Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Mimpi Liar


__ADS_3

Ririn melanjutkan tidurnya agar dia tetap bisa merasakan kehadiran Raka meskipun hanya dalam mimpi. Terdengar suara bisikan Raka di telinganya "Apa kau merindukanku ?"


Ririn mengangguk "Iya, aku sangat rindu pada mu. Kapan kau akan pulang ?"


"Baiklah, aku akan pulang sekarang karena istri ku merindukanku."


"Eh, apa bisa begini ?" Ririn yang terkejut tiba tiba melihat Raka kini sudah ada di depannya tepat sesaat setelah Raka mengatakan akan pulang.


Raka memeluk Ririn dan ingin mencium bibirnya tapi Ririn menolak "Jangan di sini. Nanti ada pelayan yang lihat." Ririn mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman tempat mereka berada.Dalam mimpinya Ririn sedang berada di taman belakang melihat keindahan bunga yang bermekaran.


"Tidak ada orang lain di sini." ucap Raka lalu kembali mencium bibir Ririn kemudian ciumannya turun ke leher. Tangan Raka bergerak mulai membuka kancing baju Ririn satu persatu. Meskipun merasa malu tapi Ririn tak kuasa menolak keinginan Raka. Tubuhnya merespon dengan baik sentuhan sentuhan yang diberikan oleh Raka sehingga Ririn mengeluarkan suara lenguhan yang terdengar seksi di telinga Raka.


"Aku merindukanmu, sayang. Aku merindukan ini." ucap Raka dengan napas terengah-engah di sela sela permainannya.


"Aku juga merindukannya dan selalu menginginkanmu menyentuhku." dengan malu-malu Ririn mengatakan keinginan terdalam dari dalam hatinya. Tangan Ririn meremas rambut di kepala Raka dan membawanya mendekap di dada polosnya.


Raka begitu bersemangat ketika mendengar kata kata Ririn. Raka semakin mempercepat gerakan tubuhnya melajukan permainannya sampai terdengar lenguhan panjang dari keduanya.


Ririn merasakan jika mimpi liarnya ini bersama Raka terasa sangat nyata. Kulitnya juga bahkan terasa dingin seperti tidak memakai pakaian. Ririn mencoba untuk membuka mata, tapi rasanya begitu berat. Ririn menarik selimut dan meringsek kan tubuhnya untuk mencari kehangatan.

__ADS_1


***


Cahaya terang mulai terlihat dari celah celah tirai jendela. Suara kicau burung juga terdengar di telinga. Ririn membuka matanya. Rasanya Ririn malas untuk bangun dari tidurnya. Wajahnya kini memerah ketika mengingat mimpinya tadi malam.


Sekelebat adegan mimpi liarnya seakan berputar dalam bayangannya. Ririn menggelengkan kepalanya berulang sambil memejamkan mata. Menarik selimut menutupi wajahnya. Ririn merasa malu sendiri dengan mimpi itu. Tanpa dia sadari seseorang yang sedang berada di sampingnya memperhatikan apa yang dia lakukan.


Raka tersenyum melihat tingkah malu-malu Ririn. "Sudah bangun ?" Ririn segera membuka selimut yang menutupi wajahnya ketika mendengar suara yang tidak asing.


Raka ! Kapan dia kembali ? Apa artinya tadi malam bukanlah sebuah mimpi ??!! Aaaahhhh !!!!


Ririn menjerit dalam hatinya. Terkejut mendapati Raka kini sedang berbaring di sebelahnya. Pelan-pelan dia mengangkat selimut untuk memeriksa tubuhnya dan benar saja sekarang tubuh polosnya hanya ditutupi oleh selimut. Wajah Ririn menjadi merah karena malu dan Ririn kembali menutupi wajahnya dengan selimut.


Ririn mengingat-ingat apa saja yang telah dia lakukan dan katakan tadi malam kepada Raka. Ririn berpikir itu hanyalah sebuah mimpi jadi tidak akan ada yang tau jika dia mengatakan apapun di dalam mimpinya.


"Mengapa malu ?" tanya Raka, tangannya menurunkan selimut agar ia bisa melihat wajah malu-malu istrinya.


"Bukannya kau sangat agresif tadi malam." Raka terus menggoda istrinya. Ririn menggeleng di bawah selimut. Tak sanggup mendengar kata kata Raka tentang dirinya tadi malam.


Dalam keadaan sadar saat melakukan hubungan dengan Raka, Ririn merasa sangat malu untuk menunjukkan keinginannya. Tidak mungkin dia akan bersikap agresif dan menggoda Raka.

__ADS_1


"Tapi aku suka." lanjut Raka lagi. Raka semakin kuat menurunkan selimut sehingga kini ia dapat melihat wajah merah Ririn.


Ririn menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh dia belum siap untuk melihat wajah suaminya itu. Raka semakin gemas melihat tingkah Ririn. Raka sekarang berpindah ke atas tubuh Ririn bertumpu pada kedua lututnya. Kedua tangannya memegang tangan Ririn.


"Buka dan lihat aku atau kau ingin kita mengulangi mimpi liar mu tadi malam ? Aku akan pastikan pagi ini akan menjadi pagi yang panas untuk kita." Raka memberikan ancaman.


Seperti biasanya Ririn akan patuh jika Raka sudah mengeluarkan ancamannya. Akhirnya Ririn mengangkat tangannya dan memperlihatkan wajahnya kepada Raka. Senyum puas di wajah Raka kini berubah menjadi seringai licik. Raka benar-benar membuat pagi yang panas untuk mereka. Raka tidak akan puas jika hanya melakukannya satu kali, apalagi setelah beberapa hari Raka tidak bertemu dengan Ririn.


.


.


.


.


.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2