
"Tuan tolong jangan berbuat keributan di sini." Bukannya takut dengan kemarahan Arya, perawat itu malah balik marah kepadanya.
Perawat itu menyadari jika laki-laki didepannya sedang merasa kesakitan.
"Ayo, ikut saya." perintah si perawat langsung menerobos tubuh Arya yang sedang berdiri di depan pintu ruangan dokter.
Arya tidak percaya jika wanita bertubuh imut itu berani memerintah dirinya. Tapi Arya menurut juga ikut masuk kedalam.
"Berbaringlah di sana." perintahnya lagi tanpa melihat kearah Arya. Wanita itu sibuk mengeluarkan beberapa barang dari sebuah lemari kaca.
Melihat Arya yang masih tegak berdiri, wanita itu mendorong tubuh Arya hingga terduduk di ranjang pasien dibelakangnya. Kemudian dia merebahkan tubuh tinggi tegap itu sehingga berbaring. Arya masih bengong melihat apa yang wanita itu lakukan terhadapnya.
Berani-beraninya dia memerintah ku dan menyentuhku. Batin Arya
"Pejamkan mata anda !" Perawat itu menyalakan lampu sorot. Lalu tangannya mengambil sebuah kapas dan mulai membersihkan luka di wajah Arya.
"Sudah selesai. Tidak perlu menunggu dokter hanya untuk mengobati luka begini. Perawat biasa juga bisa melakukannya karena ini adalah pekerjaan kami sehari-hari." Ucap perawat itu sambil mengemasi barang-barangnya.
"Lukanya jangan terkena air dulu. Minumlah obat pereda nyeri dan antibiotik agar lukanya tidak infeksi." Lanjut perawat itu sebelum berlalu meninggalkan Arya di depan ruangan tersebut.
Arya masih diam di tempat melihat perawat wanita itu yang semakin menjauh. Sebuah sapaan akhirnya mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Maaf. Tuan mencari saya ?" Tanya seorang dokter laki-laki kepada Arya. Hampir terbelalak dokter itu ketika mengenali siapa gerangan yang mencarinya tadi.
"Apa dia assisten baru anda ?" tanya Arya dingin.
"Maaf, tuan." Dokter itu merasakan aura kemarahan di sekelilingnya.
***
Gedung Wiratama Grup
"Bagaimana perkembangannya ?" tanya Raka dengan wajah datarnya.
"Mereka tidak meninggalkan jejak sama sekali." Jawab Arya jujur. Orang-orangnya menemukan kalung berlian yang dipakai Ririn sudah hancur, sehingga rekaman dan suara di dalamnya tidak begitu jelas.
Raka mengepalkan tangan mendengarnya. Walaupun tidak meninggalkan bukti apapun tapi Raka yakin ini adalah perbuatan Tuan Bagaskara.
"Kau sudah menyelidiki orang tua itu ?" tanya Raka lagi.
"Sudah, tuan. Tuan Bagaskara sedang berada di Amerika selama seminggu ini untuk urusan bisnis."
"Terus awasi dia !" perintah Raka.
__ADS_1
"Baik, tuan." Arya kemudian meninggalkan ruangan.
Tak lama kemudian David masuk keruangan Raka. "Ini laporannya." David meletakkan sebuah laporan di hadapan Raka.
Raka segera memeriksanya laporan yang dia minta kepada David. Itu adalah laporan tentang perusahaan Tuan Bagaskara. Semakin hari Raka semakin menggila untuk menghancurkan perusahaan milik Tuan Bagaskara tersebut.
"Tidak baik membalas dendam. Itu hanya akan merusak hidup mu sendiri." ujar David. Sebagai seorang teman David tidak ingin melihat Raka terlalu larut dalam dendamnya sehingga dia mengabaikan urusan lainnya.
"Sudah lebih dari sepuluh tahun dia merusak hidupku dan sekarang dia menculik istriku. Orang seperti itu tak akan pernah berhenti selagi tidak dihancurkan. Bila perlu dia mati sekalian agar tidak menyusahkan banyak orang."
David hanya diam mendengarkan ucapan Raka. Memang sulit untuk menerima kenyataan bahwa orang terdekat kita adalah orang yang menghancurkan hidup kita selama ini, apa lagi untuk memaafkannya.
David dapat merasakan bagaimana perasaan Raka saat ini. Ditinggal oleh orang-orang tersayangnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung. . . .