka berbalik ke arahnya.


"Oh, aku ke sini hanya ingin memberitahukan jika kita tidak akan pernah bercerai. Sebesar apapun usaha mu, aku pasti akan menggagalkan nya."


Ucap Raka kemudian pergi dengan senyum di wajahnya. Rasanya tak sia-sia ia menunggu lama malam ini. Meskipun hanya sebentar tapi cukup untuk mengobati kerinduan pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2