Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
End


__ADS_3

Ririn mengangguk perlahan "Baiklah. Aku janji tidak..." Ririn tidak bisa melanjutkan perkataannya saat tiba-tiba Raka membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang semakin lama makin menuntut ingin meminta lebih.


"Sudah. Hentikan." Ririn mendorong kepala Raka saat merasakan jika suaminya ini sudah hilang kendali.


"Kenapa sayang ?" Raka mengangkat wajahnya dari ceruk leher sang istri.


"Kau baru saja pulang dari rumah sakit. Harus banyak istirahat." tegas Ririn.


"Iya, sayang. Tapi istirahat saja tidak cukup. Aku juga harus mendapatkan banyak vitamin dan olah raga." jawab Raka.


"Vitamin ? olah raga ?" Ririn mengerenyit mendengar ucapan Raka yang tidak sesuai dengan perbuatannya.


"Iya, vitamin. Minum susu contohnya." ucap Raka dengan senyum nakal sambil tangannya memainkan dua benda kenyal yang berada di balik baju istrinya.


"Dan olahraga." Raka mendorong Ririn sehingga terbaring di ranjang. Kemudian ia segera menindih tubuh itu.


"Tapi .." Ririn ingin protes.


"Tidak ada penolakan." Raka langsung merobek pakaian yang di kenakan oleh Ririn begitu saja. Sehingga Ririn tidak bisa lagi berkutik. Terlebih lagi dia menyadari jika sudah sangat lama ia tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri.

__ADS_1


Setelah mendapatkan dua kali pelepasan, Ririn meminta Raka untuk menyudahi kegiatan mereka siang ini. Sebagai gantinya Ririn harus tetap menemaninya selama ia tidur. Hingga sore harinya mereka baru keluar dari kamar dan mendapati Arkan sedang bermain bersama Mbak Dewi.


"Sayang coba lihat siapa ini ?" tanya Ririn sambil menggendong Arkan.


Anak laki-laki yang baru berusia dua tahun itu tersenyum girang memandang ke arah ayahnya sambil mengoceh.


"Arkan sayang, sini sama ayah." Raka mengulurkan kedua tangan untuk mengambil putra kecilnya.


Ini kali pertama interaksi Raka bersama darah dagingnya. Begitu juga dengan Arkan yang seakan merasakan hubungan darah dengan ayahnya. Arkan langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Raka dengan senang hati. Raka mendekap tubuh kecil putranya dan penuh haru. Jika selama ini Raka hanya dapat melihat dari kejauhan, tapi hari ini ia bisa memeluk dan mencium buah hatinya bersama satu-satunya wanita yang ia cintai.


Satu minggu telah berlalu. Raka sudah memboyong anak dan istrinya kembali ke rumahnya. Raka juga membawa mbak Dewi untuk mengasuh Arkan.


Ririn mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina matanya. Perlahan ia melihat Raka yang sudah berpakaian rapi dengan setelan baju jasnya.


"Astaga. Kenapa kau tidak membangunkan ku." Ririn segera bangun dengan menahan selimut di dadanya.


"Aku tidak ingin mengganggu tidur mu. Tidurlah lagi jika kau masih mengantuk." ucap Raka sambil mengambil dasi dalam lemari.


"Itu semua karena ulah mu juga." balas Ririn kesal mengingat Raka yang sudah menggempurnya semalaman. "Kemarilah." perintah Ririn menyuruh suaminya mendekat.

__ADS_1


Raka duduk di hadapan Ririn kemudian menyerahkan dasi kepada istrinya. Semalam Ririn sudah mengatakan jika ia akan membantu suaminya itu untuk bersiap seperti waktu dulu.


"Kau ingin menggoda ku ? aku benar-benar tidak keberatan jika tidak masuk kantor hari ini."


Ririn segera menaikkan selimut yang sempat melorot sehingga menampakkan dada dengan bekas percintaan mereka semalam.


"Ish, dasar mesum." umpat Ririn sambil memasang dasi di leher Raka dengan susah payah. Karena lengannya harus menahan selimut juga.


"Sudah ! Jangan turun dulu. Tunggu aku. Kita turun sama-sama." ucap Ririn sebelum ia bercicit lari ke kamar mandi dengan tubuh polos karena Raka menahan selimutnya. Raka terkekeh melihat tingkah istrinya.


Akhirnya Ririn kembali seperti saat pertama mereka bertemu. Wanita yang cerewet dan apa adanya. Dengan sikapnya itu mampu untuk menghibur Raka di saat terpuruknya.


Setelah Ririn bersiap, mereka turun untuk sarapan bersama. Arkan sudah ada di sana bersama Mbak Dewi. Usai sarapan Ririn menggendong Arkan untuk mengantarkan Raka ke depan. Arya sudah sejak tadi menunggu tuannya seperti biasa.


"Sayang, aku berangkat dulu. Jika kau bosan di rumah, mintalah supir untuk mengantar mu ke cafe atau ke kantor ku." Ririn mengangguk mendengar perintah Raka.


Raka mencium kening Ririn kemudian mencium pipi gembul Arkan sebelum masuk ke dalam mobil. Kini hidup Raka sudah sangat bahagia dan lengkap dengan kehadiran Arkan. Tidak ada lagi kesedihan maupun mimpi buruk yang selalu menghantui dirinya. Yang ada kini hidupnya penuh dengan senyuman dan canda tawa dari istrinya dan anaknya.


... *TAMAT*...

__ADS_1


__ADS_2