Pertemuan Kembali

Pertemuan Kembali
Jalan Jalan Sore


__ADS_3

Ririn duduk manis di sofa, memainkan ponselnya sambil menunggu Raka menyelesaikan pekerjaannya. Setelah satu jam menunggu akhirnya Raka beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan kearah istrinya.


"Ayo kita pulang." Ririn mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Raka. Ririn tersenyum melihat Raka sudah berdiri didepannya.


"Sudah selesai ?" tanya Ririn.


Raka mengganguk "Maaf" ucap Raka lembut sambil mencium pucuk kepala Ririn.


Hati Ririn menghangat, hilang sudah kekesalan dalam hatinya karena Raka sudah membuatnya kelelahan tadi. Sikap Raka sudah banyak berubah, tidak seperti Raka yang dulu, yang dingin dan cuek.


Raka menggandeng tangan Ririn keluar dari ruangan, sesekali dia mengecup tangan itu dengan lembut.


Di depan pintu utama Arya sudah berdiri membukakan pintu mobil. Setelah Raka dan Ririn memasuki mobil, Arya melajukan mobilnya meninggalkan gedung Wiratama Grup.


Sepertinya tadi tidak melewati jalan ini ? Ririn melihat jalanan yang sedang dilaluinya.


"Kita mau kemana ?" Tanya Ririn melihat kearah Raka.


"Ke suatu tempat." Raka menjawab sambil tersenyum misterius.


"Tempat apa ?" Ririn yang jadi penasaran dengan ucapan Raka terus saja bertanya.


"Nanti juga kau akan tahu."


"Tapi aku mau tahu sekarang." Ririn mulai kesal dan memukuli lengan Raka.


"Sebentar lagi akan sampai."


Ririn menghentikan pukulannya ketika mendengar ucapan Raka. Dia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Sekarang mobil yang mereka naiki melewati jalanan kecil di bawah pepohonan rindang. Beberapa menit kemudian Arya memberhentikan mobil dan membukakan pintu mobil untuk mereka.


Ririn membelalakkan matanya ketika baru saja sampai. Di depannya merupakan sebuah danau buatan yang sangat indah. Ririn baru mengetahui ada tempat seindah ini di tengah keramaian kota dan hanya berjarak beberapa puluh meter dari jalan raya. Bahkan hingar bingar bunyi kendaraan masih terdengar dari sini.


Ririn tersenyum melihat kilauan warna keemasan langit sore hari yang dipancarkan oleh air danau.


"Kau menyukainya ?" Bisik Raka sambil memeluk Ririn dari belakang.

__ADS_1


Ririn mengangguk, senyuman tak surut dari bibirnya. Untuk beberapa saat tadi dia hampir lupa dengan keberadaan Raka yang sudah membawanya ke sini karena begitu terpesona dengan keindahan alam ini.


Raka membawa Ririn duduk di kursi taman di depan danau. Raka merasa bahagia karena berhasil membuat Ririn tersenyum dan bahagia.


Raka sudah mempersiapkan ini sejak semalam. Dia memerintahkan pengawalnya untuk mensterilkan tempat ini dan menyiagakan pengamanan di setiap penjuru dan mereka harus memakai pakaian biasa sesuai dengan peran penyamaran masing-masing. Ada yang berperan sebagai penjual es krim, nelayan, tukang foto dan ada juga yang menjadi pengunjung berpasangan sebagai sepasang kekasih yang diperankan oleh pengawal laki laki dan perempuan.


Raka melakukan ini semua karena ia tahu Ririn tak akan nyaman bila ada pengawal di sekelilingnya ketika ia jalan-jalan.


"Bisakah setiap hari kita begini ?" Ririn menyandarkan kepalanya di lengan Raka.


"Bisa, tapi tidak untuk sekarang."


Ririn mengangkat kepalanya melihat wajah Raka "Kenapa ?"


"Sekarang aku masih banyak pekerjaan dan harus segera diselesaikan." Jawab Raka. Tak mungkin dia mengatakan jika saat ini masih ada musuh yang mengincarnya, mungkin bisa saja mencelakainya dan Ririn.


Ririn kembali menyandarkan kepalanya "Sampai kapan ?" tanyanya lagi.


Raka tidak langsung menjawabnya dan malah balik bertanya "Apa kau takut tempat ini akan berubah atau menghilang ? Aku akan membeli tempat ini khusus untuk mu agar kita bisa melihatnya setiap hari sampai kita tua nanti."


Aku tidak takut tempat ini akan berubah atau menghilang sekalipun, tapi aku takut akan kehilangan dirimu.


Ririn menghela napasnya memikirkan ketakutan dalam hatinya. Musuh Raka sangat dekat dengannya. Bisa saja orang tua itu melakukan sesuatu terhadap Raka. Sejujurnya Ririn belum siap untuk kehilangan suaminya. Mereka baru saja merasakan hidup bahagia.


Ririn dan Raka menghabiskan sore hari ini di tepi danau menyaksikan matahari terbenam. Mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang berpacaran. Duduk berpelukan dan entah apa yang mereka bicarakan membuat Ririn sesekali tertawa dan menggoda Raka.


Mereka pulang setelah hari mulai gelap. Ririn baru menyadari sepertinya ada yang berbeda.


"Dimana para pengawal mu ?" Ririn melihat sekeliling mereka seperti mencari keberadaan para pengawal yang biasanya berada di sekeliling Raka.


"Bukannya kau senang jika mereka tidak di sini ?" Ririn mengangguk menjawab pertanyaan Raka.


"Tapi, bagaimana dengan mu ?"


"Sudahlah, jangan pikirkan. Aku tahu apa yang harus aku lakukan." Raka mengiring Ririn untuk masuk kedalam mobil.

__ADS_1


***


Setelah makan malam, Ririn terkejut mendapati Raka sudah berada di dalam kamar, biasanya Raka akan langsung menuju ke ruang kerjanya.


Ririn menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Matanya sudah mengantuk karena kelelahan digerayangi suaminya malam dan siang.


Raka merasa kesal melihat Ririn yang sama sekali tidak peka akan kehadiran dirinya. Raka mendekat dan membalikkan tubuh Ririn menghadapnya.


"Kau melupakan sesuatu ?" Tanya Raka.


Dengan setengah sadar Ririn menjawab "Hah, apa ?"


"Kau belum berterima kasih kepada ku karena telah membawamu jalan jalan tadi."


"Oh, iya. Terima kasih." Kemudian Ririn memejamkan matanya lagi.


"Hei, tidak cukup hanya mengucapkannya." Raka langsung mencium bibir Ririn membuat Ririn tersadar kembali. Hilang sudah rasa kantuknya.


Ririn baru menyadari bahwa Raka akan selalu meminta tubuhnya sebagai bayaran untuk kesenangan yang sudah diberikannya. Ririn tidak bisa melawan dan hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Raka padanya.


"Kau mau makan siang bersama lagi besok di kantor ?" Tanya Raka lembut, semakin mengeratkan pelukannya di bawah selimut.


"Tidak, aku di rumah saja mau membuat kue untuk mu." Ririn menjawab cepat dengan memberikan alasan yang masuk akal sebelum Raka curiga.


Aku tidak akan datang ke kantor mu dalam waktu dekat ini. Bisa bisa aku mati kering jika kau menggerayangiku siang malam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. . . .


__ADS_2