
Raka sudah sejak tadi terbangun. Namun ia enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Raka masih betah memandang wajah cantik Ririn yang masih terlelap di sampingnya. Raka bahkan sudah mengirim pesan kepada Arya untuk membatalkan semua jadwalnya pagi ini atau mungkin sampai siang nanti.
Matahari saat ini sudah semakin meninggi. Menandakan pagi mulai berangsur siang. Ririn mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. Ia merasakan tubuhnya seperti remuk semua. Sebuah pemandangan yang tidak asing baginya. Ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Hah. Mengapa aku ada di sini ?
Ririn menyadari saat ini ia sedang berada di kamar suaminya. Ada perasaan senang dalam hatinya bisa kembali ke sini. Tapi, tiba-tiba Ririn teringat sesuatu. Ia segera mengangkat selimut dan mendapati tubuhnya polos tanpa pakaian.
Apa yang terjadi ?
Dengan cepat Ririn beranjak dari tempat tidur, menuju lemari, mengambil pakaian sembarang dan memakainya. Ia harus segera pergi dari sini.
Tangan Ririn sudah mau mengapai gagang pintu tapi tiba-tiba sebelah lagi tangannya di tahan dari belakang.
"Mau kemana ?" tanya Raka lembut.
__ADS_1
"Lepaskan aku." Ririn meronta, mencoba menarik tangannya dari genggaman Raka tapi laki-laki itu semakin kuat menahannya.
"Jangan pergi. Kita harus bicara." ucap Raka lagi.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan !" Ririn ingin membuka pintu kamar tapi Raka segera menutup dan menguncinya dari dalam lalu kunci itu di buangnya sembarang .
Ririn berlari ke arah balkon untuk mencari jalan keluar.
"Ana, tunggu. Izinkan aku menjelaskan semuanya. Tolong beri aku sedikit waktu." Raka memohon sambil mendekat.
"Kau harus mendengarkan penjelasan ku dulu. Biar semuanya jelas. Kau hanya salah paham. Tolonglah, Ana. Beri aku kesempatan." rayu Raka mencoba berjalan mendekati wanita itu.
"Stop di situ !" Ririn kemudian nekat melangkah ke atas pembatas balkon.
"Ana, jangan lakukan itu. Bahaya !" teriak Raka panik, takut istrinya akan jatuh dari sana.
__ADS_1
"Biarkan aku pergi jika tidak tidak aku akan lompat." ancam Ririn. Sebenarnya ia juga takut jatuh tapi jika tidak nekat begini Raka pasti tidak akan membiarkan ia pergi.
"Baik, baik. Pergilah. Aku tidak akan menahan mu. Tolong turunlah dari sana." Raka memilih mengalah dari pada sesuatu terjadi pada wanita yang sangat ia cintai.
"Menjauh lah sana." usir Ririn membuat Raka mundur beberapa langkah.
Kini kakinya menjadi gemetaran karena takut. Hilang sudah keberaniannya seperti saat memanjat pagar balkon tadi. Ririn berpegangan pada tiang untuk turun dari sana. Tapi karena kaki nya bergetar hebat membuatnya tersandung sehingga ia hilang keseimbangan. Ririn pun tidak mampu menahan tubuhnya, tangannya terlepas dari tiang.
"Ana !"
Raka menjerit, segera berlari ingin membantu Ririn, tapi sayangnya ia terlambat. Tubuh wanita itu sudah melayang ke bawah. Raka melihat ke bawah, terlihat dua orang laki-laki dan perempuan tukang kebun sudah ada di bawah, mendekap Ririn yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ana, sadarlah." Raka menepuk-nepuk pipi Ririn yang berada dalam pangkuannya.
Raka segera menggendong tubuh istrinya membawa ke dalam mobil yang sudah di siapkan untuk membawa Ririn ke rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Raka terus berusaha membangunkan Ririn sambil terus menangis. Ia sungguh tidak menyangka wanita ini begitu nekat. Raka merasa menyesal telah membawa paksa Ririn kembali ke rumahnya.