Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Sikap Manis Raka


__ADS_3

Arya melajukan mobilnya setelah menerima perintah dari Raka untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Dia melirik jam ditangannya, belum terlalu sore bahkan karyawan di perusahaan Wiratama Grup saja belum waktunya untuk pulang.


Beberapa Minggu terakhir ini bos-nya selalu pulang lebih awal. Arya terus mengamati perubahan yang terjadi pada bos-nya yang sudah lama dia layani.


Sebelum menikah tuanya itu adalah seorang penggila kerja. Dia tidak akan meninggalkan kantor sebelum matahari terbenam dan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah tiba di rumah. Sebagai seorang sekretaris dari orang yang gila kerja tentu saja Arya juga jadi ikut-ikutan bekerja ekstra.


Setelah menikah jam pulang kantornya menjadi sama seperti karyawan yang lain. Jika memang sedang banyak kerjaan si bos akan melanjutkan pekerjaannya di rumah dan sesekali dia akan datang untuk membantu. Tapi itu jarang sekali terjadi karena bos-nya melarang dia dan David untuk berkunjung ke rumah ketika malam hari.


Semakin lama kebiasaan bos nya makin banyak berubah. Hebat sekali wanita yang menjadi istrinya, bisa mengubah seorang pria dingin dan keras berubah seratus delapan puluh derajat.


"Apa perusahaan ini termasuk salah satu perusahaan yang dicurigai ?" Raka melihat undangan yang sedang di tangannya.


Pertanyaan Raka membuyarkan pikiran Arya tentang pria dibelakangnya itu.


"Iya, tuan. Perusahaannya pernah menuntut ganti rugi yang sangat besar karena kita mengembalikan barang baku yang mereka kirim karena tidak sesuai dengan permintaan." Terang Arya.


Cih. Raka tak suka mendengarnya.


"Apa dia mengenal istri ku ?" Tanya Raka lagi.


"Sepertinya tidak, tuan. Nona tidak pernah berhubungan dengan tuan Simon maupun dengan perusahaannya." Arya menjelaskan.


Raka hanya diam mendengarkan penjelasan Arya. Dia kembali memikirkan perkataan David. Raka menghembuskan nafas berat ketika dia mengingat harus membawa Ririn ketengah keramaian sedang dia tidak tahu apakah musuhnya juga berada di sana atau tidak.


Begitu sulit untuk menangkap penjahat berkerah putih yang selalu berlindung dengan senyum palsu dan perkataan yang sopan dengan gaya yang elegan.


Tanpa terasa mobil yang dikendarai Arya telah sampai di kediaman mewah Raka. Arya kembali melajukan mobilnya menuju kantor setelah Raka masuk kedalam rumahnya. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Arya karena tuannya kini lebih sering pulang cepat dan melimpahkan banyak pekerjaan padanya.


Raka langsung menaiki tangga menuju kamarnya setelah mendapati istrinya tidak menyambut kepulangannya seperti biasa. Dia menyadari hari ini pulang dua jam lebih cepat dari hari biasanya. Mungkin Ririn sedang beristirahat di dalam kamar pikirannya.


Seperti dugaannya, ketika Raka membuka pintu kamar matanya langsung melihat Ririn sedang tertidur pulas di ranjang. Senyum terbit di bibirnya melihat wajah polos istrinya yang sedang terlelap.


Raka langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai berpakaian dia mendekati Ririn dan duduk di sampingnya kemudian mengecup bibir sang istri untuk membangunkannya.


Ririn mengeliat merasakan sesuatu menempel pada bibirnya. Saat dia membuka mata, hal yang pertama dia lihat wajah tampan Raka yang sedang tersenyum padanya.


Eh. Pukul berapa sekarang. Kok, dia sudah pulang ? Apa aku yang kelamaan tidur ya.


"Maaf, tidak menyambut mu pulang." ucap Ririn lirih tapi dalam hatinya begitu kegirangan karena Raka sudah ada di depannya.


Raka tersenyum, "Tidak apa-apa. Apa kau kecapean ? Tidur mu nyenyak sekali."

__ADS_1


Ririn bangun dan meregangkan otot-ototnya. "Tidak, aku hanya bosan di rumah ini tidak melakukan apa-apa." Jawab Ririn.


"Ingin melakukan sesuatu ?" Tanya Raka lembut sambil memegang rambut Ririn dan menyelipkan di belakang telinganya membuat Ririn bersemu.


