
Ririn membaca berkas laporan yang ada di tangannya. Hanya membacanya tapi ia benar-benar tidak mengerti.
"Deny lakukanlah apa yang terbaik menurut mu. Aku sungguh tidak mengerti tentang perusahaan." Ririn menutup berkas dan meletakkannya di atas meja.
"Membiarkan perusahaan terus seperti ini akan membuat kita bankrut. Bagaimana jika kita menjual sahamnya saja ?" usul Deny.
"Terserah kau saja." Ririn tidak peduli apa yang akan terjadi dengan perusahaan milik tuan Bagaskara.
"Baik nona." Deny segera keluar meninggalkan Ririn di ruang kerja.
"Deny tunggu." panggil Ririn
Deny yang baru saja keluar langsung menghentikan langkahnya mendengar samar namanya di panggil.
Ririn membuka pintu yang baru saja tertutup.
"Tolong antar kan aku ke rumah orang tua ku." pinta Ririn.
Sebelum kembali ke kantor, Deny mengantarkan Ririn ke rumah orang tuanya. Ia memerintahkan beberapa orang pengawal untuk menjaga Ririn selama di sana.
"Ibu" Ririn memeluk erat tubuh wanita yang sudah membesarkan dirinya. Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu.
Ibu tidak dapat berkata-kata sambil menangis, akhirnya bisa kembali mendekap putrinya yang lama hilang tanpa kabar berita.
Ibu masih terisak setelah menceritakan tentang Ririn. Begitu juga dengan Ririn. Ia merasa sedih karena ternyata ia adalah anak yang tidak di inginkan oleh orang tuanya.
__ADS_1
"Rin, bagai mana pun dia adalah ayah kandung kamu nak. Tanpa dia kamu tidak akan lahir ke dunia ini."
Benar yang dikatakan oleh ibunya. Tapi mereka tidak tau betapa rumitnya hubungan ia dengan tuan Bagaskara dan pernikahannya.
"Iyaa, Bu. Terima kasih sudah memberikan nasihat." ucap Ririn sedikit tenang.
"Apa kamu sudah menemui suami mu ?" tanya
ayah. Ririn hanya diam, sepertinya ia enggan membahas tentang Raka saat ini.
"Pergilah menemuinya. Suami mu sangat mengkhawatirkan diri mu. Dia begitu sedih ketika kamu menghilang. Dia sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari mu selama ini."
"Tapi, ayah." belum sempat Ririn menyudahi kalimatnya ibu pula membuka suara.
Ririn hanya mengangguk mendengar perkataan ibunya.
Di perusahaan Wiratama Grup, Raka yang sedang fokus bekerja mengalihkan pandangannya melihat Arya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Apa kau membawa kabar baik atau kabar buruk ?" Raka meletakkan pena yang di tangannya ke atas meja.
"Dua duanya, tuan." jawab Arya sembari berjalan mendekat ke meja kerja Raka.
"R&B Corp akan menjual sahamnya." Arya memberikan sebuah tab ke pada tuannya.
__ADS_1
Raka tersenyum puas sambil menerima tab dari Arya.
Aku tahu ana, kau pasti tidak akan mampu memulihkan perusahaan orang tua itu.
"Kita akan membeli saham itu." perintah Raka.
"Lanjutkan." sambungnya lagi.
Perlahan Arya meletakkan sebuah map di depan Raka.
"Apa itu." tanya Raka sambil melirik map yang masih tertutup tersebut.
"Surat gugatan cerai untuk anda."
Seketika wajah Raka berubah, terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh Arya. Raka meremas map itu tanpa membukanya terlebih dahulu. Raka hanya diam, tidak berkata sepatah katapun. Tapi jelas di wajahnya sedang menahan perasaannya.
Apa maksudmu, Ana. Mengapa kau melakukan ini.
"Tuan, apa anda baik-baik saja ?" tanya Arya. Pertanyaan bodoh menurutnya. Padahal ia tahu tuanya sekarang pasti sedang tidak baik.
Raka mengangguk kecil kemudian dia bertanya kepada Arya "Dimana dia sekarang ?"
"Nona sedang berada di rumah orang tuanya." Arya memang sudah menugaskan anak buahnya untuk selalu mengawasi Ririn dari kejauhan.
Raka menghela napasnya, ia tidak mungkin datang sekarang menemui Ririn di rumah orang tuanya. Apa yang akan dikatakan oleh kedua orang mertuanya jika mengetahui permasalahan mereka suami istri. Raka yakin Ririn tidak akan memberi tahukan tentang permohonan perceraian yang dilakukannya kepada Ayah dan ibunya.
__ADS_1