Ririn mengangguk. Iya, aku mau keluar jalan jalan.


"Ayo, mau melakukan apa ? Aku temani."


"Benarkah ?" Ririn antusias mendengarkan ucapan Raka. Raka mengangguk sambil tersenyum.


"Aku mau membuat kue." Ririn begitu semangat mengatakannya dan turun dari tempat tidur, menarik tangan Raka keluar kamar.


Para pelayan sudah berbaris melihat tuan dan istrinya memasuki dapur. Sebuah kejadian langka ketika Raka menjejakkan kaki ke dapur.


"Aku tak ingin di bantu pelayan." Kata Ririn melihat Raka dengan tatapan memohon.


"Kalian dengar apa yang dia katakan." Ucapan Raka kepada pelayan merupakan perintah. Para pelayan mundur teratur meninggalkan dapur.


Ririn tersenyum dan mulai mengeluarkan bahan bahan yang di perlukan. Raka hanya senyum memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya. Ririn berjalan ke sana kemari dan berputar terlihat sangat seksi di matanya.


Raka membalikkan badan Ririn menghadap ke padanya, kemudian dia memakaikan apron.


"Kau begitu bersemangat sehingga melupakan ini." Bisik Raka yang saat ini sangat dekat dengan Ririn karena dia sedang mengikat tali apron di belakang Ririn membuat jantung Ririn berdebar-debar.


Tubuh Ririn seakan membeku mendapatkan perlakuan manis dari Raka. Wajah Ririn seperti terbakar karena malu jika ada pelayan yang melihat mereka. Ririn gelagapan menjadi salah tingkah sendiri, hilang fokusnya ingin melakukan apa.


Raka hanya senyum memperhatikan tingkah Ririn yang malu-malu.


"Sini, ku bantu." Raka mengambil wadah adonan dari tangan Ririn.


"Terima kasih" ucap Ririn sambil menunduk, tak berani menatap wajah Raka.


Raka membantu Ririn sampai selesai. Kini adonan kue tinggal di masukkan ke oven.


"Ok, selesai. Tinggal tunggu kuenya matang baru bisa di makan." Ririn tersenyum puas setelah bisa melakukan sesuatu yang diinginkannya.


"Berapa lama ?" Raka melirik ke oven.


"Satu jam lagi." jawab Ririn.


"Masih lama. Ayo, kembali ke kamar, di sini gerah." Ajak Raka.

__ADS_1


Setelah menitipkan kuenya kepada pelayan Ririn dan Raka kembali ke kamar mereka.


"Apa kau senang ?" Tanya Raka setelah tiba di kamar.


"Tentu saja. Terima kasih sudah mengizinkan ku memakai dapur mu." Jawab Ririn berterima kasih dengan tulus.


"Hei, apa cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih ?" Raka menarik tangan Ririn yang akan menuju kamar mandi. Melihat Ririn dengan senyum smirknya.


Huh ? Ririn bingung.


"Aku tadi sudah membantu mu membuat kue, sekarang kau harus membantu ku mandi." Raka menyeringai mengatakannya. Kemudian dia langsung mengangkat tubuh Ririn masuk ke kamar mandi.


Dasar licik. Aku tidak pernah meminta mu membantu ku.


***


Raka baru saja selesai dengan urusannya. Ririn harus membalas kebaikan Raka siang tadi sampai di atas tempat tidur. Sudah hampir memasuki tengah malam, Raka berbaring di samping Ririn membetulkan nafasnya yang masih memburu.


"Semalam sepertinya aku mendengar kau mengatakan sesuatu kepada ku. Bisakah kau mengulanginya lagi ?" Tanya Ririn.


Raka membuka matanya, melihat wajah Ririn yang sedang berada di pelukannya.


"Perkataan yang mana ? Memangnya aku mengatakan apa ?"


"Semalam kau mengatakannya sebelum tidur." Terang Ririn.


"Aku tidak mengatakan apa-apa semalam." Raka sengaja pura pura tidak mengingatnya dan itu membuat Ririn kesal.


"Sudahlah, lupakan saja." Ririn menggeser tubuhnya menjauh dari Raka dan berbaring memunggunginya.


Raka tersenyum melihat Ririn yang sedang kesal. Kemudian die mendekatkan tubuhnya memeluk Ririn dari belakang dan berbisik di telinganya.


"Aku mencintai mu."


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . . .


__ADS_2